- Rupiah ditutup melemah 0,11 persen menjadi Rp 16.758 per USD pada Selasa, 6 Januari 2025.
- Pelemahan rupiah dipicu sentimen global dan data perdagangan domestik yang menunjukkan penurunan ekspor.
- Analis menyarankan Bank Indonesia segera melakukan intervensi agar rupiah tidak mengalami pelemahan lebih dalam.
Suara.com - Nilai tukar rupiah masih belum bangkit dari zona merah di penutupan Selasa, 6 Januari 2025. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp 16.758 per USD.
Alhasil, rupiah melemah 0,11 persen dibanding penutupan pada Senin yang berada di level Rp 16.740 per USD.
Sedangkan, kurs Jisdor Bank Indonesia tercatat di Rp 16.762 per dolar AS.
Saat ini pergerakan mata uang di Asia bervariasi dengan kecenderungan menguat. Di mana, ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,6 persen.
Selanjutnya ada baht Thailand yang menanjak 0,39 persen dan dolar Singapura yang terkerek 0,24 persen. Disusul, yuan China yang terangkat 0,12 persen.
Berikutnya, rupee India terapresiasi 0,07 persen dan yen Jepang naik 0,03 persen. Lalu dolar Taiwan yang sudah ditutup menguat tipis 0,02 persen.
Sentimen Pelemahan Rupiah
Dalam hal ini, Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah melemah dikarenakan sentimen global dan dalam negeri. Namun data perdagangan Indonesia mengecewakan yang dirilis Senin masih membebani.
"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS masih terbebani oleh data perdagangan yang menunjukkan penurunan ekspor yang besar dan impor yang stagnan, meningkatkan prospek pemangkasan suku bunga oleh BI," katanya saat dihubungi Suara.com.
Baca Juga: Purbaya Pede IHSG dan Rupiah Aman di Tengah Konflik AS-Venezuela
Lukman menuturkan, rupiah seharusnya bisa mengambil momentum saat indeks USD sendiri masih melemah hari ini. Untuk itu, Bank Indonesia harus segera mengintervensi rupiah agar tidak mengalami pelemahan yang lebih dalam.
"Rupiah jelas masih terbebani mengingat investor cenderung menghindari rupiah menjelang data-data ekonomi penting AS seperti NFP pekan ini, dan data cadangan devisa Indonesia. Rupiah hanya bisa mneguat dengan intervensi BI. Range Rp 16.700 - Rp 16.850," tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 5 Serum Penumbuh Rambut Terbaik untuk Rambut Menipis dan Area Botak
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Misbakhun: APBN Mustahil Bangkrut
-
Ini Strategi BTN Salurkan Kredit Perumahan Bagi Masyarakat
-
Ekonom UI: Masyarakat Kok Makin Miskin kala Pemerintah Klaim Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen
-
Misbakhun Nilai Pelemahan Rupiah Sekarang Tak Seburuk 1998
-
IHSG Bergejolak Karena Ekspor Dikendalikan Danantara, Pemerintah Harus Siapkan Mitigasi
-
Isu Sejumlah Merek Kendaraan Dilarang Beli Pertalite, Pertamina: Hoaks!
-
Pasca-Blackout Sumatra, Pasokan Listrik 8,3 Juta Pelanggan Diklaim PLN Mulai Pulih
-
Indikasi Awal, PLN Sebut Gangguan Cuaca jadi Penyebab Blackout di Sumatera
-
LPS Ajak Generasi Muda Kuasai Teknologi dan Mitigasi Risiko Keuangan
-
Aceh hingga Jambi Mati Blackout, Dirut PLN Minta Maaf!