- Pengamat AEPI, Khudori, mempertanyakan rencana panen raya dan pengumuman swasembada pangan oleh pemerintah.
- Khudori menekankan perlunya definisi jelas mengenai swasembada untuk memudahkan evaluasi publik.
- Menurut Khudori, Indonesia telah swasembada beras karena impor 2018-2024 rata-rata hanya 3,85 persen.
Suara.com - Rencana pemerintah menggelar panen raya sekaligus pengumuman swasembada pangan dipertanyakan oleh pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori. Ia menilai swasembada beras sejatinya bukan capaian baru bagi Indonesia.
Khudori menyoroti sejak awal soal definisi swasembada yang digunakan pemerintah. Menurut dia, tanpa kejelasan makna, publik akan kesulitan menilai apakah pengumuman tersebut benar-benar mencerminkan capaian baru atau sekadar pengulangan.
Ia mempertanyakan apakah swasembada dimaknai sebagai pemenuhan 90 persen kebutuhan dalam negeri dari produksi domestik atau harus tanpa impor sama sekali.
“Lalu, apa definisi swasembada?” ucap Khudori dalam keterangannya, Jumat (9/1/2025).
Khudori juga menegaskan bahwa tanpa kejelasan definisi tersebut, sulit bagi publik melakukan evaluasi.
“Tanpa kejelasan maksud swasembada pangan dan definisi swasembada akan sulit bagi publik untuk menilai capaian,” ujarnya.
Dalam konteks beras, Khudori menyebut Indonesia sebenarnya sudah lama berada pada posisi swasembada. Ia merujuk data impor beras periode 2018–2024 yang menunjukkan porsi impor relatif kecil dibandingkan konsumsi nasional.
Menurutnya, dalam periode tersebut, impor beras rata-rata hanya sekitar 3,85 persen dari total konsumsi.
“Periode 2018-2024, impor beras (BULOG dan swasta) rerata hanya 3,85 persen dari total konsumsi,” ungkap Khudori.
Baca Juga: Implementasi Inpres 2/2025, Pembangunan Irigasi Tahap I Capai 99,93 Persen
Ia mengakui porsi impor terbesar terjadi pada 2024. Pada periode itu porsi impor terbesar, yakni 15,03% dari konsumsi, terjadi di 2024.
Namun, ia menekankan bahwa pada tahun-tahun lainnya impor beras berada di bawah 10 persen.Kondisi tersebut menjadi dasar kesimpulan Khudori bahwa Indonesia telah memenuhi kriteria swasembada beras.
“Artinya, di luar 2024 Indonesia swasembada beras,” tulisnya.
Ia menambahkan, kondisi serupa juga terjadi pada tahun berikutnya. Dengan realitas tersebut, Khudori mempertanyakan urgensi pengumuman swasembada yang kembali digelar pemerintah.
“Lalu, apakah yang seperti ini harus diumumkan?” pungkasnya.
Berita Terkait
-
Prabowo Beri Bintang Jasa Utama ke Mentan Amran, Berjuang Swasembada Pangan
-
Bamsoet: Prabowo Capai Swasembada Beras 'Gaya' Soeharto-SBY Dalam Setahun
-
Kampanye Sekian Tahun, Prabowo Konsisten Fokus pada Swasembada Pangan
-
Prabowo Umumkan Indonesia Capai Swasembada Pangan 2025
-
Dihujani Nyinyiran, Prabowo Kasih Bukti Umumkan Swasembada Pangan 2025
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas yang Nyaman untuk Lansia, Legroom Lega dan Irit BBM
- 7 Mobil Bekas untuk Grab, Mulai Rp50 Jutaan: Nyaman, Irit dan Tahan Lama!
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
Pilihan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
-
Purbaya Merasa "Tertampar" Usai Kena Sindir Prabowo
-
Darurat Judi Online! OJK Blokir 31.382 Rekening Bank, Angka Terus Meroket di Awal 2026
Terkini
-
OJK Blokir 127 Ribu Rekening Terkait Scam Senilai Rp9 Triliun
-
Bulog Gempur Aceh dengan Tambahan 50.000 Ton Beras: Amankan Pasokan Pasca-Bencana dan Sambut Ramadan
-
Kemenperin Adopsi Sistem Pendidikan Vokasi Swiss untuk Kembangkan SDM
-
Dukung Ekonomi Kerakyatan, Bank Mandiri Salurkan KUR Rp 41 Triliun hingga Desember 2025
-
Realisasi Konsumsi Listrik 2025 Tembus 108,2 Persen dari Target
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kementerian PU Percepat Pembangunan Huntara di Aceh Tamiang, 7 Blok Rampung untuk 84 KK
-
Purbaya Yakin MBG Paling Cepat Habiskan Anggaran di Awal 2026
-
Beban Impor LPG Capai 8,4 Juta Ton, DME Diharapkan Jadi Pengganti Efektif
-
Defisit APBN 2025 Hampir 3 Persen, Purbaya Singgung Danantara hingga Penurunan Pajak