Bisnis / Keuangan
Jum'at, 02 Januari 2026 | 15:49 WIB
Nilai tukar rupiah melemah di 2 Januari 2026. [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Rupiah melemah 0,23 persen pada 2 Januari 2026, ditutup pada level Rp16.725 per dolar AS.
  • Pelemahan rupiah dipicu dolar AS perkasa dan kekhawatiran fundamental seperti prospek suku bunga BI.
  • Mata uang Asia umumnya melemah pada hari itu, kecuali baht Thailand, yuan, ringgit, dan peso Filipina.

Suara.com - Rupiah masih kesulitan bangkit di awal 2026, setelah pada penutupan perdagangan hari ini (2/1/2026) melemah di hadapan dolar Amerika Serikat.

Mengutip data Bloomberg, nilai tukar rupiah anjlok 0,23 persen pada Jumat sore ke level Rp16.725 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan penutupan pada Rabu yang berada di level Rp 16.680 per dolar AS.

Kurs Jisdor Bank Indonesia di hari pertama perdagangan tahun 2026, tercatat di Rp16.725 per dolar AS.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah melemah dikarenakan dolar Amerika sangat perkasa akibat sentimen global.

"Selain indeks dolar AS yang memang juga naik cukup tinggi hari ini, rupiah memang masih tertekan oleh fundamental yang mendasari seperti prospek pemangkasan suku bunga BI, kekuatiran defisit fiskal," katanya saat dihubungi Suara.com.

Kata dia, pelemahan rupiah masih akan terus berlanjut. Jika BI tidak melakukan intervensi maka rupiah masih akan terjebak dalam zona merah.

"Data manufaktur pagi ini yang lebih lemah dari perkiraan juga ikut menekan rupiah," jelasnya.

Saat ini pergerakan mata uang di Asia bervariasi dengan kecenderungan melemah. Di mana, dolar Taiwan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah ditutup anjlok 0,27 persen.

Selanjutnya ada rupe India yang terkoreksi 0,24 persen dan yen Jepang yang tergelincir 0,08 persen. Diikuti, dolar Hongkong yang tertekan 0,07 persen.

Baca Juga: Setelah Libur Panjang, Rupiah Ditutup Lesu di Level Rp 16.788

Berikutnya dolar Singapura dan won Korea Selatan yang sama-sama melemah 0,03 persen terhadap the greenback.

Sedangkan, baht Thailand menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,59 persen. Disusul, yuan China yang melesat 0,1 persen.

Kemudian ada ringgit Malaysia yang naik 0,05 persen dan peso Filipina yang sudah ditutup menguat tipis 0,02 persen pada hari ini

Load More