- Konsumsi listrik per kapita tahun 2025 mencapai 1.584 kWh, melampaui target sebab pertumbuhan ekonomi dan program kelistrikan terealisasi.
- Kementerian ESDM mencatat kapasitas listrik terpasang tahun 2025 naik menjadi 107,51 GW, meningkat 6,8 persen dari tahun sebelumnya.
- Realisasi program listrik desa (Lisdes) menjangkau 1.516 lokasi, sementara BPBL melayani 205.968 rumah tangga sepanjang 2025.
Suara.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatatkan peningkatan konsumsi listrik nasional.
Tercatat konsumsi listrik per kapita pada 2025 mencapai 1.584 kilowatt hour (kWh) atau 108,2 persen dari target yang ditetapkan sebesar 1.464 kWh. Angka itu meningkat dibanding 2024 yang tercatat sebesar 1.411 kWh.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadilia, menilai peningkatan menggambarkan adanya pertumbuhan ekonomi di tengah masyarakat, dan terealisasinya sejumlah program kelistrikan.
"Jadi konsumsi kita naik. Kalau konsumsi naik itu artinya terjadi pertumbuhan permintaan, dan itu kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi. Dan yang kedua adalah terjadi juga pemerataan," kata Bahlil di Kementerian ESDM, Jakarta yang dikutip, Jumat (9/1/2026).
Bersamaan dengan peningkatan konsumsi, Kementerian ESDM juga mencatatkan kenaikan kapasitas listrik terpasang.
Tercatat kapasitas terpasang pada 2025 sebesar 107,51 GigaWatt (GW), meningkat 6,8 persen atau 7 GW dibanding 2024 yang tercatat sebesar 100,65 GW.
Sementara untuk realisasi program listrik desa atau Lisdes telah menjangkau 77.616 pelanggan di 1.516 lokasi sepanjang 2025.
Adapun program bantuan pasang baru listrik atau BPBL per 31 Desember 2025, telah menjangkau 205.968 rumah tangga.
Bahlil pun menyebut, dengan realisasi Lisdes dan BPBL merupakan bentuk kehadiran negara bagi masyarakat yang belum teraliri listrik.
Baca Juga: Beban Impor LPG Capai 8,4 Juta Ton, DME Diharapkan Jadi Pengganti Efektif
"Sesuai arahan dari Bapak Presiden Prabowo bahwa sampai dengan 2029-2030 semua desa-desa atau dusun-dusun yang jumlahnya 5.700 dan 4.400 itu semua listriknya harus sudah ada. Kehadiran listrik itu sebagai keadilan sosial, dan negara harus hadir," jelasnya.
Berita Terkait
-
Kelanjutan Proyek PLTN Tinggal Tunggu Perpres dari Prabowo
-
Penggunaan SPKLU PLN Naik Hampir 500 Persen Saat Libur Nataru
-
Genjot Lifting Migas, Prabowo Perintahkan Bahlil Segera Lelang 75 Wilayah Kerja
-
DME Batubara Groundbreaking Januari, Bahlil Minta Waktu Finalisasi dengan Danantara
-
Diskon Listrik Awal Tahun, Bahlil: Belum Ada Pembahasan!
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas yang Nyaman untuk Lansia, Legroom Lega dan Irit BBM
- 7 Mobil Bekas untuk Grab, Mulai Rp50 Jutaan: Nyaman, Irit dan Tahan Lama!
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
Pilihan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
-
Purbaya Merasa "Tertampar" Usai Kena Sindir Prabowo
-
Darurat Judi Online! OJK Blokir 31.382 Rekening Bank, Angka Terus Meroket di Awal 2026
Terkini
-
Swasembada Beras Sudah Sejak 2018, Apa yang Mau Dirayakan?
-
Kemenperin Adopsi Sistem Pendidikan Vokasi Swiss untuk Kembangkan SDM
-
Dukung Ekonomi Kerakyatan, Bank Mandiri Salurkan KUR Rp 41 Triliun hingga Desember 2025
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kementerian PU Percepat Pembangunan Huntara di Aceh Tamiang, 7 Blok Rampung untuk 84 KK
-
Purbaya Yakin MBG Paling Cepat Habiskan Anggaran di Awal 2026
-
Beban Impor LPG Capai 8,4 Juta Ton, DME Diharapkan Jadi Pengganti Efektif
-
Defisit APBN 2025 Hampir 3 Persen, Purbaya Singgung Danantara hingga Penurunan Pajak
-
Target IHSG Tembus 10.000, OJK: Bukan Tak Mungkin untuk Dicapai
-
Krisis Air Bersih Jadi Rem Pemulihan Ekonomi Pascabanjir Sumatera