Suara.com - Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, berpandangan bahwa Bank Indonesia (BI) sudah saatnya menurunkan suku bunga acuan atau BI-Rate. Hal ini didasari oleh adanya kesepakatan tarif perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS), serta kondisi makroekonomi yang mendukung.
Dengan tingkat inflasi Juni 2025 yang hanya sebesar 1,87 persen year on year (yoy) dan rupiah yang cenderung menguat, ruang bagi BI untuk menurunkan BI-Rate menjadi semakin lebar. Fakhrul memprediksi BI akan memangkas suku bunga sebanyak 25 basis poin (bps) pada hari ini, di mana Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI telah berlangsung pada Selasa (15/7/2025) dan Rabu ini, dengan pengumuman kebijakan moneter dijadwalkan pada hari yang sama.
"Setelah kita mendapatkan kesepakatan perang dagang, sudah saatnya juga kebijakan moneter lebih longgar," kata Fakhrul dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (16/7/2025) dikutip melalui Antara.
Ia menambahkan, pemangkasan BI-Rate sudah harus dilaksanakan mengingat adanya pergeseran urgensi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Selain itu, langkah serupa juga telah diambil oleh negara tetangga seperti India dan Malaysia yang telah menurunkan suku bunga.
Dampak Penurunan BI-Rate: Rupiah Menguat dan IHSG Melesat
Fakhrul memandang, untuk memperkuat rupiah, perlu adanya ekspektasi perbaikan ekonomi melalui dorongan kebijakan moneter dan fiskal. Ia meyakini bahwa apabila BI-Rate dipangkas dan belanja pemerintah meningkat, maka arus modal akan kembali masuk ke Indonesia, yang pada gilirannya akan memperkuat nilai tukar rupiah.
Berdasarkan perkiraannya, rupiah berpotensi menguat hingga ke level Rp15.500 per dolar AS pada tahun ini. Tidak hanya itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga diperkirakan bisa mencapai level 7.750 pada akhir tahun ini.
Proyeksi positif ini didukung oleh kesepakatan tarif dagang, potensi penurunan BI-Rate, serta perbaikan ekonomi pada paruh kedua tahun 2025. Menurut proyeksi Trimegah Sekuritas, sektor yang terkait metal dan konsumer akan menjadi unggulan pada paruh kedua tahun ini.
Seperti diketahui, Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa tarif impor senilai 19 persen akan diberlakukan terhadap produk-produk Indonesia yang masuk ke AS. Penetapan tarif ini merupakan hasil negosiasi langsung antara Trump dengan Presiden RI Prabowo Subianto.
Baca Juga: Gubernur Bank Indonesia Ramal AS Resesi di 2026
Selain penetapan nilai tarif, kesepakatan yang diklaim Trump juga mencakup komitmen Indonesia untuk membeli energi dari AS senilai 15 miliar dolar AS dan produk agrikultur senilai sebesar 4,5 miliar dolar AS. Trump juga menyebutkan adanya komitmen Indonesia untuk membeli 50 pesawat Boeing baru, yang sebagian besar merupakan Boeing 777, meskipun rincian maskapai atau pihak pembeli belum disebutkan.
Fakhrul menilai kesepakatan dagang ini merupakan hal yang sangat baik bagi Indonesia. Tarif 19 persen yang dikenakan AS dinilai lebih rendah dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia (25 persen), Vietnam (20 persen dan 40 persen untuk transhipment), serta Thailand (36 persen). "Di tengah dunia yang volatil seperti saat ini, adanya kesepakatan ini menjadi angin segar," kata Fakhrul.
Menurutnya, hal yang lebih penting bukan sekadar besaran tarif, melainkan pengakuan dan pernyataan dari pemerintah AS terhadap posisi tawar Indonesia. Posisi Indonesia yang kaya akan mineral tanah jarang, tembaga, dan mineral lainnya menunjukkan kekuatan posisi tawar strategis Indonesia di mata global. Sumber daya inilah, catat Fakhrul, yang nantinya akan menjadi posisi tawar penting di masa mendatang. Ia menambahkan, tarif yang lebih rendah dibandingkan negara tetangga ini akan menjadi momentum emas untuk mengembangkan kawasan industri dan menarik investasi asing ke Indonesia.
Fakhrul memperkirakan selisih tarif antara Indonesia dan negara lain seharusnya dapat memindahkan investasi sebesar 200-300 juta dolar AS dalam satu hingga dua tahun ke depan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Dexlite Mahal, 5 Pilihan Mobil Diesel Lawas yang Masih Aman Minum Biosolar
- Awas! Jakarta Gelap Gulita Besok Malam, Cek Daftar Lokasi Pemadaman Lampunya
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
Pilihan
-
Cek Fakta: Viral Pengajuan Pinjaman Koperasi Merah Putih Lewat WhatsApp, Benarkah Bisa Cair?
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
Terkini
-
Mandalika Racing Series 2026 Resmi Digelar, Pertamina Perkuat Pembinaan Pembalap Muda Indonesia
-
BNLI Bukukan Laba Bersih Rp920 Miliar pada Kuartal I 2026, Cek Likuiditasnya
-
AI Generatif Tingkatkan Proyeksi Karir dan Kinerja Developer Hingga dari 50 Persen
-
OJK Klaim Perbankan Kebal Guncangan: Kokoh di Atas Kertas, Waspada di Lapangan
-
Purbaya Ngotot Kejar Perusahaan Baja China Pengemplang Pajak
-
Syarat Subsidi PPN Tiket Pesawat saat Harga Avtur Naik Gila-gilaan
-
Pemerintah Batasi Pembelian Beras SPHP, Ini Alasannya
-
Emas Jadi Primadona Saat Dunia Bergejolak, Minat Investasi Melonjak
-
Perusahaan Ritel China Gencar Ekspansi Buka Toko Fisik di RI
-
Perhatian Emak-emak! Beli Beras SPHP Dijatah Hanya 5 Buah