Suara.com - Pemerintah kini mulai mengawasi pemanfaatan air tanah di Indonesia. Hal ini setelah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyederhanakan proses perizinan penggunaan air tanah.
Tujuannya untuk demi memastikan pengelolaan yang efisien dan berkelanjutan. Regulasi ini tercantum dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 14 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Izin Pengusahaan Air Tanah dan Persetujuan Air Tanah.
"Dengan adanya launching perizinan air tanah adalah awal dari kita melakukan penataan dan juga untuk selanjutnya bagaimana pemanfaatan air tanah, baik untuk kebutuhan pembangunan, kebutuhan masyarakat, dan juga keberlanjutan lingkungan ke depan bisa terjaga dengan baik," ujar Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung di Kantor Kementerian ESDM Jakarta, yang dikutip, Kamis (9/1/2025).
Proses perizinan kini lebih mudah berkat integrasi ke dalam sistem Online Single Submission (OSS). Jumlah persyaratan yang sebelumnya mencapai 13 tahap kini dipangkas menjadi hanya 3 tahap saja.
Yuliot menuturkan, penyederhanaan ini bertujuan untuk mempermudah pelaku usaha tertentu dalam mengajukan izin, tanpa mengorbankan keberlanjutan sumber daya air.
Beberapa industri yang diwajibkan untuk mengajukan izin penggunaan air tanah diantaranya, industri makanan, kesehatan, penerbangan, pertanian, kelautan dan perikanan
"Jadi untuk industri makanan, industri kesehatan, untuk industri penerbangan, pertanian, kelautan, dan perikanan itu memerlukan izin penggunaan air tanah," kata dia.
Namun, tidak semua pihak diwajibkan untuk memiliki izin. Beberapa kategori yang tidak memerlukan izin penggunaan air tanah meliputi, pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari dengan penggunaan kurang dari 100 meter kubik per bulan per kepala keluarga, instansi pemerintah, rumah ibadah, pertanian rakyat yang bukan kegiatan usaha, pemanfaatan air ikutan dari kegiatan eksplorasi dan eksploitasi pertambangan, minyak dan gas bumi, atau panas bumi.
Meskipun perizinan dipermudah, pemerintah tetap mengedepankan pengawasan ketat untuk mencegah eksploitasi air tanah yang berlebihan. Kondisi lingkungan dan cadangan air tanah akan menjadi pertimbangan utama sebelum izin diberikan.
Baca Juga: Klarifikasi Kementerian ESDM Terkait Dugaan Maladministrasi RKAB Tambang 2021-2024
"Jadi kita akan menyesuaikan dengan kondisi lingkungan, termasuk cadangan air tanahnya, kemudian kebutuhan pelaku usahanya. Izinnya disesuaikan supaya tidak dilakukan eksploitasi berlebihan," beber Yuliot.
Selain itu, pemerintah juga akan memasang meteran untuk memantau penggunaan air tanah.
"Pada saat pemanfaatan itu berlebih, nanti kita juga ada pengawasan khusus untuk itu," pungkas dia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sejumlah Harga BBM Naik Hari Ini, JK: Tidak Bisa Tahan Lagi Negara Ini, Keuangannya Defisit
- 10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB
- 5 Tinted Sunscreen yang Bagus untuk Flek Hitam dan Melasma
- 7 Bedak Compact Powder Anti Luntur Bikin Glowing Seharian, Cocok Buat Kegiatan Outdoor
- Kecewa Warga Kaltim hingga Demo 21 April, Akademisi Ingatkan soal Kejadian Pati
Pilihan
-
Gempa 7,5 M Guncang Jepang, Peringatan Tsunami hingga 3 Meter Dikeluarkan
-
Respons Santai Jokowi Soal Pernyataan JK: Saya Orang Kampung!
-
Pemainnya Jadi Korban Tendangan Kungfu, Bos Dewa United Tempuh Jalur Hukum
-
Penembakan Massal Louisiana Tewaskan 8 Anak, Tragedi Paling Berdarah Sejak Awal Tahun 2024
-
Viral Tendangan Kungfu ke Lawan, Eks Timnas Indonesia U-17 Terancam Sanksi Berat
Terkini
-
Xi Jinping: Selat Hormuz Harus Dibuka!
-
Melalui FLDP 2026, TelkomGroup Perkuat Pengembangan Kepemimpinan Strategis
-
Pembangunan Kopdes Merah Putih Jauh dari Target, Menteri Zulkifli Keluhkan Ketersediaan Lahan
-
Pengusaha Warteg Khawatir Gas LPG 3Kg Langka
-
PIS: 94 Persen Kru Kapal Pertamina Adalah WNI
-
Naiknya Harga BBM Nonsubsidi Berdampak Terbatas Terhadap Inflasi
-
Ekonomi Indonesia Masih Bisa Tumbuh di atas 5 Persen di Tengah Gejolak Global
-
Indonesia Bidik Swasembada 8 Pangan Strategis di 2026
-
MBG Sampai ke Perbatasan IndonesiaTimor Leste, Jadi Penggerak Ekonomi Lokal
-
Jumlah Lapor SPT Tahunan Tembus 11,43 Juta Orang, Aktivasi Coretax 18,1 Juta