Suara.com - Bank Indonesia (BI) menilai bahwa ketidakpastian ekonomi global bakal berlanjut di 2026. Hal itu akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan pertumbuhan ekonomi global akan masih turun. Dia juga meramal Amerika Serikat juga akan mengalami resesi pada tahun 2026.
"Para tahun 2026 pertumbuhan ekonomi global stagnan di sekitar 3 persen. Di negara-negara mitra dagang utama pertumbuhan ekonomi akan menurun. Pertumbuhan ekonomi Amerika diperkirakan 2,1 persen pada tahun ini jadi 1,8 persen di 2026 bahkan risiko resesi," katanya dalam rapat Banggar di Gedung DPR.
Kata dia penyebab ekonomi dunia melambat dikarenakan tarif yang ditetapkan oleh Amerika Serikat. Selain itu geopolitik yang masih memanas di Timur Tengah.
"Kondisi global penuh ketidakpastian karena kebijakan tarif Amerika Serikat dan geopolitik Timur Tengah dan di beberapa belahan negara lain," katanya.
Dia menambahkan Eropa dan Jepang juga mengalami tekanan. Ekonomi Tiongkok juga melambat 4,3 persen di 2035. Namun, akan menurun 4,1 persen di 2026. Meskipun negara mitra dagang Indonesia cenderung melambat, India menjadi salah satu harapan Indonesia dalam mendorong ekspor.
"Yang diharapkan India 6,6, persen di 2026. Pertumbuhan ekonomi dan fragmentasi terganggunya pasokan dunia jadi tantangan kota dengan terus mendorong ekspor untuk pertumbuhan ekonomi nasional," jelasnya.
Dia menambahkan masih berpotensi menurunkan suku bunga acuan atau BI rate ke depan. Hal ini bertujuan untuk mendorong perekonomian pada 2025 dan 2026.
"Kami masih ada ruang menurunkan BI rate ke depan seiring dengan inflasi yang rendah dan salah satunya juga mendorong pertumbuhan ekonomi,"bebernya.
Baca Juga: Terpilih Jadi Deputi Gubernur BI, Intip Harta Ricky Perdana Gozali
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan konflik bersenjata hingga perang tarif dagang membuat ketidakpastian ekonomi semakin meningkat.
"Kondisi global kita semua melihat dinamis, ini akan mengubah banyak tatanan dunia, kita perlu waspada," katanya.
Menurut dia, ketidakpastian ekonomi pada kuartal II-2025 masih terus berlanjut. Ditandai dengan meningkatnya angka indeks ketidakpastian global (Global Uncertainty Index) yang bergerak ke level 472, beriringan dengan meroketnya kenaikan indeks biaya logistik (Baltic Dry Index) ke level 1605.
"Kuartal II secara global pemburukan di zona kontraktif, indeks ketidakpastian global melonjak, baltic dry index semuanya naik. Ini situasi yang tidak baik akan mempengaruhi kinerja ekonomi dunia," ucapnya.
Kata dia, pemerintah harus melakukan antisipasi terhadap berbagai risiko tekanan itu hingga 2026 mendatang.
"Implikasi posisi Indonesia terus non blok dan dampak imbas perekonomian karena ketidakpastian semua mengerucut, personalize, tidak mengikuti tatanan rule base international," jelasnya.
Sementara itu, dampak dari ketidakpastian global adalah pertumbuhan ekonomi dunia turun 2025 hanya 2,8%.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- 3 Sampo yang Mengandung Niacinamide untuk Atasi Rambut Rontok dan Ketombe
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 4 Bedak Padat Wardah yang Tahan 12 Jam, Coverage Tinggi dan Nyaman Dipakai Seharian
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Daftar Lokasi dan Jadwal Perbaikan Tol Jakarta - Tangerang Periode Mei 2026
-
5 Cara Amankan Cicilan KPR saat Suku Bunga Naik
-
Daftar Negara dengan Utang Paling Ekstrem, Indonesia Termasuk?
-
Awas Aksi Jual Asing! Saham Perbankan Jadi Sasaran Empuk Profit Taking
-
Ekonom Ramal Rupiah Susah Turun ke Level Rp 16.000/USD
-
Bos GoTo Lapor ke Seskab Teddy, Telah Turunkan Potongan Komisi Ojol 8%
-
Prabowo Diminta Evaluasi PLN Imbas Insiden Blackout Sumatra: Rakyat Rugi Besar!
-
Tekanan Ekonomi Bikin Investor RI Mulai Lirik Aset Kripto dan Emas Digital
-
Begini Kondisi Listrik di Sumatra, Masih Banyak yang Padam?
-
OJK Lihat Bisnis BPD Masih Baik-baik Saja