Suara.com - Harga emas dunia pada terus meluncur turun, tercatat telah menyentuh level USD 3.245 per troy ounce. Penurunan harga emas dunia ini diproyeksikan akan terus berlangsung.
Pengamat Pasar Uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, harga emas masih menunjukkan tren penurunan dan berpotensi menembus level support berikutnya di USD 3.185 per troy ounce. Jika level tersebut jebol, maka harga emas dunia bisa mengarah ke level terendah secara teknikal di USD 3.150 per troy ounce.
"Kalau seandainya tembus di level USD 3.185 per troy ounce, ada kemungkinan besar support terakhir itu di USD 3.150. Itu level terendah kalau kita lihat secara teknikal,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (13/5/2025).
Ibrahim menjelaskan, penurunan harga emas saat ini disebabkan oleh sejumlah faktor global yang kompleks, mulai dari kebijakan suku bunga hingga ketegangan geopolitik.
Salah satu faktor utama adalah pernyataan dari Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) pada pekan lalu, yang mengindikasikan bahwa penurunan suku bunga masih akan tertunda cukup lama.
Hal ini terjadi di tengah tekanan politik yang meningkat, termasuk dari mantan Presiden Donald Trump, yang mengkritik keras kebijakan moneter tersebut.
Selain itu, perkembangan positif dalam tensi geopolitik juga turut menekan harga emas. Gencatan senjata antara India dan Pakistan yang dimediasi oleh Amerika Serikat dan PBB, serta kesepakatan dagang antara Amerika dan China yang menurunkan tarif impor masing-masing negara, menjadi katalis negatif bagi harga emas.
"Penurunan tarif impor dari kedua negara membuat The Fed semakin yakin untuk mempertahankan suku bunga tinggi, bahkan kemungkinan hingga 2025 tidak akan menurunkannya," kata Ibrahim.
Ia juga menyebut aksi profit-taking oleh para pelaku pasar besar (big player) turut mempercepat tekanan harga. Namun, aksi ini dinilai bersifat sementara, sambil menunggu memanasnya kembali konflik geopolitik di wilayah Eropa dan Timur Tengah.
Baca Juga: Emas Logam Mulia vs Emas Perhiasan: Pilih yang Mana di Tahun 2025?
Di Eropa, Rusia kembali melakukan serangan drone ke Ukraina setelah menolak ajakan damai dari Uni Eropa. Di Timur Tengah, ketegangan meningkat seiring dengan pernyataan Israel yang berniat menguasai penuh Jalur Gaza, yang memicu kecaman dari negara-negara Arab dan serangan balasan oleh kelompok Houthi.
Selain itu, belum adanya kepastian dari pertemuan antara Iran dan Amerika Serikat terkait program nuklir juga menambah ketidakpastian pasar. Iran bersikeras mempertahankan haknya untuk memperkaya uranium, sementara Amerika menuntut penghentian program tersebut.
Meski harga emas dunia tengah tertekan, Ibrahim tetap optimis terhadap prospek jangka menengah. Menurutnya, jika harga tidak menembus support di USD 3.150, emas berpeluang kembali menguat menuju USD 3.400.
"Investor besar saat ini tengah bersiap membeli kembali dari level terendah untuk mengincar rebound ke USD 3.400. Ini hanya tinggal menunggu momen yang tepat," kata dia.
Terus Merosot
Harga emas dunia terpantau bergerak melemah ke kisaran USD3.235 selama sesi awal perdagangan Asia pada hari Selasa.
Seperti dilansir dari FXstreet, tekanan terhadap logam mulia ini terjadi seiring menguatnya Dolar AS (USD), meningkatnya imbal hasil obligasi AS, dan membaiknya sentimen pasar menyusul kesepakatan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok.
Logam kuning yang biasanya menjadi pilihan investor sebagai aset safe haven terlihat tertekan di tengah penurunan ketegangan dagang antara dua ekonomi terbesar dunia. AS dan China dilaporkan mencapai kesepakatan sementara untuk mengurangi tarif yang telah memicu ketidakpastian global selama beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan kesepakatan tersebut, Amerika Serikat akan memangkas tarif tambahan terhadap impor asal China dari 145 perse menjadi 30 pesen, sementara Tiongkok akan menurunkan bea masuk atas impor dari AS dari 125 persen menjadi 10 persen. Kebijakan tarif yang baru ini akan berlaku selama 90 hari sebagai bagian dari uji coba normalisasi hubungan dagang kedua negara.
"Menurunnya ketegangan antara Tiongkok dan AS mengurangi permintaan terhadap aset safe haven seperti emas," ujar Giovanni Staunovo, analis komoditas di UBS, bank asal Swiss sekaligus salah satu penjernih emas batangan terkemuka di London.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dari Koruptor Kembali ke Rakyat: Aset Rp16,39 Miliar Kini Disulap Jadi Sekolah hingga Taman di Jabar
- Teman Sentil Taqy Malik Ambil Untung Besar dari Wakaf Alquran di Tanah Suci: Jangan Serakah!
- HP Bagus Minimal RAM Berapa? Ini 4 Rekomendasi di Kelas Entry Level
- Simulasi TKA: 15 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Bangun Ruang dan Statistika
- Link Download 40 Poster Ramadhan 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Edit
Pilihan
-
Opsen Pajak Bikin Resah, Beban Baru Pemilik Motor dan Mobil di Jateng
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
-
Kabar Baik dari Elkan Baggott untuk Timnas Indonesia
-
Jaminan Kesehatan Dicabut, Ribuan Warga Miskin Magelang Tercekik Cemas: Bagaimana Jika Saya Sakit?
-
Lagu "Cita-citaku (Ga Jadi Polisi)" Milik Gandhi Sehat Ditarik dari Peredaran, Ada Apa?
Terkini
-
Profil PT Hillcon Tbk (HILL), Harga Sahamnya Anjlok Parah Usai Gugatan PKPU
-
Harga Emas dan Perak Menguat, Sinyal Penguatan Jangka Panjang?
-
Saham BUMI Diborong Lagi, Target Harganya Bisa Tembus Level Rp500?
-
Eks Bos GOTO Resmi Masuk Jajaran MGLV, Bakal Masuk Sektor Teknologi?
-
Bocoran Calon Anggota Dewan Komisioner OJK, Dari Internal?
-
Riza Chalid Punya Anak Berapa? Putranya Kini Terancam Bui 18 Tahun
-
Emiten WTON Masuk Daftar 13% Perusahaan Top Konstruksi Dunia
-
BI Siapkan Rp 185,6 Triliun, Begini Cara Tukar Uang Lebaran
-
Aturan WFA Libur Nyepi dan Idul Fitri 1447 H, Perusahaan Diminta Ikuti Regulasi
-
Buyback Jadi Daya Tarik, Emas Tak Sekadar Aksesori tapi Instrumen Aman