Suara.com - PT Indofarma Tbk (INAF), perusahaan farmasi BUMN, kembali membukukan kerugian pada semester I-2024. Kondisi keuangan perusahaan semakin memprihatinkan dengan defisit modal yang terus membesar.
Berdasarkan laporan keuangannya yang dikutip Jumat (2/8/2024) INAF mencatatkan kerugian bersih sebesar Rp101,93 miliar pada semester I 2024, turun 15,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dampaknya, defisit atau akumulasi rugi kian menumpuk 7,2 persen dibanding akhir tahun 2023 menyentuh Rp1,513 triliun pada akhir Juni 2024.
Kondisi ini membuat defisiensi modal membengkak menjadi Rp906,07 miliar. Kondisi ini mengindikasikan bahwa kewajiban perusahaan melebihi total asetnya.
Direktur Utama INAF, Yeliandriani melaporkan penjualan bersih Rp109,71 miliar sepanjang 6 bulan tahun 2024. Hasil itu turun dibanding periode sama tahun lalu yang mencapai Rp363,96 miliar.
Pemicunya, penjualan produk ethical ke pasar lokal anjlok secara tahunan tersisa Rp48,036 miliar pada akhir Juni 2024. Senasib, penjualan alat kesehatan, jasa klinik dan lainnya amblas 50,8 persen secara tahunan sisa Rp8,335 miliar.
Bahkan emiten farmasi BUMN tak lagi membukukan pendapatan dari penjualan produk cepat laku atau fast moving consume goods (FMCG) pada semester I 2024. Tapi penjualan vaksi naik 40,1 persen secara tahunan menjadi Rp46,118 miliar pada akhir Juni 2024.
Walau beban pokok penjualan dapat ditekan sedalam 69,1 persen secara tahunan menjadi Rp108,38 miliar pada semester I 2024. Tapi laba kotor tetap terpangkas 90,2 persen secara tahunan sisa Rp1,3 miliar.
Walau beban penjualan menyusut 42,8 persen secara tahunan menjadi Rp29,913 miliar. Lalu, beban umum dan administrasi turun 3303 persen secara tahunan menjadi Rp45,4 miliar. Tapi INAF tetap mengalami rugi usaha Rp78,8 53 miliar.
Baca Juga: Beban Bunga Bank Bengkak, Laba Produsen Indomie Ambles 30 Persen
Data tersebut tersaji dalam laporan keuangan semester I 2024 tanpa audit INAF yang diunggah pada laman BEI dikutip Jumat 2 Agustus 2024.
Sementara itu, jumlah kewajiban bertambah 10,4 persen dibanding akhir tahun 2023 menjadi Rp1,727 triliun pada akhir Juni 2024.
Sementara itu, Bio Farma selaku induk usaha telah menyatakan mendukung upaya untuk tetap dapat menjalankan kegiatan usahanya dan memenuhi kewajiban keuangannya pada saat jatuh tempo.
Patut dicermati, kas bersih digunakan untuk aktivitas operasi sedalam Rp29,234 miliar sepanjang 6 bulan pertama tahun 2024.
Pasalnya, penerimaan dari pelanggan hanya Rp99,9 miliar, tapi pada saat yang sama pembayaran kas kepada pemasok dan karyawan mencapai Rp127, 02 miliar. Ditambah pembayaran bunga Rp2,1 miliar.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- 5 Motor Irit tapi Bukan Honda BeAT, Mesin Awet untuk Jangka Panjang, Cocok untuk Pejuang Nafkah
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- Bos Go Ahead Eagles: Dean James Masih Gunakan Paspor Belanda!
Pilihan
-
Iran Angkat Mohammad Bagher Zolghadr sebagai Pengganti Ali Larijani
-
Heboh Wanita Muda Hendak Akhiri Hidup di Depan Istana Merdeka, Untung Ketahuan Paspampres
-
Kasus Dean James Memanas, Pundit Belanda: Efeknya Bisa Guncang Eredivisie
-
BTS ARIRANG Pecahkan Rekor Netflix! Comeback Global Tak Terkalahkan di 77 Negara
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
Terkini
-
Seluruh Rest Area di Tol Cipali Akan Berlakukan Sistem Buka Tutup
-
Biang Macet Saat Mudik Terungkap! 21 Ribu Kehabisan Saldo E-Toll
-
Jangan Lupa! Besok Pasar Saham RI Kembali Dibuka, IHSG Diproyeksi Anjlok
-
Gegara Selat Hormuz Tutup, Harga BBM di AS Tembus Rp 68.000
-
BRILink Agen Bukukan Transaksi Rp1.746 Triliun: Bukti BRI Percepat Inklusi Keuangan Nasional
-
Aturan Baru Purbaya: Jatim Jadi Provinsi Terbanyak Dapat Jatah Hasil Cukai Tembakau
-
Ekonomi India Mulai Terpukul, Konflik Timur Tengah Bikin Aktivitas Bisnis Melambat
-
7.131 Bus Ditemukan Tak Layak Jalan Saat Mudik Lebaran
-
Arus Balik Lebaran, KAI Catat 253 Ribu Kursi Masih Tersedia hingga Awal April
-
Arus Balik Mulai Padat, Jumlah Penumpang Kereta ke Jakarta Lampaui Keberangkatan