Suara.com - Menghadapi ketidakpastian ekonomi global dan pelemahan daya beli domestik, Perhimpunan Bank Nasional (PERBANAS) mendorong penguatan strategi perbankan untuk mendukung ketahanan dan transformasi ekonomi nasional.
Salah satunya, menekankan pentingnya respons adaptif terhadap tekanan eksternal, pelemahan daya beli, dan perlunya kebijakan berbasis data untuk mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
Ketua Umum PERBANAS Hery Gunardi mengatakan bahwa perekonomian Indonesia masih dihadapi oleh
tekanan ganda, baik dari kondisi global yang tidak menentu dan juga penurunan konsumsi masyarakat.
"Konflik geopolitik, perlambatan ekonomi Tiongkok, serta perang dagang yang diterapkan oleh Amerika Serikat telah menimbulkan risiko eksternal yang memengaruhi stabilitas pasar, arus investasi serta perdagangan internasional, dan kinerja perekonomian global," katanya di hotel Le Meredian, Kamis (31/7/2025).
Dia mengungkapkan aktivitas domestik belum sepenuhnya pulih akibat konsumsi yang melemah dan penurunan kepercayaan terhadap prospek ekonomi pasca pemilu. Kajian ini juga menyoroti penurunan daya beli masyarakat, terutama di kalangan Kelas Menengah Atas (Top 30%), yang berdampak pada melambatnya aktivitas ekonomi di lintas sektor dan wilayah.
"Penurunan performa ekonomi ini turut memengaruhi penurunan permintaan kredit dan perlambatan pertumbuhan simpanan, di tengah naiknya biaya dana dan prospek ekspansi kredit yang semakin menantang," katanya.
Namun, Indonesia masih menunjukkan ketahanan ekonomi yang relatif lebih baik dibandingkan banyak negara lain.
Dalam menghadapi situasi tersebut, para bank anggota PERBANAS telah menyiapkan berbagai strategi yang responsif dan adaptif terhadap dinamika ekonomi, mengelola likuiditas dengan cermat, serta terus memperkuat peran perbankan sebagai penggerak utama ekonomi nasional.
"Di tengah dinamika global dan nasional yang kompleks, perbankan Indonesia harus memainkan peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan serta menyukseskan berbagai program prioritas Pemerintah," katanya.
Baca Juga: Fenomena Rojali & Rohana Bikin Heboh Ritel, Bos Unilever Santai
"Fokus kita harus pada mendorong sektor produktif dan padat karya agar dapat mendukung transformasi ekonomi, sambil menjaga stabilitas sistem keuangan dan likuiditas yang sehat,” tambahnya.
Selain itu, Perbanas memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 berkisar antara 4,8% ± 0,1% (yoy), dengan inflasi yang tetap rendah pada level 1,9% ± 0,5% (yoy), dan nilai tukar rupiah diprediksi stabil di kisaran Rp16.300–Rp16.700 per dolar AS.
Kondisi ini membuka ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter, meski tantangan likuiditas masih membayangi, mengingat proyeksi pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang relatif rendah, hanya sekitar 4,38% ± 1% (yoy), sedangkan pertumbuhan kredit sebesar 8,7% ± 1% (yoy).
Berdasarkan data kuartal I dan II-2025, Ketua Umum PERBANAS ini menilai bahwa penurunan suku bunga global dan inflasi yang sangat rendah sejatinya membuka ruang untuk ekspansi usaha. Namun, secara bersamaan hal itu dapat memengaruhi efisiensi penghimpunan dana masyarakat.
“Tren inflasi rendah dan suku bunga yang melandai membuka peluang sekaligus tantangan bagi perbankan. Kita mesti memanfaatkan momentum ini mendorong pertumbuhan, namun kita harus tetap waspada terhadap perlambatan yang sedang terjadi dan memastikan strategi kredit kita adaptif terhadap perubahan ekonomi,” jelas Hery.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Lipstik Lokal Murah dan Awet, Transferproof Meski Dipakai Makan dan Minum
- Apakah Produk Viva Memiliki Sunscreen? Segini Harga dan Cara Pakainya
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- 5 HP Baterai 7000 mAh Terbaru 2026, Tahan Seharian dan Kencang Mulai Rp1 Jutaan
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
Pilihan
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
-
Keluar Kau Setan! Ricuh di Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
Terkini
-
BRI Consumer Expo 2026 Hadirkan Solusi Finansial Lengkap di Jakarta
-
Kadin China Protes Kenaikan Pajak RI, Purbaya: Kami Mementingkan Kepentingan Negara Kita
-
Purbaya Siapkan Stimulus Baru di Q2 2026, Ada Insentif Mobil Listrik hingga Pendanaan Industri
-
Purbaya Pamer Satgas Debottlenecking Kantongi Investasi 30 Miliar USD
-
Purbaya Ramal Perang AS vs Iran Berakhir September 2026
-
Sempat Tolak, Ini Alasan Purbaya Akhirnya Kasih Insentif Mobil Listrik
-
Bank Indonesia dan Bank Negara Malaysia Perkuat Sektor Moneter dan Sistem Pembayaran
-
Warga Jabodetabek Kabur Liburan, Kendaraan Padati Jalan Tol
-
Alasan Panas Bumi Jadi Pusat Pengembangan Energi terbarukan
-
Kemenhub Restui Maskapai Naikkan Fuel Surchage 50%, Tiket Pesawat Ikut Melonjak?