Suara.com - Nilai tukar rupiah kembali melemah, dipengaruhi oleh dinamika geopolitik dan ekspektasi ekonomi global. Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuabi, menilai bahwa pelemahan kurs rupiah ini salah satunya disebabkan oleh ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang akan mengenakan tarif sekunder sebesar 100 persen terhadap Rusia.
“Trump mengancam akan mengenakan tarif sekunder sebesar 100 persen terhadap Rusia, jika Presiden Vladimir Putin tidak mencapai kesepakatan dalam 50 hari untuk mengakhiri perang di Ukraina,” kata Ibrahim dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.
Ancaman ini merupakan kelanjutan dari desakan Senat AS. Mengutip Sputnik, Senator AS Lindsey Graham dan Richard Blumenthal sebelumnya telah mengajukan rancangan undang-undang (RUU) bipartisan yang bertujuan menjatuhkan sanksi primer dan sekunder terhadap Rusia. Sanksi tersebut akan diaktifkan jika Moskow gagal terlibat dalam negosiasi "itikad baik" atas perdamaian di Ukraina pada April 2025. Salah satu poin kunci dalam sanksi yang diusulkan adalah tarif 500 persen atas barang impor dari negara-negara yang masih membeli minyak, gas, uranium, dan produk-produk Rusia lainnya.
Pekan lalu, Trump kembali menyuarakan ketertarikannya terhadap RUU sanksi yang diusulkan Graham, menyatakan bahwa dirinya sedang mempertimbangkan undang-undang tersebut "dengan sangat matang”. Meskipun demikian, ia menekankan bahwa keputusan final untuk melanjutkan undang-undang tersebut sepenuhnya berada di tangan Presiden. Seorang pejabat senior AS juga mengonfirmasi bahwa presiden bersedia menandatangani RUU tersebut, asalkan ia memegang kendali penuh atas implementasi sanksi.
Meskipun ancaman tarif ini belum berdampak besar pada pergerakan pasar secara keseluruhan, para pelaku pasar mulai memperhitungkan risikonya. "Meskipun ancaman tarif baru-baru ini tidak berdampak besar pada pergerakan pasar secara keseluruhan, para pedagang mempertimbangkan apakah AS benar-benar akan mengenakan tarif tinggi pada negara-negara yang terus berdagang dengan Rusia, serta menahan diri untuk tidak memasang taruhan besar di tengah ketidakpastian,” kata Ibrahim. Ketidakpastian ini menciptakan kehati-hatian di kalangan investor, yang pada akhirnya memengaruhi stabilitas mata uang.
Selain sentimen geopolitik, pelemahan rupiah juga didorong oleh faktor ekonomi domestik AS. Perkiraan Gubernur Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell, terkait angka inflasi AS yang lebih tinggi turut memberikan tekanan. Inflasi AS diprediksi naik 0,3 persen dibandingkan bulan lalu, yang akan membawa inflasi year on year (YoY) meningkat dari 2,4 persen menjadi 2,7 persen.
Ekspektasi inflasi yang lebih tinggi ini membuat bank sentral AS diperkirakan akan menunda kebijakan pemangkasan suku bunga, yang pada gilirannya membuat dolar AS lebih menarik bagi investor dibandingkan mata uang emerging markets seperti rupiah.
Pada penutupan perdagangan hari Selasa di Jakarta, nilai tukar rupiah melemah sebesar 17 poin atau 0,10 persen, mencapai Rp16.267 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp16.250 per dolar AS. Senada, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga menunjukkan pelemahan, mencapai level Rp16.281 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.247 per dolar AS. Kondisi ini menunjukkan bahwa rupiah masih rentan terhadap faktor eksternal dan kebijakan ekonomi global.
Baca Juga: Negosiasi Buntu! Indonesia Berjuang Hadapi Tarif Dagang AS 32 Persen
Berita Terkait
-
Trump Ancam Indonesia Kena Tarif Tinggi, Sebut Hubungan Kedua Negara Merugikan AS
-
Nilai Tukar Rupiah Terus Melemah Imbas Tarif Trump
-
Harga Tomat di AS Melambung Akibat Kekacauan Kebijakan Trump
-
Trump Ikutan Selebrasi Chelsea Juara Piala Dunia Antarklub, Cole Palmer Mencak-mencak
-
Menko Airlangga Klaim Indonesia Lolos dari Pengenaan Tarif Trump 32 Persen
Terpopuler
- Ganjil Genap Jakarta Resmi Ditiadakan Mulai Hari Ini, Simak Aturannya
- Bacaan Niat Puasa Ramadan Sebulan Penuh, Kapan Waktu yang Tepat untuk Membacanya?
- Menkeu Purbaya Pastikan THR ASN Rp55 Triliun Cair Awal Ramadan
- LIVE STREAMING: Sidang Isbat Penentuan 1 Ramadan 2026
- Pemerintah Puasa Tanggal Berapa? Cek Link Live Streaming Hasil Sidang Isbat 1 Ramadan 2026
Pilihan
-
Murka ke Wasit Majed Al-Shamrani, Bojan Hodak: Kita Akan Lihat!
-
Warga Boyolali Gugat Gelar Pahlawan Soeharto, Gara-gara Ganti Rugi Waduk Kedungombo Belum Dibayar
-
Persib Bandung Gugur di AFC Champions League Meski Menang Tipis Lawan Ratchaburi FC
-
KPK akan Dalami Dugaan Gratifikasi Jet Pribadi Menag dari Ketum Hanura OSO
-
7 Fakta Viral Warga Sumsel di Kamboja, Mengaku Dijual dan Minta Pulang ke Palembang
Terkini
-
Rupiah Melemah, Dolar AS Naik ke Level Rp16.922
-
Lewat Sepucuk Surat Ini, Menteri Bahlil Menangkan Perusahaan Israel Garap Tambang RI
-
IHSG Terus Melonjak di Level 8.300 pada Kamis Pagi
-
Harga Komoditas Cabai Mulai Turun Awal Ramadan, Tapi Cabai Rawit Merah Masih Tinggi
-
Emiten Milik Suami Puan Maharani Bakal Rights Issue Tahun 2026
-
Aturan Makan di LRT, KRL, dan MRT Selama Ramadan 2026
-
Harga Emas Batangan di Pegadaian Turun Lagi, Harganya Makin Murah
-
Jaga Stabilitas Rupiah, BI Diramal Tahan Suku Bunga
-
BEI Gembok Saham WIKA, Ini Alasannya
-
Sawah Rusak 94 Ribu Hektare di Sumatra, Mentan Minta Tambahan Dana Rp2,1 Triliun untuk Perbaikan