Suara.com - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), terbang tinggi pada pembukaan di perdagangan, Rabu, 14 Mei 2025. Pada pembukaan IHSG menguat ke level 6.915.
Mengutip data RTI Business, pada pukul 09/20 WIB, IHSG terus bergera di zona hijau ke level 6.946 atau naik 113,5 poin, secara presentase naik 1,66 persen.
Pada perdagangan pada waktu itu, sebanyak 5,41 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp3,84 triliun, serta frekuensi sebanyak 254,4 ribu kali.
Dalam perdagangan di waktu tersebut, sebanyak 345 saham bergerak naik, sedangkan 155 saham mengalami penurunan, dan 165 saham tidak mengalami pergerakan.
Proyeksi Hari Ini
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang mengalami technical rebound pada perdagangan, Rabu, 14 Mei 2025.
Hal ini seiring, dengan menguatnya sentimen global yang dipicu oleh kesepakatan perdagangan sementara antara Amerika Serikat dan China, serta penguatan saham-saham teknologi di Wall Street.
"IHSG berpotensi menguat secara teknikal hari ini, didorong sentimen positif dari pasar global, terutama kesepakatan dagang AS-China yang meredakan kekhawatiran pelaku pasar. Namun, perlu dicermati bahwa tekanan jual investor asing masih membayangi dalam jangka pendek," ujar Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritasd dalam riset hariannya, Rabu (14/5/2025).
Pada perdagangan Selasa, 13 Mei 2025 kemarin, mayoritas indeks utama di Wall Street ditutup menguat. Indeks S&P 500 naik 0,72 persen, sementara Nasdaq Composite melonjak 1,61 persen.
Baca Juga: IHSG Bersiap Naik Tinggi Hari Ini, Cek Saham Pilihan
Penguatan ini terutama didorong oleh lonjakan saham Nvidia yang mencatatkan kenaikan sebesar 5,6 persen setelah perusahaan mengumumkan rencana pengiriman 18 ribu chip kecerdasan buatan (AI) terbaru ke Arab Saudi.
Pengumuman ini memberikan sentimen positif ke pasar, khususnya pada sektor semikonduktor. Saham Broadcom naik hampir 5 persen, sementara AMD turut menguat sebesar 4 persen.
Kendati demikian, indeks Dow Jones justru terkoreksi 0,64 persen, ditekan oleh penurunan tajam saham UnitedHealth yang anjlok hampir 18 persen setelah laporan keuangan perusahaan tidak sesuai ekspektasi pasar.
Meski demikian, secara keseluruhan sentimen pasar membaik. Indeks S&P 500 pun kembali ke zona hijau untuk tahun 2025, setelah sebelumnya sempat melemah lebih dari 17 persen akibat kekhawatiran terhadap eskalasi perang dagang antara AS dan China.
Kondisi serupa juga tercermin di pasar Asia. Bursa saham di kawasan Asia dan Pasifik menguat pada perdagangan hari ini, mengikuti reli yang terjadi di Wall Street. Penguatan dipimpin oleh bursa saham Jepang, di mana indeks Nikkei 225 naik 1,43 persen dan Topix menguat 1,10 persen.
Di Korea Selatan, indeks Kospi naik tipis 0,04 persem, dan Kosdaq menguat 0,89 persen. Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 Australia naik 0,43 persen, indeks CSI 300 China menguat 0,15 persen, dan indeks Taiex Taiwan naik 0,95 persen.
Meski mayoritas bursa Asia menguat, indeks Hang Seng Hong Kong justru melemah 1,87 persen.
Penguatan pasar saham global ini dipicu oleh meredanya ketegangan dagang antara AS dan China, setelah kedua negara sepakat untuk menangguhkan pemberlakuan tarif perdagangan selama 90 hari. Kesepakatan ini dinilai sebagai langkah positif untuk memulihkan kembali hubungan ekonomi dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia tersebut.
Selain itu, investor juga mencermati perkembangan positif dari meredanya ketegangan antara India dan Pakistan, yang turut mendorong optimisme pasar terhadap stabilitas geopolitik di kawasan.
Sebelum libur, IHSG ditutup menguat tipis sebesar 0,07 persen ke level 6.831,92, namun masih disertai dengan aksi jual bersih (net sell) investor asing yang cukup besar, yaitu sekitar Rp499 miliar. Saham-saham yang paling banyak dijual oleh investor asing antara lain BMRI, PNLF, ASII, GOTO, dan TLKM.
Secara teknikal, IHSG hari ini diperkirakan bergerak dalam kisaran support di level 6.800–6.820 dan resistance di kisaran 6.860–6.900.
Potensi technical rebound muncul sebagai respons terhadap perbaikan sentimen eksternal, namun pelaku pasar tetap disarankan mencermati arah aliran dana asing serta potensi volatilitas di pasar global.
Berita Terkait
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
Airlangga Pastikan Tarif Dagang Indonesia dan AS Turun ke 15 Persen, Berlaku 90 Hari
-
ESDM Lobi-lobi AS Agar Sel Paner Surya RI Tak Kena Bea Masuk 104%
-
Kemenperin Catat Industri, Kimia dan Tekstil Lagi Loyo di Februari
-
IHSG Nyaris Stagnan pada Perdagangan Jumat, Tapi 352 Saham Meroket
-
BNBR Gelar Rights Issue 90 Miliar Saham, Perkuat Struktur Modal dan Ekspansi CCT
-
Rupiah Loyo ke Level Rp 16.787/USD di Tengah Aksi Jaga Investor
-
Ekonomi Digital RI Makin Gurih, Setoran Pajak Tembus Rp47,18 Triliun
-
CFX Pangkas Biaya Transaksi 50 Persen, Industri Kripto Diprediksi Makin Bergairah
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
APBN Sudah Tekor Rp 54,6 T di Awal Tahun, Pengusaha Muda Tekankan Reformasi Pajak