- PT Moratelindo (MORA) berencana merger dengan PT Eka Mas Republik (EMR/MyRepublic) untuk integrasi vertikal infrastruktur dan layanan ritel.
- Setelah merger, nama perusahaan menjadi PT Ekamas Mora Republik Tbk, dengan pemegang saham lama MORA mengalami dilusi kepemilikan signifikan.
- Transisi ini masih menunggu persetujuan regulator OJK dan restu pemegang saham melalui RUPS.
Suara.com - Lanskap industri telekomunikasi dan infrastruktur digital di Indonesia kembali dihebohkan dengan rencana aksi korporasi besar. PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA), atau yang lebih dikenal sebagai Moratelindo, baru saja mengumumkan rencana penggabungan usaha atau merger dengan PT Eka Mas Republik (EMR).
Langkah strategis ini diprediksi akan mengubah peta persaingan layanan internet dan infrastruktur fiber optik di tanah air.
Sebagai informasi, EMR merupakan perusahaan di bawah naungan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang terafiliasi dengan raksasa bisnis Grup Sinar Mas.
EMR selama ini dikenal luas sebagai operator layanan internet cepat (ISP) dengan merek dagang MyRepublic.
Penyatuan kekuatan antara pemilik jaringan kabel laut dan darat (Moratelindo) dengan penyedia layanan ritel (MyRepublic) dinilai sebagai langkah vertikal yang sangat efisien.
Dalam keterangan resminya yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen MORA menjelaskan bahwa dalam skema transaksi ini, Moratelindo akan bertindak sebagai entitas yang menerima penggabungan (surviving entity).
Hal ini berarti MORA akan tetap menjadi perusahaan terbuka yang tercatat di bursa, namun dengan struktur bisnis yang jauh lebih besar.
Salah satu poin menarik dari aksi korporasi ini adalah rencana penggantian identitas perusahaan. Setelah proses merger dinyatakan tuntas, nama perusahaan hasil penggabungan ini rencananya akan diubah menjadi PT Ekamas Mora Republik Tbk.
Aksi merger ini membawa konsekuensi besar pada struktur permodalan perusahaan. Berdasarkan proyeksi yang dirilis, pemegang saham lama MORA akan mengalami dilusi kepemilikan saham yang cukup signifikan, yakni diperkirakan mencapai 50,50 persen.
Baca Juga: Target Harga DEWA, Sahamnya Masih Bisa Menguat Drastis Tahun 2026?
Peta kepemilikan mayoritas akan beralih secara drastis ke tangan para pemegang saham EMR. Berikut adalah rincian proyeksi struktur kepemilikan saham pascamerger:
PT Innovate Mas Utama: Akan muncul sebagai pengendali baru dengan penguasaan 48,36 persen saham di entitas hasil merger.
PT Candrakarya Multikreasi: Perusahaan yang dikendalikan oleh Farida Bau ini akan mengalami penyusutan porsi kepemilikan dari semula 35,99 persen menjadi hanya 17,81 persen.
Investor Publik: Porsi kepemilikan masyarakat juga akan tergerus cukup dalam, dari posisi awal 33,83 persen menjadi tersisa 16,74 persen.
Sebelum adanya rencana merger ini, pemegang saham utama MORA terdiri dari PT Candrakarya Multikreasi (35,99%), PT Gema Lintas Benua (30,18%), dan sisanya dimiliki oleh publik.
Farida Bau, sang pengusaha kawakan di balik kesuksesan Moratelindo, hingga saat ini masih tercatat sebagai penerima manfaat akhir (ultimate beneficial owner) dari saham MORA sebelum kendali beralih ke Grup Sinar Mas melalui Innovate Mas Utama.
Berita Terkait
Terpopuler
- Selamat Tinggal Jay Idzes? Sassuolo Boyong Amunisi Pertahanan Baru dari Juventus Jelang Deadline
- Kakek Penjual Es Gabus Dinilai Makin 'Ngelunjak' Setelah Viral, Minta Mobil Saat Dikasih Motor
- 4 Calon Pemain Naturalisasi Baru Era John Herdman, Kapan Diperkenalkan?
- 26 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 31 Januari 2026: Buru Gullit 117 OVR dan Voucher Draft Gratis
- Muncul Isu Liar Soal Rully Anggi Akbar Setelah Digugat Cerai Boiyen
Pilihan
-
Setiap Hari Taruhkan Nyawa, Pelajar di Lampung Timur Menyeberang Sungai Pakai Getek
-
Mundur Berjamaah, Petinggi OJK dan BEI Kalah dengan Saham Gorengan?
-
Kisah Pilu Randu Alas Tuksongo, 'Raksasa yang Harus Tumbang' 250 Tahun Menjadi Saksi
-
Insentif Mobil Listrik Dipangkas, Penjualan Mobil BYD Turun Tajam
-
Pasar Modal RI Berpotensi Turun Kasta, Kini Jepang Pangkas Rekemondasi Saham BEI
Terkini
-
OJK: Bulan Ini Data Kepemilikan Saham di atas 1 Persen Dibuka ke Publik
-
PT Agincourt Resources Digugat Rp 200 Miliar oleh KLH
-
Kemenkeu Akui Inflasi Januari 2026 Naik Akibat Kebijakan Diskon Listrik
-
PMI Manufaktur Indonesia Naik ke 52,6 per Januari 2026, Unggul dari Vietnam
-
OJK Klaim Pertemuan dengan MSCI Berbuah Positif
-
Pandu Sjahrir Ingatkan Investor, Koreksinya IHSG Jadi Momentum Borong Saham
-
Purbaya Diminta Bereskan Piutang Dana BLBI, Berpotensi Rugikan Hak Keuangan Negara
-
BRI Apresiasi Nasabah Lewat Undian dan Kick Off BRI Consumer Expo 2026
-
Harga Emas dan Perak Dunia Turun Berturut-turut, Ini Penyebabnya
-
Mundur Berjamaah, Petinggi OJK dan BEI Kalah dengan Saham Gorengan?