Suara.com - Dunia maya, khususnya platform X dan YouTube, kembali diramaikan oleh diskusi hangat mengenai sosok Timothy Ronald. Pemuda yang selama ini dicitrakan sebagai investor kripto 'handal' tersebut kini menghadapi tudingan miring dari publik.
Bukannya prestasi baru yang dibicarakan, melainkan munculnya berbagai kecurigaan terkait keterlibatannya dalam skema edukasi yang dinilai menyerupai praktik penipuan berkedok investasi kripto.
Sosok yang identik dengan gaya hidup serba mewah ini dituduh telah menjaring ribuan pengikut melalui program pendidikan berbayar.
Namun, program tersebut kini dianggap oleh banyak pihak sebagai produk yang tidak substantif dan hanya mengandalkan persona kemewahan untuk menarik minat masyarakat.
Akademi Crypto Seharga Rp17 Juta
Pusat dari kontroversi ini adalah sebuah platform edukasi yang didirikan Timothy bernama Akademi Crypto.
Untuk mendapatkan akses ke dalam komunitas tersebut, peserta diwajibkan merogoh kocek yang tidak sedikit, yakni mencapai Rp17 juta per tahun.
Dalam berbagai kampanye pemasaran yang dilakukan secara masif di media sosial, Timothy menjanjikan bahwa setiap peserta akan memperoleh "ilmu rahasia" guna mencapai kebebasan finansial melalui strategi perdagangan dan investasi aset kripto.
Strategi pemasaran yang digunakan pun terbilang sangat personal. Timothy sering kali melabeli dirinya sebagai "anak muda triliuner" dan secara konsisten menjual narasi kesuksesan pribadinya sebagai bukti otentik dari efektivitas materi yang ia ajarkan.
Baca Juga: Aturan Baru Purbaya: Dirjen Pajak Bisa Intip Transaksi Kripto dan Dompet Digital
Daya tarik "cepat kaya" inilah yang diduga menjadi magnet utama bagi para investor pemula yang mendambakan hasil instan di pasar aset digital.
Seiring berjalannya waktu, gelombang kritik mulai bermunculan dari mereka yang pernah bergabung dalam kelas tersebut.
Berbagai testimoni negatif dari mantan anggota Akademi Crypto menyebutkan bahwa substansi pembelajaran yang diberikan sangat jauh dari nilai investasi yang telah dibayarkan.
Materi-materi teknis yang diharapkan mampu membimbing peserta menjadi trader andal justru dinilai sangat dangkal.
Banyak peserta merasa tertipu karena sebagian besar konten yang diajarkan sebenarnya merupakan informasi publik yang bisa ditemukan secara cuma-cuma melalui mesin pencari Google atau kanal YouTube edukasi lainnya.
Alih-alih mendapatkan bimbingan teknis yang mendalam, para peserta diduga justru merasa hanya disuguhi konten motivasi yang berlebihan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas yang Nyaman untuk Lansia, Legroom Lega dan Irit BBM
- 7 Mobil Bekas untuk Grab, Mulai Rp50 Jutaan: Nyaman, Irit dan Tahan Lama!
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
Pilihan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
-
Purbaya Merasa "Tertampar" Usai Kena Sindir Prabowo
-
Darurat Judi Online! OJK Blokir 31.382 Rekening Bank, Angka Terus Meroket di Awal 2026
Terkini
-
Swasembada Beras Sudah Sejak 2018, Apa yang Mau Dirayakan?
-
Kemenperin Adopsi Sistem Pendidikan Vokasi Swiss untuk Kembangkan SDM
-
Dukung Ekonomi Kerakyatan, Bank Mandiri Salurkan KUR Rp 41 Triliun hingga Desember 2025
-
Realisasi Konsumsi Listrik 2025 Tembus 108,2 Persen dari Target
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kementerian PU Percepat Pembangunan Huntara di Aceh Tamiang, 7 Blok Rampung untuk 84 KK
-
Purbaya Yakin MBG Paling Cepat Habiskan Anggaran di Awal 2026
-
Beban Impor LPG Capai 8,4 Juta Ton, DME Diharapkan Jadi Pengganti Efektif
-
Defisit APBN 2025 Hampir 3 Persen, Purbaya Singgung Danantara hingga Penurunan Pajak
-
Target IHSG Tembus 10.000, OJK: Bukan Tak Mungkin untuk Dicapai