- Gubernur BI menyampaikan duka atas bencana banjir dan longsor di 10 wilayah Sumatera pada 28 November 2025.
- Dalam Pertemuan Tahunan BI 2025, Gubernur mengajak hadirin mendoakan dan memberikan dukungan kepada masyarakat terdampak bencana.
- BI mewaspadai lima ketidakpastian global, seperti kebijakan proteksionis AS, yang memengaruhi prospek ekonomi dunia 2026 dan 2027.
Suara.com - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menyampaikan duka mendalam mengenai musibah bencana banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah Sumatera.
Adapun, dalam musibah bencana banjir dan tanah langsung ini terjadi di 10 kabupaten/kota Sumatera seperti Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat.
Banjir di Sumatera menjadi salah satu bencana terparah yang terjadi di Indonesia tahun 2025 ini.
"Bapak Presiden dan hadirin yang kami hormati, saat ini saudara-saudara kita, di Sibolga, Lhokseumawe, dan sejumlah daerah lain, sedang mendapat musim bencana alam," ujar Perry, dalam acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025, di Gedung Grha Bhasvara Icchana, Kompleks Kantor Pusat Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (28/11/2025).
Dia mengajak bersama-sama memanjatkan doa untuk masyarakat yang terdampak musibah tersebut.
Ia juga mengajak masyarakat untuk memberikan dukungan terhadap para korban.
"Melalui podium, melalui mimbar yang terhormat ini, kami dari Bank Indonesia mengajak kita semua untuk memanjatkan doa dan menyisihkan sebagian rezeki kita untuk membantu saudara-saudara," kata dia.
Sementara itu, BI juga mewaspadai ketidakpastian global yang masih tinggi ini dampak dari kebijakan proteksionis Amerika Serikat (AS). Pasalnya ketegangan politik yang masih terus berlangsung.
“Prospek ekonomi global masih 2026 dan 2027 masih meredup," bebernya.
Baca Juga: BI dan Kementerian Investasi Integrasikan Layanan Perizinan
Dia mengungkapkan ketidakpastian pada tahun depan. Pertama, kebijakan tarif AS yang berlanjut berakibat turunnya perdagangan dunia, meredupnya multilateral dan bangkitnya bilateral dan regionalisme.
Kedua, pertemuan ekonomi dunia melambat utamanya AS dan China. Sementara Uni Eropa, India, Indonesia cukup baik. Penurunan inflasi yang lebih lambat yang mempersulit kebijakan moneter bank sentral.
Ketiga, tingginya utang dan suku bunga di negara maju karena defisit fiskal yang cukup besar berdampak pada beban bunga dan beban fiskal negara-negara berkembang.
Keempat, tingginya kerentanan dan risiko sistem keuangan dunia karena transaksi produk derivatif yang berlipat terutama hedge fund dengan mesin trading berdampak pada pelarian modal dan tekanan nilai tukar di negara berkembang.
Kelima, maraknya uang kripto dan stablecoin pihak swasta. Belum ada pengaturan dan pengawasan yang jelas. Disinilah perlunya Central Bank Digital Currency.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Sepatu Adidas Diskon 60 Persen di Sports Station, Ada Adidas Stan Smith
- Kronologi Lengkap Petugas KAI Diduga Dipecat Gara-Gara Tumbler Penumpang Hilang
- 5 Moisturizer dengan Alpha Arbutin untuk Memudarkan Flek Hitam, Cocok Dipakai Usia 40-an
- 7 Sabun Muka Mengandung Kolagen untuk Usia 50-an, Bikin Kulit Tetap Kencang
- 15 Merek Ban Mobil Terbaik 2025 Sesuai Kategori Dompet Karyawan hingga Pejabat
Pilihan
-
Airbus Umumkan A320 Bermasalah, Kemenhub Sebut 38 Pesawat di RI Kena Dampak
-
Polemik RS dr AK Gani 7 Lantai di BKB, Ahli Cagar Budaya: Pembangunan Bisa Saja Dihentikan
-
KGPH Mangkubumi Akui Minta Maaf ke Tedjowulan Soal Pengukuhan PB XIV Sebelum 40 Hari
-
Haruskan Kasus Tumbler Hilang Berakhir dengan Pemecatan Pegawai?
-
BRI Sabet Penghargaan Bergengsi di BI Awards 2025
Terkini
-
Airbus Umumkan A320 Bermasalah, Kemenhub Sebut 38 Pesawat di RI Kena Dampak
-
Perusahaan Syariah Grup Astra Incar Ceruk Bisnis Haji Lewat Ekosistem Pembiayaan
-
Studi Ungkap Konsumen Suka Hadiah yang Diberikan Suatu Brand
-
PGN-Gasnet Bangun Jaringan Internet Berkecepatan Tinggi di Kampus
-
Komitmen PNM Hijaukan Negeri: Menumbuhkan Harapan dari Akar Bumi
-
BRI Sabet Penghargaan Bergengsi di BI Awards 2025
-
Kabar Kenaikan Gaji PNS Tahun 2026, Ada 2 Syarat
-
Kementerian ESDM Buka Peluang Impor Gas dari AS untuk Penuhi Kebutuhan LPG 3Kg
-
Bisnis AI Kian Diminati Perusahaan Dunia, Raksasa China Bikin 'AI Generatif' Baru
-
Waskita Karya Rampungkan Transaksi Divestasi Saham Jalan Tol Cimanggis - Cibitung Rp3,28 Triliun