- Harga minyak mentah WTI berfluktuasi tajam (USD 80 hingga USD 118) setelah Iran menutup akses vital di Selat Hormuz.
- CEO Patterson-UTI menyatakan bahwa ekspansi rig pengeboran AS tertunda karena ketidakpastian prediksi stabilitas harga pasar jangka panjang.
- Industri perminyakan membutuhkan waktu lebih dari enam bulan untuk mengaktifkan sumur baru sebagai respons terhadap lonjakan harga minyak mentah.
Suara.com - Meskipun harga minyak mentah dunia mengalami fluktuasi tajam akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran, peningkatan produksi minyak di AS tidak dapat dilakukan secara instan.
Andy Hendricks, CEO perusahaan jasa ladang minyak Patterson-UTI, menegaskan bahwa tanpa adanya prediksi pasar yang stabil, perusahaan pengeboran enggan melakukan ekspansi penambahan rig.
Harga minyak dunia mencatat pergerakan liar sejak akhir Februari 2026, terutama setelah Iran menutup akses di Selat Hormuz.
Pergerakan harga minyak mentah WTI pada puncaknya kemarin sempat menyentuh USD 118 sebelum merosot drastis di kisaran USD 80 pada Selasa (10/3/2026) siang.
Sementara, hari ini, harga minyak mentah kembali ke level USD 90.
Penutupan jalur perdagangan minyak vital ini memaksa produsen utama di Timur Tengah untuk memangkas produksinya.
Awal pekan ini, harga minyak mentah berjangka AS sempat menyentuh angka US$119 per barel—level tertinggi sejak Agustus 2022.
Namun, situasi berubah cepat pada hari Selasa (10/3/2026), di mana harga ditutup di level US$83,45 per barel setelah Presiden Donald Trump memberikan pernyataan optimis mengenai potensi deeskalasi konflik.
Menurut Hendricks, keputusan untuk meningkatkan aktivitas pengeboran sangat bergantung pada kepastian harga jangka panjang.
Baca Juga: Bahlil Optimistis Dua Kapal Pertamina yang Terjebak di Selat Hormuz Segera Bebas
Ia menjelaskan bahwa banyak perusahaan minyak dan gas telah menyusun anggaran tahunan saat harga minyak masih berada di kisaran US$50 per barel pada Desember lalu.
"Tantangannya adalah, berapa harga minyak yang sebenarnya dalam enam hingga sembilan bulan ke depan?" ujar Hendricks dalam sebuah wawancara, dilansir via Reuters.
Ia menambahkan bahwa dibutuhkan waktu lebih dari enam bulan untuk membawa sumur minyak baru menuju tahap produksi (online). Hal inilah yang membuat industri sulit merespons lonjakan harga secara reaktif.
Saat ini, produksi minyak AS sudah berada di dekat level rekor tertinggi, yakni mencapai 13,7 juta barel per hari pada bulan lalu.
Namun, di kawasan strategis Permian Basin, produksi tercatat berada di angka 6,59 juta barel per hari, sedikit menurun dibandingkan rekor tahun lalu sebesar 6,74 juta barel per hari.
Hendricks memprediksi bahwa arah produksi minyak AS tahun ini akan sangat dipengaruhi oleh normalisasi situasi di Iran dan pembukaan kembali perdagangan melalui Selat Hormuz.
Berita Terkait
-
Update Perang Iran: Korban Jiwa Terus Bertambah, Israel Serang Medis, Trump Ingkar?
-
Iran ke AS - Israel: Akan Banyak Kejutan Menanti
-
Media Israel Jawab Kabar Benjamin Netanyahu Meninggal Dunia saat Melarikan Diri
-
Pendidikan Iddo Netanyahu, Yahudi Cerdas Adik Benjamin Netanyahu yang Dikabarkan Tewas Dibom Iran
-
Potret Tel Aviv Luluh Lantak Dihujani Rudal Iran, Eks Tentara Israel: Netanyahu Penjahat!
Terpopuler
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Dexlite Mahal, 5 Pilihan Mobil Diesel Lawas yang Masih Aman Minum Biosolar
- Awas! Jakarta Gelap Gulita Besok Malam, Cek Daftar Lokasi Pemadaman Lampunya
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
Pilihan
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
Terkini
-
Narasi Pemerintah soal Harga Tiket Pesawat Naik 13 Persen Dinilai Menyesatkan
-
Kementan Pastikan Stok Daging Sapi Aman Jelang Idul Adha 2026
-
Mulai Hari Ini Pemerintah Tanggung PPN Tiket Pesawat Kelas Ekonomi
-
BRILink Agen Mekaar 426 Ribu, BRI Perluas Inklusi hingga Desa
-
BRI Consumer Expo 2026 Surabaya Tawarkan Promo Spesial dan Hiburan Musik
-
Hampir Separuh UMKM di Sektor Pangan, Masalah Pasar Masih Jadi Hambatan
-
OJK Perpanjang Batas Laporan Keuangan Asuransi hingga Juni 2026
-
OJK: Bank Bisa Penuhi Kebutuhan Valas Tanpa Bikin Rupiah Semakin Goyah
-
Harga Pangan Hari Ini: Cabai Rawit Tembus Rp64.050/Kg, Telur Ayam Nyaris Rp32 Ribu
-
Masih Harus Uji Coba, Status Bahan Bakar Bobibos Tunggu Kepastian Kategori BBN atau BBM