Suara.com - Isu pengelolaan sampah di Indonesia kini tidak hanya menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat, tetapi juga mulai menarik minat serius dari dunia usaha, termasuk perusahaan-perusahaan yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Permasalahan "darurat sampah" di banyak daerah justru membuka peluang bisnis besar, terutama dalam pengembangan teknologi Waste-to-Energy (WtE) atau pengolahan limbah menjadi produk bernilai tambah.
Beberapa emiten, baik yang memang sudah lama bergerak di sektor limbah maupun yang melakukan transformasi bisnis dari sektor lain (seperti batu bara), kini mulai serius menggarap "emas hijau" ini.
Berikut adalah beberapa emiten yang dikenal fokus atau memiliki porsi signifikan dalam bisnis pengelolaan sampah dan limbah di Indonesia:
1. PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA)
Fokus Bisnis: Awalnya dikenal sebagai perusahaan batu bara, TOBA sedang melakukan transformasi bisnis yang "berani" (bold transformation) menuju energi hijau dan bisnis berkelanjutan, termasuk pengelolaan limbah.
Aktivitas Pengelolaan Limbah:
- Limbah Medis dan Umum: TOBA telah mengakuisisi perusahaan pengelola limbah, termasuk perusahaan Singapura bernama Asia Medical Enviro Services (AMES) yang fokus pada limbah medis, serta perusahaan Indonesia ARAH Environmental yang melayani limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) medis, komersial, dan domestik.
- Mengubah Limbah Menjadi Energi: Salah satu fokus utamanya adalah mengolah limbah menjadi sumber energi. Ini sejalan dengan upaya perseroan untuk mencapai portofolio 100% hijau pada tahun 2030.
- Kinerja: Segmen pengelolaan limbah TOBA menunjukkan pertumbuhan pendapatan yang signifikan, menjadikannya katalis jangka panjang bagi kinerja perseroan.
2. PT Multi Hanna Kreasindo Tbk (MHKI)
Fokus Bisnis: MHKI adalah perusahaan yang memang bergerak di bidang pengelolaan limbah sejak didirikan pada tahun 2004. Perusahaan ini menawarkan layanan terintegrasi atau One Package Service.
Baca Juga: IHSG Dibuka Menghijau Tembus Level 8.200, Hari Ini Masih Tren Bullish
Aktivitas Pengelolaan Limbah:
- Limbah B3 dan Non-B3: MHKI beroperasi dengan izin resmi dari Kementerian Lingkungan Hidup untuk mengolah limbah berbahaya dan beracun (B3) serta limbah non-B3.
- Layanan Lengkap: Layanan mereka mencakup pengangkutan (transporter), pengumpul, pengolah, hingga pemanfaat limbah.
- Produk Bernilai Tambah: MHKI memiliki keunggulan dalam menghasilkan produk sampingan dari pengolahan limbah yang memiliki nilai jual tinggi, seperti logam batangan, oli-bahan bakar alternatif, hingga plastik poliester. Hal ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular.
3. PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA)
Fokus Bisnis: OASA adalah emiten yang memposisikan diri di sektor energi terbarukan (EBT), termasuk proyek yang berkaitan dengan pengelolaan sampah menjadi energi.
Aktivitas Pengelolaan Limbah:
- Waste-to-Energy (WtE): Perusahaan ini melalui anak usahanya, seperti PT Mentari Biru Energi dan PT Indoplas Makmur Lestari, terlibat dalam treatment air, limbah, serta pemulihan material sampah.
- Bioenergi: Bisnisnya juga mencakup industri kayu bakar, pelet kayu, dan pengadaan gas bio (biomassa), yang mana bahan bakunya bisa terkait dengan limbah organik atau sisa hasil hutan.
- Ekspansi: OASA secara aktif berupaya memperluas proyek Waste-to-Energy di Indonesia.
4. PT Sumber Global Energy Tbk (SGER)
Fokus Bisnis: Awalnya di sektor perdagangan batu bara, SGER telah melakukan diversifikasi bisnis untuk masuk ke sektor energi baru terbarukan dan pengelolaan limbah.
Aktivitas Pengelolaan Limbah: SGER menunjukkan komitmennya di sektor ini melalui akuisisi saham di PT Jabar Bersih Lestari untuk menggarap proyek Waste-to-Energy (pengolahan sampah menjadi energi listrik). Langkah ini menunjukkan ketertarikan perusahaan energi konvensional untuk berpartisipasi dalam solusi masalah sampah dan energi bersih.
Sektor pengelolaan sampah di Indonesia, terutama yang berbasis teknologi Waste-to-Energy dan daur ulang, memiliki prospek cerah karena didukung oleh kebutuhan mendesak akan solusi masalah lingkungan dan juga dukungan regulasi pemerintah.
Emiten-emiten di atas menjadi pilihan menarik bagi investor yang ingin berpartisipasi dalam bisnis yang sejalan dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dan keberlanjutan.
Namun, investor tetap disarankan untuk melakukan analisis mendalam terhadap prospek, kinerja keuangan, dan manajemen risiko masing-masing emiten sebelum mengambil keputusan investasi.
Kontributor : Rizqi Amalia
Berita Terkait
Terpopuler
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
Danantara Bakal Ikut Kelola Dana Haji, UU BPKH Siap Digodok Ulang
-
BEI Bidik 50 Ribu Calon Investor Masuk di Pasar Modal Syariah, Ini Strateginya
-
Baznas Tetapkan Nisab Zakat 2026 Naik 7 Persen, Ini Alasannya
-
Ancaman Pelarangan Vape Dinilai Bisa Matikan UMKM dan Ratusan Ribu Lapangan Kerja
-
Perkuat Fondasi Kelistrikan Nasional, PLN Enjiniring Akselerasi Transformasi Digital dan SDM
-
Danantara Gaspol Bentuk Holding BUMN Maskapai, Target Semester I-2026 Rampung
-
Tekan Angka Kecelakaan Kerja, SMGR Catat Nihil Fatalitas di Seluruh Pabrik
-
Naik Tipis, CIMB Niaga Raup Laba Rp6,93 Triliun
-
OJK Restui Empat BPR di Priangan Timur Digabungkan, Apa Untungnya?
-
RI Boncos! Ini Alasan AS Tetapkan Tarif 104 Persen Produk Panel Surya Indonesia