- Rusia menegaskan keseriusan menjadi mitra strategis pembangunan PLTN Indonesia sejalan target 2032.
- Rusia menawarkan teknologi nuklir SMR dan PLTN terapung untuk menopang ketahanan energi nasional.
- Indonesia menimbang tawaran Rusia bersamaan studi kelayakan SMR yang didukung Amerika Serikat.
Suara.com - Pemerintah Rusia melalui Duta Besarnya untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, kembali menyatakan keseriusannya untuk menjadi mitra strategis dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di tanah air.
Langkah ini selaras dengan ambisi pemerintah Indonesia yang menargetkan pengoperasian perdana PLTN pada tahun 2032 demi menekan konsumsi batu bara.
Sinyal kerja sama ini sebelumnya telah menguat saat pertemuan bilateral antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putin di Kremlin bulan lalu.
Dalam diskusi tersebut, Putin secara terbuka menawarkan teknologi nuklir Rusia sebagai instrumen vital bagi ketahanan energi jangka panjang Indonesia.
Tawaran ini sendiri cukup menjanjikan, sementara Presiden Indonesia, Prabowo Subianto kini condong berada di poros tengah antara AS dan Rusia.
Seperti yang diwartawakan sebelumnya, beberapa hari lalu, Prabowo menyetujui usulan Presiden AS, Donald Trump terkait Dewan Perdamaian.
Rusia Tegaskan Komitmen
Menjawab keraguan publik terkait faktor keamanan pasca-insiden Fukushima, Dubes Tolchenov menegaskan bahwa standar teknologi Rusia saat ini telah melampaui fase evolusi keamanan yang ketat.
Rusia menawarkan dua solusi teknologi yang dianggap sangat relevan dengan karakteristik geografis Indonesia:
Baca Juga: Profil PT Isra Presisi Indonesia Tbk (ISAP): Pemegang Saham dan Kinerja
- Reaktor Modular Kecil (SMR): Reaktor dengan skala lebih kecil yang lebih fleksibel dalam penempatan.
- PLTN Terapung: Teknologi praktis yang dapat dikirim ke wilayah pelosok kepulauan yang sulit dijangkau oleh infrastruktur listrik konvensional.
Sebagai bukti nyata, Rusia sukses mengoperasikan Akademik Lomonosov, yang merupakan pembangkit listrik tenaga nuklir terapung pertama di dunia.
Tolchenov menekankan bahwa ketersediaan energi yang masif dan stabil adalah pondasi utama jika Indonesia ingin merealisasikan target pertumbuhan ekonomi sebesar 8%.
Meski Rusia melalui perusahaan negara Rosatom gencar melakukan lobi, Indonesia tetap menjaga prinsip diplomasi yang terbuka.
Saat ini, pemerintah juga tengah menelaah hasil studi kelayakan yang didukung oleh Amerika Serikat.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebutkan bahwa pihak Indonesia Power bersama perusahaan NuScale (AS) telah mengeksplorasi potensi pembangunan SMR di Kalimantan Barat.
Proyek ini melibatkan konsorsium internasional yang mencakup raksasa konstruksi Fluor dari AS serta JGC dari Jepang.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dexlite Mahal, 5 Pilihan Mobil Diesel Lawas yang Masih Aman Minum Biosolar
- Sepeda Polygon Paling Murah Tipe Apa? Ini 5 Pilihan Ternyaman dan Tahan Banting
- Awas! Jakarta Gelap Gulita Besok Malam, Cek Daftar Lokasi Pemadaman Lampunya
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- Pakar UGM Bongkar 'Dosa' Satu Dasawarsa Jokowi: Aturan Dimanipulasi Demi Kepentingan Rente
Pilihan
-
Cek Fakta: Viral Pengajuan Pinjaman Koperasi Merah Putih Lewat WhatsApp, Benarkah Bisa Cair?
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
Terkini
-
IHSG Bangkit Melesat Tinggi ke Level 7.200 di Senin Pagi
-
Bidik Nasabah Kelas Atas, BRI Life Bedah Strategi Kelola Kekayaan
-
Genjot EBT, FIFGROUP Resmikan Solar Panel Ke-43
-
Emas Antam Turun Harga, Hari Ini Dibanderol Rp 2.809.000/Gram
-
Purbaya Ungkap Rahasia BBM Indonesia Masih Aman dari Krisis Minyak Global
-
Analisis Teknikal IHSG Hari Ini, Cek Rekomendasi Saham Pilihan Para Analis
-
Pamer ke IMF & World Bank, Purbaya Klaim RI Siap Ekspor Pupuk di Tengah Krisis Global
-
QRIS Ditargekan Bisa Dipakai di China Mulai 30 April, BI-FAST Terhubung di 5 Negara
-
Harga Emas Antam, Galeri 24 dan UBS Stabil, Kesulitan Tembus Level Rp 3 Juta
-
Isu Uang Kas Negara 'Cuma' Sisa Rp120 T saat Beban Bunga Utang Mengancam