- Pakar nilai Bea Cukai tak perlu bubar, tapi wajib reformasi total kepemimpinan.
- Digitalisasi dan integritas SDM jadi kunci cegah kebocoran penerimaan negara.
- Menkeu peringatkan Bea Cukai: Perbaiki layanan atau kembali ke sistem lama.
Suara.com - Wacana pembubaran Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) dan pengalihan fungsinya ke lembaga inspeksi internasional seperti Société Générale de Surveillance (SGS) kembali memanas.
Namun, sejumlah pakar menilai opsi pembubaran justru bisa menjadi bumerang bagi kedaulatan ekonomi nasional.
Guru Besar FEB UI, Prof. Telisa Aulia Falianty, menegaskan peran Bea Cukai sangat krusial dalam mengendalikan arus barang dan menekan eksternalitas negatif melalui cukai. Menurutnya, jika dibubarkan, tata kelola ekspor-impor justru berpotensi semakin semrawut.
"Kalau dibubarkan siapa yang mengurus custom and tax-nya? Nanti lebih parah lagi. Jadi reformasinya itu tidak boleh setengah-setengah," ujar Telisa dalam keterangannya, Senin (16/3/2026).
Telisa menyoroti dua poin utama yang harus segera diperbaiki pemerintah yakni pola rekrutmen untuk memastikan lembaga diisi oleh orang-orang berintegritas tinggi dan melakukan digitalisasi sistem untuk mengurangi celah human error dan interaksi fisik yang sering menjadi pintu masuk pelanggaran atau "main mata" oknum.
Senada dengan Telisa, Ekonom UKI Milko Hutabarat menilai reformasi harus dilakukan secara tegas dan terukur. Ia bahkan menyoroti latar belakang kepemimpinan saat ini yang dianggap menjadi celah pengawasan.
"Dirjen Bea Cukai yang sekarang sebelumnya dari TNI, jadi masih belum memahami seluk beluk sistem. Mungkin ini jadi celah bagi oknum aparat untuk menghindar dari pengawasan," kata Milko. Ia menyarankan penghapusan titik korupsi melalui integrasi data lintas instansi dan penguatan Authorized Economic Operator (AEO).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto sempat melontarkan gagasan pembubaran DJBC untuk dialihkan ke SGS. Namun, Purbaya menegaskan opsi itu adalah pilihan terakhir jika kualitas pelayanan tidak segera membaik. Jika tak ada perubahan, bukan tidak mungkin sistem kepabeanan dikembalikan ke pola lama era Orde Baru.
Mantan penyidik KPK, Yudi Purnomo Harahap, ikut angkat bicara pasca adanya operasi tangkap tangan (OTT) yang menyeret oknum dari level direktur hingga staf. Yudi menekankan pentingnya menempatkan pegawai yang "bersih" di pos strategis.
Baca Juga: IHSG Jeblok Jelang Lebaran, Purbaya Klaim Ekonomi RI Masih Bagus
"Tanpa pegawai yang bersih maka kejadian korupsi akan berulang lagi, hanya akan menimbulkan pemain baru saja," tegas Yudi. Menurutnya, pembenahan ini mendesak dilakukan demi mengoptimalkan penerimaan negara untuk membiayai program pemerintah.
Berita Terkait
Terpopuler
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- 5 Sepatu Lari Terbaik Harga Rp200 Ribuan, Nyaman Dipakai untuk Daily hingga Trail Run
- Sempat Nganggur Gegara Timnas Indonesia, Roberto Mancini Resmi Latih Italia
- Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok Tajam, Peluang Jadi Partai Nomor 1 Terancam
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
BGN Curiga Ada Oknum di Balik Dana Rp311,2 Miliar Nyasar ke Rekening SPPG Bermasalah
-
Reuni Taufik Hidayat vs Lin Dan di Jakarta! 7 Peraih Emas Olimpiade Ramaikan Shuttle Open 2026
-
Heboh Isu Nikita Mirzani Diintimidasi di Penjara, Pihak Rutan Buka Suara
-
Bukan Sekadar Jago Debat, Ini Cara Mencetak Calon Diplomat dan Pemimpin Masa Depan Sejak Dini
-
Bulog Edukasi Masyarakat Kenali Mutu Beras, Pastikan Masyarakat Mendapatkan Informasi Tepat
-
Lari Sambil Selamatkan Bumi, PLN Electric Run 2026 Punya Misi Pangkas 24 Ton Emisi Karbon
-
Menteri Ekraf Melihat Langsung Dapur Kreatif Industri Kecantikan di Malang
-
Kejagung Periksa Saksi Kasus TPPU Febrie Adriansyah, Lima Mangkir dari Panggilan
-
Surat dari Pram: Kumpulan Surat untuk Sang Terkasih, Jenaka Aryadiningrat
-
Memahami Institusi Pendidikan di Era Digital, Jangan Hanya Percaya Hasil Pencarian