Suara.com - PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk. (SBMA) menyepakati pemberian dividen tunai sebesar Rp 3,71 miliar untuk tahun buku 2025 kepada pemegang saham.
Keputusan ini sesuai dengan hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) emiten produsen gas industri tersebut.
Pemberian dividen tunai itu setara dengan Rp 4 per lembar saham.
Di mana para pemegang saham yang berhak atas dividen itu adalah pemegang saham yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham perseroan pada tanggal 18 Juni 2025 dan dividen akan dibayarkan pada 18 Juli 2025.
Para pemegang saham menyetujui pemberhentian Carsen Finrely dari kursi Direktur Independen.
Sehingga jajaran Komisaris dan Direksi PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk tetap dijabat oleh Effendi sebagai Komisaris Utama, Dinawati sebagai Komisaris, dan M. Slamet Brotosiswoyo sebagai Komisaris Independen.
Adapun Direksi masih dijabat oleh Rini Dwiyanti sebagai Direktur Utama, Welly Sumanteri sebagai Wakil Direktur Utama, dan Julianto Setyoadji sebagai Direktur Operasional.
Julianto Setyoadji, Direktur Operasional Surya Biru Murni Acetylene, mengatakan, secara revenue kinerja masih sesuai prediksi dengan kondisi riil sebagian besar dipengaruhi kalender perayaan keagamaan.
Dan profitabilitas masih terjaga karena beberapa departemen sudah bisa memberikan peningkatan produktivitas, efisiensi dan penekanan losses pengiriman.
Baca Juga: Produksi Batu Bara Capai 21,35 Juta MT, BSSR Bagikan Dividen 75 Juta Dolar AS
Dari sisi produksi, Perseroan terus melakukan peningkatan kemampuan produksi special gas dengan metoda dan carrier gas yang lebih variatif. Shifting storage tank di cabang agar distribusi efektif dan menekan losses.
"Untuk efisiensi, perseroan senantiasa melakukan peningkatan kerjasama dengan valuable partner. Peningkatan kemandirian dengan penambahan knowledge departemen produksi, distribusi dan operasional. Agar program preventif, produktivitas dan pengelolaan aset lebih baik," ujar Julianto dalam paparan publik di Jakarta, Selasa (10/5/2025).
Untuk berapa kontrak pelanggan baru di periode Januari–Mei 2025, SBMA telah mengantongi dari beberapa sektor yang rata-rata perkembangan banyak di sektor mining (batubara dan shipyard) dan industri oleochemical, sektor Rumah Sakit.
"Penjajakan harus terus dilakukan terutama mining seperti Petrosea, Adaro dan kontrak sewa peralatan atau service supply ke sektor Oil & Gas," kata Julianto.
Perseroan juga terus melakukan upaya diversifikasi bisnis yang berkomitmen pada keberlanjutan lingkungan. Perusahaan terus melakukan kajian pemanfaatan limbah menjadi paving block dan bata ringan, tentunya melewati KJPP sebagai badan independen.
Pada kesempatan yang sama, Effendi selaku Komisaris Utama PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (SBMA) turut mengapresiasi kinerja para Direksi dengan progres bisnis yang terus berkembang.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- Motor Baru Harley-Davidson Harga Cuma Rp40 Jutaan, Tenaga Setara Motor 250cc
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
- Viva Sunscreen Foundation SPF Berapa? Banyak Dapat Review Positif dari Pengguna
- KPK Ungkap Dugaan Modus 'Pinjam Bendera' di Proyek Gedung Pemkab Lamongan Rp151 Miliar
Pilihan
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
Terkini
-
Amar Bank Tebar Dividen Rp110 Miliar
-
Makan Biaya Rp553 Miliar, Bandara International Minangkabau Dipercantik Nuansa Minang
-
UMKM RI Diajari Smart Factory oleh Korea Selatan, Produksi Siap Berbasis AI
-
Tak Cuma Pegadaian, Kini Masyarakat Punya Pilihan Baru untuk Gadai Barang
-
Gapembi Klarifikasi Sikap soal SE MBG, Soroti Tata Kelola Kebijakan
-
Sempat Tolak IMF dan World Bank, Purbaya Kini Cari Utang Rp 17,8 T ke China lewat Panda Bond
-
Pekerja PIPS Tolak Permenaker 7/2026, Khawatir Upah Mandek hingga Ancam Keandalan Listrik
-
Hadapi Industri yang Makin Kompleks, SIG Andalkan Kualitas SDM
-
Indonesia Gandeng Kuwait Perkuat Kerja Sama Sektor Energi
-
Kejar Pembiayaan Hijau, JAPFA Jadi Pelopor Integrasi LCA dalam Strategi Bisnis