- Harga minyak dunia melemah pada Selasa 9 Desember 2025 karena ketidakpastian upaya perdamaian Ukraina-Rusia.
- Minyak Brent turun menjadi $62,47 dan WTI menjadi $58,84 setelah Irak memulihkan produksi minyak besar.
- Pasar menantikan keputusan suku bunga The Fed dan kemungkinan dampak kebijakan baru G7 terhadap minyak Rusia.
Suara.com - Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Selasa 9 Desember 2025.
Penurunan harga dipicu ketidakpastian upaya perdamaian antara Ukraina dengan Rusia, dan keputusan kedepan mengenai suku bunga Amerika Serikat.
Mengutip dari Investing.com, harga minyak mentah Brent turun 2 sen, atau 0,03 persen, menjadi 62,47 dolar AS per barel pada pukul 01.01 GMT. M
inyak mentah West Texas Intermediate AS turun 4 sen, atau 0,07 persen, menjadi 58,84 dolar AS.
Tercatat kedua kontrak turun lebih dari 1 dolar AS pada hari Senin, usai Irak memulihkan produksi di ladang minyak West Qurna 2 milik Lukoil, salah satu yang terbesar di dunia.
Melemah harga minyak dipicu ketidakpastian perdamaian antara Rusia dengan Ukraina.
Dilaporkan, Ukraina akan membahas rencana perdamaiannya yang direvisi dengan AS, setelah adanya pembicaraan antara Presiden Volodymyr Zelenskiy dan pemimimpin Prancis, Jerman, serta Inggris.
"Harga minyak berada dalam kisaran perdagangan yang ketat sampai kita mendapatkan gambaran yang lebih baik tentang arah pembicaraan damai," kata kepala analis pasar KCM Trade, Tim Waterer.
Waterer memperkirakan, jika perundingan antara Ukraina dengan Rusia gagal, harga minyak dunia akan naik.
Baca Juga: Pasokan Rusia dan Venezuela Terancam, Harga Minyak Dunia Melonjak
"Atau jika ada kemajuan, dan ada kemungkinan pasokan Rusia ke pasar energi global kembali pulih, harga diperkirakan akan turun," katanya.
Sementara itu, negara-negara Kelompok Tujuh (G7) dan Uni Eropa (UE) dikabarkan sedang merundingkan rencana untuk mengganti pembatasan harga ekspor minyak Rusia dengan larangan total layanan maritim, sebagai upaya untuk memotong pendapatan minyak Rusia.
Selain itu, perhatian pasar juga tertuju pada keputusan kebijakan Federal Reserve (The Fed) pada hari Rabu, di mana pasar memperkirakan probabilitas pemotongan suku bunga sebesar 0,25 persen (seperempat poin) mencapai 87 persen.
Analis dari BMI memperkirakan bahwa kelebihan pasokan di pasar energi akan terus terjadi, yang menurut mereka akan membuat harga tetap tertekan pada 2026.
"Meskipun banyak hal bergantung pada respons OPEC+ terhadap penurunan harga pada kuartal pertama tahun 2026, kita akan melihat harga minyak mentah pulih hingga akhir tahun 2026 berkat penurunan produksi akibat melambatnya aktivitas serpih AS dan pertumbuhan konsumsi yang stabil yang mendorong pasar lebih dekat ke arah keseimbangan," tulis BMI.
Berita Terkait
-
The Fed Pangkas Suku Bunga, Harga Bitcoin Langsung Terbang?
-
The Fed Pangkas Suku Bunga, Apa Dampaknya Terhadap Perbankan Indonesia?
-
Harga Emas Antam Pecah Rekor Lagi Tembus Lebih dari Rp2,1 Juta, Ini Penyebabnya
-
IHSG Berbalik Rebound di Sesi I, Apa Pemicunya?
-
Trump Pecat Gubernur The Fed Lisa Cook, Segini Jumlah Pesangon yang Diterima
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
-
Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi, Diduga Aniaya Karyawan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
Terkini
-
Suku Bunga Deposito BRI Tahun 2026
-
Belanja Suku Cadang Lokal SMGR Tembus Rp809 Miliar di 2025
-
Dari Limbah Jadi Nilai Ekonomi, Kisah Inspiratif Ibu Amaliyah Bersama PNM di Kampung Masigit
-
Sinergi Hulu Migas Dorong Tata Kelola Sumur Rakyat dan Ketahanan Energi Nasional
-
Industri Tekstil RI Terjepit: Krisis Global dan Serbuan Barang Kawasan Berikat
-
Prabowo Tunjuk Pengusaha Tambang-Sawit: Cari Makan di Sini, Simpan Uang di Luar Negeri!
-
Cekik Industri Tembakau Sama Saja 'Bunuh' 6 Juta Pekerja, Wamenaker: Negara Belum Siap!
-
7 Subsektor Manufaktur Melemah, Kemenperin Ungkap Biang Keroknya
-
Prabowo Gebrak Hilirisasi Fase II Senilai Rp116 Triliun: Jalan Tunggal Menuju Kemakmuran!
-
IKI April 2026 Bertahan di Level Ekspansi 51,75 Meski Bayang-bayang Global Menghantui