-
BGN meluncurkan program BGN Agripreneur untuk menciptakan wirausahawan pertanian baru yang memanfaatkan teknologi digital.
-
Program ini bertujuan mengatasi tantangan di sektor pertanian seperti kesejahteraan petani yang rendah dan kurangnya minat anak muda, sekaligus menangkap potensi pasar organik global yang sangat besar.
-
BGN Agripreneur didasarkan pada kesuksesan produk pupuk organik Mustika Tani, yang terbukti mampu meningkatkan kualitas panen dan efisiensi biaya bagi petani.
Suara.com - PT Berniaga Gemilang Nusantara (BGN) secara resmi meluncurkan gerakan BGN Agripreneur di Gedung Budaya Sabilulungan, Soreang, di hadapan 700 peserta.
Inisiatif ini dirancang untuk mencetak generasi baru wirausahawan pertanian yang memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas jangkauan pasar.
Menurut H. Suroto Zaffirt, pemilik PT BGN, program ini berawal dari keprihatinan terhadap kondisi pertanian di Indonesia.
Ia menyoroti rendahnya kesejahteraan petani, kerusakan lahan akibat penggunaan pupuk kimia, serta minimnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian.
"BGN Agripreneur adalah ikhtiar kami untuk mengubah tantangan tersebut menjadi peluang ekonomi yang berkelanjutan," ujar Suroto, dikutip dalam keterangan resminya.
Suripto, Penasihat Program BGN Agripreneur, memaparkan tantangan serius yang dihadapi sektor pertanian nasional. Ia menyebutkan bahwa 60% lahan pertanian mengalami kerusakan karena ketergantungan pada pupuk kimia.
Selain itu, produktivitas padi nasional (5,2 ton/ha) masih di bawah Vietnam (6,1 ton/ha), dan rata-rata usia petani saat ini sudah di atas 50 tahun, mengancam regenerasi.
Namun, di balik tantangan tersebut, terdapat potensi pasar yang sangat besar. Suripto menyoroti nilai pasar produk organik global yang diproyeksikan mencapai Rp11.200 triliun pada 2032.
Sementara itu, kebutuhan pasar domestik Indonesia senilai Rp2.400 triliun masih belum terisi.
Baca Juga: Lahan Jadi Sekolah: Petani Muda Kebumen Ini Ubah Pertanian Jadi Ajang Berbagi Ilmu
Dalam acara tersebut, Danny Ramdani, seorang praktisi pemasaran digital, menekankan pentingnya adaptasi digital.
Ia menyebutkan bahwa dengan 212 juta pengguna internet di Indonesia per Februari 2025, pasar digital telah menjadi tempat utama bagi bisnis.
"Ini bukan lagi pilihan, di sinilah pasar kita berada," tegas Danny.
Program BGN Agripreneur dibangun di atas keberhasilan produk unggulan perusahaan, yaitu pupuk organik Mustika Tani. Pak Edi, seorang petani tebu dari Malang, memberikan testimoni bahwa penggunaan pupuk ini membuat panen tebu miliknya meningkat secara kualitas.
"Usia tebu baru 6 bulan, tapi kadar gulanya sudah mencapai kadar gula tinggi (19% brix). Biasanya baru tercapai di usia 1 tahun," jelasnya.
Kesuksesan lain datang dari Haji Andre, seorang eksportir sayuran yang mengelola 3.000 hektar lahan. Ia menyatakan bahwa penggunaan produk BGN membuat biaya pemupukan menjadi lebih hemat, panen lebih cepat, hasil meningkat, dan kualitas pascapanen lebih baik.
"Produk kami terbukti aman sampai ke Taiwan," ujar Haji Andre, menunjukkan bahwa produk BGN telah memenuhi standar pasar ekspor yang ketat.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- Daripada Nyicil BeAT: Ini 5 Motor Keren Murah Bertenaga untuk Pelajar, Harga Mulai 5 Jutaan Saja
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Beroperasi Bertahun-tahun Tanpa Izin Resmi, Pabrik Pengolahan Oli Bekas di Tangerang Resmi Ditutup
- Suzuki Burgman 15 Sudah Ada di Dealer, Skutik Penantang NMAX dengan Layar TFT dan Traction Control
Pilihan
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
-
Sudewo Tolak Dakwaan Gabungan Kasus DJKA dan Perangkat Desa, Kuasa Hukum Sebut Langgar KUHAP!
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
Terkini
-
Hutama Karya Catat Kinerja Positif dalam Pengelolaan 14 Ruas Tol di Wilayah Indonesia
-
Minyakita Masih Mahal, CORE Sebut Produsen Sawit Lebih Pilih Ekspor Ketimbang Pasok Dalam Negeri
-
Siapa Richard Muljadi? Cucu Konglomerat Terjerat Penipuan Batu Bara
-
Teknologi AI Bikin Purbaya Lebih Cepat Endus Pakaian Bekas Impor Ilegal
-
Investor Asing Bawa Kabur Dana Rp393 Miliar dari Pasar Saham di Sesi I
-
BUMI Resmi Tak Bagikan Dividen, Ke Mana Larinya Laba Bersih Tahun 2025?
-
Melihat Keuangan RANS yang Pincang Jelang IPO: Laba Turun 41%, Masih Bergantung pada Raffi-Nagita
-
Industri Tekstil RI Tak Mampu Olah, Purbaya Pilih Musnahkan Pakaian Bekas Impor Ilegal
-
Profil INACO (PT Niramas Utama Tbk): Saham IPO, Kondisi Keuangan, dan Pemegang Saham
-
Finex: Kepatuhan dan Edukasi Lebih Penting daripada Janji Untung Trading