-
BUMN/anak usaha absen IPO di BEI selama 2 tahun terakhir, disorot OJK dan BEI.
-
OJK akui IPO adalah kebijakan bisnis BUMN, namun OJK dorong transparansi prosesnya.
-
BEI anggap BUMN potensial kuatkan likuiditas pasar, namun suplai IPO terhenti.
Suara.com - Minat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) tampaknya mulai makin jauh. Pasalnya, selama dua tahun terakhir, tidak ada satu pun BUMN maupun anak usahanya yang tercatat melakukan Initial Public Offering (IPO).
Kondisi absennya perusahaan plat merah ini mulai disorot tajam oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI.
Direktur Utama BEI, Iman Rachman, secara terbuka menyatakan kekhawatirannya. Menurutnya, BUMN dan anak usahanya memiliki potensi besar untuk memperbesar kapitalisasi pasar saham.
"Kita mesti lihat bahwa 2 tahun terakhir ini tidak ada BUMN maupun anak perusahaan BUMN yang listing di Bursa. Jadi kita masih lihat banyak potensi atas perusahaan-perusahaan BUMN untuk listing di Bursa Efek," ungkap Iman pada konferensi pers RUPSLB secara virtual, Rabu (29/10/2025).
Kehadiran perusahaan dengan kapitalisasi pasar besar sangat krusial bagi BEI untuk memenuhi kebutuhan suplai instrumen investasi yang bervariasi dan memperkuat likuiditas pasar.
Meskipun menyadari pentingnya kehadiran BUMN, OJK menyatakan bahwa mereka tidak dapat mendikte keputusan bisnis perusahaan negara tersebut.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi, menegaskan bahwa keputusan IPO sepenuhnya berada di tangan manajemen BUMN.
"Keputusan untuk melakukan IPO sepenuhnya merupakan pertimbangan dan kebijakan bisnis masing-masing perusahaan," ungkap Inarno dalam keterangan tertulisnya, Jumat (12/12/2025).
Meski demikian, OJK terus menjalankan program pendalaman pasar bersama Self-Regulatory Organization (SRO) dan pelaku pasar. Peran OJK di sini adalah memastikan seluruh proses pencatatan saham berjalan secara profesional dan transparan, serta melindungi kepentingan investor.
Baca Juga: Investor Saham Makin Doyan Market Order, Nilai Transaksi Tembus Rp1 Triliun Per Hari
Absennya BUMN selama dua tahun berturut-turut ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai strategi jangka panjang pemerintah dalam memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan dan mekanisme transparansi perusahaan negara.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Cushion Anti Longsor 24 Jam, Makeup Tahan Lama Meski Cuaca Panas
- Film Pesta Babi Bercerita tentang Apa? Ini Sinopsis dan Maknanya
- Bantah Kepung Rumah dan Sandera Anak Ahmad Bahar, GRIB Jaya: Kami Datang Persuasif Mau Tabayun!
- Koperasi Merah Putih Viral, Terekam Ambil Stok dari Gudang Indomaret
- Dompet Penarik Rejeki Warna Apa? Ini Pilihan agar Kamu Beruntung sesuai Shio dan Feng Shui
Pilihan
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
Terkini
-
Dukung Aktualisasi dan Kreativitas Mahasiswa, Pertamina Gelar Energy AdSport Challenge di ITB
-
BTN JAKIM 2026 Bakal Digelar 13-14 Juni, Masyarakat Diminta Perhatikan Ruas Jalan Terdampak
-
Purbaya Lanjutkan Efisiensi Anggaran MBG usai Dipotong Jadi Rp 268 T
-
Menteri Purbaya hingga Bahlil Rapat Keluhan Kadin China, Bahas Apa Saja?
-
Rumor Badan Ekspor Bikin IHSG Anjlok, Ini Saham Paling Boncos
-
Pertamina Gelar Sokoguru Policy Forum Bahas Ketahanan dan Transisi Energi Nasional
-
Bos Danantara Saham BUMN Perbankan Lagi Murah, Saatnya Beli?
-
Rosan Hingga Bahlil Ikut Tertutup Soal Badan Ekspor
-
Harga Minyak Mentah Indonesia Melonjak ke 117,31 Dolar AS per Barel
-
Rupiah Loyo, Duit Subsidi Bengkak! Stok Pertalite Tinggal 16 Hari