- Rupiah depresiasi hampir 4% sepanjang 2025, terlemah kedua di Asia setelah Rupee India.
- Pergerakan liar roller coaster rupiah capai titik terendah Rp16.870 pada April 2025.
- Pergantian Menkeu dan inflasi 2,5% sempat bawa rupiah ke Rp16.110 sebelum kembali melemah.
Suara.com - Nilai tukar rupiah menutup tahun 2025 dengan catatan performa yang penuh gejolak. Sepanjang tahun, mata uang Garuda bergerak layaknya roller coaster, dipengaruhi oleh transisi kepemimpinan fiskal hingga dinamika ekonomi global.
Secara akumulatif, rupiah harus puas menempati posisi kedua dari bawah di antara mata uang utama Asia.
Hingga penghujung Desember, rupiah mencatatkan depresiasi hampir 4%. Kinerja ini menempatkan Indonesia pada posisi yang sulit, di mana hanya mata uang rupee India yang mencatatkan performa lebih buruk dengan pelemahan nyaris 5%.
Perjalanan rupiah tahun ini dimulai dengan tekanan berat pada kuartal pertama. Pada 25 Maret, rupiah terpuruk ke level Rp16.620/US$, dan terus merosot hingga menyentuh titik terendahnya di bulan berikutnya, yakni Rp16.870/US$ pada 24 April.
Memasuki tengah tahun, sempat muncul secercah harapan saat rupiah bergerak menguat di rentang Rp16.450 hingga mencapai posisi terkuatnya tahun ini di Rp16.110/US$ pada Agustus. Penguatan ini didorong oleh kepercayaan pasar terhadap stabilitas makroekonomi domestik.
Dinamika politik turut mewarnai fluktuasi mata uang. Pada awal September, saat Presiden melakukan reshuffle dengan mengganti Menteri Keuangan dari Sri Mulyani ke Purbaya Yudhi Sadewa, rupiah sempat menguat ke Rp16.304/US$. Namun, euforia tersebut singkat; pada akhir September, rupiah kembali melemah 0,44% ke level Rp16.750/US$, level terlemah dalam lima bulan terakhir.
Awal Oktober memberikan napas buatan melalui data inflasi yang terjaga di rentang target 2,5% ± 1%, membawa rupiah sedikit menguat ke Rp16.563/US$. Namun, tren pelemahan kembali berlanjut hingga akhir Oktober di level Rp16.645/US$.
Memasuki bulan November dan Desember, volatilitas tetap tinggi. Rupiah sempat menembus level Rp16.705/US$, lalu menguat tipis ke Rp16.622/US$ pada awal Desember. Namun, tekanan jual kembali meningkat pada perdagangan kemarin, di mana rupiah ditutup pada level Rp16.788/US$.
Meskipun fundamental ekonomi seperti inflasi tetap terkendali, tekanan eksternal dan sentimen pasar terhadap transisi kebijakan fiskal membuat rupiah gagal bersaing dengan mata uang Asia lainnya seperti Baht Thailand atau Won Korea yang lebih resilien tahun ini.
Baca Juga: Rupiah Konsisten Menguat, Dolar AS Loyo ke Level Rp16.773
Berita Terkait
Terpopuler
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
- 5 HP Xiaomi RAM Besar Termurah, Baterai Awet untuk Multitasking Harian
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
Pilihan
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
-
Keluar Kau Setan! Ricuh di Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping
Terkini
-
Serbu Promo Superindo Weekend, Ada Beli 1 Gratis 1 Minyak Goreng sampai Produk Bayi
-
Harga Minyak Terus Naik, DEN: Pembatasan BBM Akan Berdasarkan CC dan Jenis Kendaraan
-
Pasar Properti Ditopang Rumah Kecil dan Menengah
-
Dari Piutang hingga Tata Kelola, Ini PR Besar Perusahaan Sebelum IPO
-
Tarif Listrik Tak Naik sejak 2022, Kok Tagihan Bisa Membengkak?
-
QRIS Masuk Sektor Logistik, UMKM Agen Paket Ikut Kecipratan Manfaat
-
India Akhirnya Naikkan Harga BBM Setelah 4 Tahun Bertahan
-
Begini Ramalan Nilai Tukar Rupiah dalam Waktu Dekat, Bisa Tembus Rp 20.000?
-
Pemerintah Klaim Potensi Resesi RI Lebih Rendah dari AS, Jepang, dan Kanada
-
Bukan Belanja Pemerintah, Purbaya Klaim Konsumsi Rumah Tangga Dorong Ekonomi Tumbuh 5,61%