- Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi memasukkan empat emiten (KOCI, MKAP, KIJA, PBSA) dalam pengawasan UMA sejak Senin (12/1).
- Keputusan ini diambil karena terjadi lonjakan harga saham yang signifikan dan tidak wajar dalam kurun waktu singkat.
- Pengawasan UMA bertujuan melindungi investor dan memastikan perdagangan berjalan secara teratur serta sehat bagi pelaku pasar.
Suara.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) secara resmi memasukkan empat emiten ke dalam radar pengawasan ketat dengan kategori Unusual Market Activity (UMA).
Keempat emiten tersebut adalah PT Kokoh Exa Nusantara Tbk. (KOCI), PT Multikarya Asia Pasifik Raya Tbk. (MKAP), PT Kawasan Industri Jababeka Tbk. (KIJA), dan PT Paramita Bangun Sarana Tbk. (PBSA).
Keputusan ini diambil menyusul adanya aktivitas transaksi yang dinilai tidak wajar, ditandai dengan lonjakan harga saham yang sangat signifikan dalam kurun waktu yang relatif singkat.
Investor diminta untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi terkait keempat saham tersebut, mengingat fluktuasi yang terjadi berada di luar kebiasaan pasar pada umumnya.
Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI, Yulianto Aji Sadono, memberikan penjelasan mengenai latar belakang penetapan status pengawasan khusus ini.
Menurutnya, publikasi status UMA merupakan bagian dari protokol bursa untuk memastikan perdagangan berjalan dalam koridor yang sehat.
“Pengumuman ini dilakukan sebagai bentuk perlindungan investor. Keputusan tersebut mulai efektif diberlakukan pada Senin (12/1),” ungkap Yulianto dalam rilis resminya.
Ia juga menegaskan bahwa langkah ini diambil agar perdagangan tetap berlangsung secara teratur, wajar, serta efisien bagi seluruh pelaku pasar.
Berdasarkan data perdagangan, keempat emiten ini memang menunjukkan performa harga yang luar biasa kuat, yang kemudian memicu kecurigaan sistem pengawasan bursa.
Baca Juga: Saham Tidur dan Cerita di Baliknya: Pelajaran Investasi untuk Anak Muda
Saham KOCI, misalnya, tercatat mengalami lonjakan hingga 91,01 persen hanya dalam sepekan terakhir, di mana harganya melompat 81 poin menuju level Rp170. Jika ditarik lebih jauh, dalam kurun waktu tiga bulan, saham ini sudah meroket 120,78 persen dari harga Rp77 pada pertengahan Oktober 2025.
Sementara, harga saham KOCI pada penutupan sesi 1 hari ini ada di 228.
Performa serupa juga ditunjukkan oleh MKAP. Emiten ini mencatatkan kenaikan mingguan sebesar 68,57 persen ke posisi Rp590. Dalam periode triwulanan, saham MKAP terpantau telah menambah nilai sebesar 210 poin atau tumbuh sekitar 55,26 persen. Saat ini, harga saham MKAP ada di angka 680.
Sementara itu, emiten kawasan industri KIJA juga tidak ketinggalan dengan penguatan mingguan sebesar 68,57 persen ke level Rp354.
Dibandingkan dengan harga pada 12 Oktober 2025 yang berada di angka Rp183, KIJA telah menguat drastis sebesar 93,44 persen secara triwulanan. Sedangkan harga saham KIJA saat artikel ini ditulis ada di 334.
Di sisi lain, PBSA mencatatkan rekor kenaikan poin tertinggi. Dalam satu minggu terakhir, harganya melesat 540 poin atau 33,54 persen ke Rp2.150. Lonjakan paling tajam terlihat pada data triwulanan, di mana PBSA meroket hingga 138,89 persen dari harga dasar Rp900.
Berita Terkait
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan 12 Juli 2026, Masa Sulit Diprediksi Berakhir
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 Pilihan Motor Anti Low Back Pain, Cocok Buat Touring di Akhir Pekan
Pilihan
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur
Terkini
-
Neraca Dagang RI Berbalik Tekor, Mendag: Harga Minyak Lagi Tinggi-tingginya!
-
Produksi Emas Freeport 2026 Masih Tertahan, Target Baru 21 Ton Meski Tambang Belum Mulai Pulih
-
Purbaya Janji Tak Naikkan Pajak Meski Ada Ancaman Shortfall Rp 46,9 Triliun
-
Ekonomi Global Masuk Fase 'New Normal' Krisis, Pemerintah Waspadai Ancaman ke Indonesia
-
Prospek Cerah MDKA, Sahamnya Bisa Tembus Rp3.100
-
Freeport Masih Tertatih, Produksi Tambang Baru Capai 65 Persen Sepanjang 2026
-
S&P Pertahankan Rating Indonesia, Pemerintah Sebut Jadi Sinyal Positif bagi Ekonomi
-
Investor Asing Kabur Lagi Rp501 Miliar di Sesi I, BUMI Jadi Sasaran
-
Rupiah Bergejolak, Pemerintah Bakal Perkuat Transaksi Mata Uang Lokal
-
IHSG Bertahan di Level 6.000 hingga Sesi I, WIFI dan ENRG Jadi Bintang