Suara.com - Dua calon Wakil Ketua Dewan Komisioner (DK) merangkap Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menjalani uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test di Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Uji kelayakan dan kepatutan dimulai sekitar pukul 11.45 WIB di Gedung Nusantara I DPR, Senayan, Jakarta Pusat, pada Rabu, 2 Juli 2025. Adapun, Kedua calon ini adalah Doddy Zulverdi dan Farid Azhar Nasution.
Dalam hal ini, Doddy saat ini adalah Asisten Gubernur/Kepala Departemen Manajemen Strategis dan Tata Kelola Bank Indonesia (BI). Pria kelahiran Bandung tahun 1993 ini sudah memulai karirnya di (BI) sejak tahun 1993.
Sedangkan, Farid saat ini merupakan Anggota Badan Supervisi LPS. Ia lahir di Jakarta tahun 1970 dan mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara pada 1992.
Dalam hal ini, Doddy Zulverdi memiliki visi dan misi yang strategis dalam meningkatkan kinerja dari LPS. Salah satunya adalah mempertahankan kepercayaan nasabah.
"LPS lingkungan strategis menantang. Menjawab amanat uud ditengah regulasi kompetensi sdm dan mempertahankan kepercayaan nasabah ditengah ekonomi yang ketidakpastian," katanya di Gedung DPR, Rabu (2/7/2025).
Dia pun juga akan mengurangi perbankan yang bermasalah. Salah satunya dengan mengelola keuangan perbankan yang bermasalah
"Mengoptimalkan resolusi bank dan menjamin polis asuransi, menyelaraskan jangka panjang dan terus meningkatkan kepercayaan publik kepada LPS," katanya.
"Sesuai mandat LPS bagaimana menjamin penjamin polis asuransi. Menghadapi tantangan besar. Pengelolaan keuangan yang prudent untuk penjamin bank bermasalah," tambahnya.
Baca Juga: Gawat! 2 BPR di Cirebon dan Surabaya Terancam, LPS Turun Tangan
Sedangkan, Farid Azhar Nasution mengusung enam program kerja yang akan dilakukan dalam lima tahun ke depan jika terpilih. Farid, yang saat ini merupakan Anggota Badan Supervisi (BS) LPS, mengatakan program yang ia rancang tersebut bertujuan agar mandat baru LPS dalam UU P2SK terlaksana dengan baik.
Antara lain, program mengenai pengelolaan investasi optimum, peningkatan efektivitas anggaran, pengelolaan organisasi dan SDM, pengelolaan GRC dan sistem informasi, pengelolaan LPS, dan penguatan kantor perwakilan.
Dalam hal pengelolaan investasi LPS, Farid menilai sebenarnya sudah cukup baik dengan mencapai 1% hingga 2% dari target tahun lalu. Namun, ia menyoroti terdapat dua hal yang belum dilakukan.
"Yang pertama adalah penempatan investasi pada surat berharga negara (SBN) negara lain, Pak. Ini apa tujuannya? Untuk mitigasi resiko, kalau nanti di SBN kita mengalami tekanan harga,"bebernya.
Apalagi, SBN merupakan salah satu pengukuran tingkat stabilitas sistem keuangan. Maka demikian, jika SBN negara jatuh, sudah ada yang menopang.
"Nah sebetulnya LPS bisa berfungsi untuk turut menjaga tersebut dengan cara membeli di pasar sekunder, sebagai bagian dari turut menjaga stabilitas sistem keuangan. Dan itu sebenarnya pernah dilakukan. Saya pernah jadi Direktur Tresuri di LPS, itu saya lakukan dan enggak ada masalah sebetulnya sepanjang kita menjaga tata kelolanya," tegasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Motor Gigi Tanpa Kopling: Praktis, Irit, dan Tetap Bertenaga
- 5 Rekomendasi HP Layar Lengkung Murah 2026 dengan Desain Premium
- 5 Lipstik Ringan dan Tahan Lama untuk Usia 55 Tahun, Warna Natural Anti Menor
- Kenapa Angin Kencang Hari Ini Melanda Sejumlah Wilayah Indonesia? Simak Penjelasan BMKG
- 5 Sunscreen Jepang untuk Hempaskan Flek Hitam dan Garis Penuaan
Pilihan
-
Promo Suuegeerr Alfamart Jelang Ramadan: Tebus Minuman Segar Cuma Rp2.500
-
Menilik Survei Harvard-Gallup: Bahagia di Atas Kertas atau Sekadar Daya Tahan?
-
ESDM: Harga Timah Dunia Melejit ke US$ 51.000 Gara-Gara Keran Selundupan Ditutup
-
300 Perusahaan Batu Bara Belum Kantongi Izin RKAB 2026
-
Harga Emas Bisa Tembus Rp168 Juta
Terkini
-
Janji Percepat Bangun Huntara, Menteri PU: Tak Ada Warga Aceh Tinggal di Tenda Saat Ramadan
-
Penjelasan Kelola Dana Negara Rp200 T, Tegaskan Menkeu Tertipu Bank Himbara Hoaks
-
Berita Soal Rp200 Triliun Menguap Dipastikan Hoaks, Kemenkeu dan BRI Jamin Dana Aman
-
Begini Spesifikasi Huntara di Aceh Tamiang untuk Korban Bencana
-
Impor Tapioka Masih Tinggi, Pengusaha: Bukan Karena Stok Kurang, Tapi Harga Lebih Murah
-
5 Fakta Isu Menteri Keuangan Purbaya Tertipu Bank Himbara Rp200 Triliun
-
Rencana Peleburan Bulog-Bapanas Masih Proses Pembahasan
-
Kemenkeu: Berita Menkeu Purbaya Tertipu Bank Himbara 100 Persen Hoaks
-
Bansos PKH, BPNT dan BLT Tahap 1 Cair Februari 2026, Ini Cara Cek di HP Pakai NIK KTP
-
Gubernur Target Bank Jakarta Segera IPO Saham, Ini Persiapannya