- Harga minyak mentah AS melemah pada Jumat, 6 Februari 2026, akibat dialog nuklir AS-Iran di Oman meredakan ketakutan pasar.
- Harga minyak Brent berjangka turun menjadi 67,05 dolar AS per barel dan WTI AS di 62,77 dolar AS per barel.
- Pelemahan ini menandai penurunan mingguan pertama setelah sempat melonjak tinggi disebabkan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Suara.com - Harga minyak mentah AS kembali melemah pada hari Jumat 6 Februari 2026, mencatatkan penurunan mingguan untuk pertama kalinya dalam beberapa pekan terakhir.
Tren ini dipicu oleh optimisme investor terhadap dialog nuklir AS-Iran di Oman, yang meredakan ketakutan pasar terhadap gangguan distribusi energi dari Timur Tengah.
Mengutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka turun 50 sen, atau 0,74 persen menjadi 67,05 dolar AS per barel pada pukul 01.02 GMT (08.02 WIB), setelah ditutup 2,75 persen lebih rendah pada sesi sebelumnya.
Sementara minyak mentah West Texas Intermediate AS berada di harga 62,77 dolae AS per barel, turun 52 sen atau 0,82 persen, setelah ditutup 2,84 persen lebih rendah pada hari Kamis.
Setelah sempat melonjak ke level tertinggi enam bulan akibat ketegangan antara AS dan Iran pada akhir Januari, harga minyak kini berbalik turun (terkoreksi).
Penurunan sebesar 3 persen ini membawa harga patokan minyak ke jalur pelemahan mingguan pertama dalam kurun waktu lebih dari satu bulan.
Sebagaimana dilaporkan, di tengah eskalasi militer AS di Timur Tengah, kedua negara setuju melakukan perundingan di Oman pada hari Jumat.
Langkah ini diambil karena aktor-aktor regional berupaya mencegah bentrokan bersenjata yang dikhawatirkan dapat memicu perang berskala luas di kawasan tersebut.
Diketahui, sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia melewati Selat Hormuz antara Oman dan Iran.
Baca Juga: Tensi AS - Iran Mereda, Harga Minyak Dunia Terkoreksi ke 68 Dolar AS
Anggota OPEC lainnya, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak, mengekspor sebagian besar minyak mentah mereka melalui selat tersebut, begitu pula Iran.
"Meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran telah berkontribusi pada kenaikan harga minyak," kata analis Capital Economics dalam sebuah catatan.
"Namun kami pikir kekhawatiran geopolitik akan tergantikan oleh fundamental yang lemah," kata mereka, merujuk pada pemulihan produksi minyak Kazakhstan yang akan membantu mendorong harga minyak lebih rendah menuju 50 dolar AS per barel pada akhir tahun 2026.
Berita Terkait
-
Minyak di Balik Serangan AS ke Venezuela, Mengapa China Paling Rugi?
-
Harga Minyak Dunia Bisa Tembus USD 100 per Barel Setelah Trump Culik Maduro
-
Harga Minyak Dunia Mulai Mendidih Akibat Ulah Trump Kudeta Venezuela
-
Trump Kudeta Venezuela, Harga Minyak Dunia Bisa Melejit?
-
Perdagangan Perdana 2026, Harga Minyak Dunia Naik Tipis
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Promo Alfamart Hari Ini 7 Mei 2026, Body Care Fair Diskon hingga 40 Persen
- 5 Pilihan HP Android Kamera Stabil untuk Hasil Video Minim Jitter Mei 2026, Terbaik di Kelasnya
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
MBG Bisa Dijalankan Tanpa Ganggu Kondisi Fiskal, Begini Caranya
-
Asosiasi Bisnis RI - Filipina Resmi Terbentuk, Fokus Atasi Hambatan Dagang
-
Apa itu Bond Stabilization Fund yang Mau Dikerahkan untuk Stabilkan Rupiah?
-
Kisah Bambang Jadi Agen BRILink Nomor 1 di Klaten, Dari Ngontrak hingga Antarkan Anak ke Jepang
-
Dikuras untuk Bayar Utang dan Jaga Rupiah, Cadangan Devisa Indonesia Capai Titik Terendah Sejak 2024
-
Langgar Aturan Penagihan, Indosaku Didenda OJK Rp875 Juta
-
Sebut Beda Karakteristik, IMA Ragukan Skema Migas Diterapkan di Sektor Tambang
-
Dampingi Presiden Prabowo di KTT ASEAN, Bahlil Fokus Bahas Diversifikasi Energi
-
Dukung Ekonomi Rakyat, Pegadaian Hadirkan Solusi Keuangan Inklusif di Timor Leste
-
Harga Pangan Hari Ini Naik? Cabai Rawit Tembus Rp65 Ribu per Kg, Telur Ayam Rp31 Ribu