- Permintaan Pekerja Migran Indonesia (PMI) di luar negeri meningkat akibat krisis populasi menua di negara maju.
- Wakil Menteri P2MI menyatakan bahwa perlambatan ekonomi negara tujuan adalah ancaman utama bagi penempatan PMI.
- Pemerintah mendirikan Migrant Center di kampus-kampus untuk menyiapkan pekerja terampil guna mengisi kebutuhan pasar global.
Suara.com - Kabar baik bagi para pencari kerja di Indonesia. Di saat dunia dihantui ketegangan geopolitik, permintaan terhadap Pekerja Migran Indonesia (PMI) di luar negeri dipastikan tidak surut, bahkan cenderung meningkat.
Peluang emas ini terbuka lebar seiring dengan dua fenomena besar yang terjadi bersamaan, krisis populasi menua (aging population) di negara-negara maju dan bonus demografi yang dinikmati Indonesia.
Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Dzulfikar Ahmad Tawalla, menegaskan bahwa gejolak politik global bukanlah ancaman utama bagi penempatan PMI.
Menurutnya, ada sebuah fakta demografis yang tak terhindarkan yang kini menjadi keuntungan strategis bagi Indonesia.
Negara-negara raksasa ekonomi seperti Jerman dan Jepang sedang menghadapi masalah serius kekurangan tenaga kerja produktif akibat populasi mereka yang didominasi oleh usia tua.
Kondisi ini menciptakan kekosongan besar di pasar kerja yang hanya bisa diisi oleh tenaga kerja dari negara lain. Di sinilah Indonesia, dengan populasi usia produktifnya yang melimpah, memegang kartu truf.
"Sejauh ini belum terdampak. Saya kira gejolak global selalu terjadi setiap tahunnya. Tetapi bahwa ada satu fakta yang tidak bisa dihindari hari ini soal aging population yang terjadi di berbagai negara," kata Dzulfikar saat ditemui di UPN 'Veteran' Yogyakarta, Sabtu (24/1/2026).
Meski demikian, Dzulfikar tidak menampik adanya tantangan. Ia meluruskan bahwa ancaman yang lebih nyata dan berdampak langsung bagi PMI bukanlah konflik antarnegara, melainkan stabilitas ekonomi di negara tujuan.
Perlambatan ekonomi atau resesi di negara penempatan secara otomatis akan memukul kuota penerimaan tenaga kerja dari Indonesia.
Baca Juga: Perkuat Perlindungan Pekerja Migran, Menteri Mukhtarudin Gandeng Kapolri Berantas Jalur Ilegal
"Tetapi memang yang kita terdampak langsung itu bila terjadi perlambatan ekonomi di negara penempatan. Seperti yang kita alami dalam dua tahun terakhir ini di Korea. Itu terjadi," terangnya.
Untuk memastikan Indonesia tidak hanya menjadi penonton, melainkan pemain utama dalam mengisi kebutuhan pasar global, pemerintah gencar menyiapkan tenaga kerja terampil (skilled workers).
Strategi utamanya adalah dengan mendekatkan pusat pelatihan ke kantong-kantong calon tenaga kerja terdidik, yakni lingkungan akademis.
Pemerintah melalui Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) kini aktif mendirikan Migrant Center di berbagai kampus di seluruh Indonesia.
Dzulfikar menilai, universitas memiliki ekosistem yang paling ideal untuk mencetak PMI berkompetensi tinggi, lengkap dengan penguasaan bahasa asing dan keahlian spesifik yang dibutuhkan industri global.
"Ya tentu kalau kita bicara soal penyiapan tenaga yang skill, kita tahu bahwa kampus-kampus kita di Indonesia ini sudah sangat prepare untuk hal tersebut," tandasnya.
Hingga saat ini, setidaknya sudah ada sembilan fasilitas Migrant Center yang telah diresmikan, termasuk yang terbaru di UPN 'Veteran' Yogyakarta.
Kehadiran pusat pelatihan terpadu ini diharapkan mampu menjadi jembatan yang kokoh antara bonus demografi Indonesia dengan permintaan pasar kerja internasional.
Lebih dari itu, langkah ini juga menjadi instrumen krusial untuk meningkatkan rasio PMI profesional dan menekan laju pengiriman pekerja migran secara ilegal atau non-prosedural.
Berita Terkait
-
Akselerasi Mimpi di Negeri yang Hobi Menunda: Sebuah Catatan Kritis
-
Guru Besar USNI Soroti Peran Strategis Generasi Z di Tengah Bonus Demografi Indonesia
-
Kejari Batam: Kasus TPPO dan PMI Ilegal Marak, Lima Hingga Sepuluh Perkara Tiap Bulan
-
Gen Z Cemas Sulit Cari Kerja? KSP Qodari Bicara Loker dari Dapur MBG hingga Koperasi
-
Perkuat Kualitas PMI, Perusahaan Asal Taiwan Teken MoU dengan Anak Perusahaan BPJS Ketenagakerjaan
Terpopuler
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Beda Cushion Wardah Colorfit Hijau dan Krem: Intip Harga, Kandungan, dan Manfaatnya
Pilihan
-
Haji Bolot Dikabarkan Terkena Serangan Jantung, Posisi Masih di Rumah Sakit
-
Derita Masyarakat RI Bertambah Kini Harga Pertamax Naik, Apa yang Harus Dilakukan?
-
Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
-
Namanya Terseret Isu Dugaan Korupsi BGN, Yahya Golkar: Semua Anggota Komisi IX DPR Tak Terlibat!
-
Perhatian! Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250/Liter
Terkini
-
'Bapak dan Anak Saya Juga Prajurit!' Isak Warga Diusir Paksa dari Asrama Eks Yon Zikon Lenteng Agung
-
Aksi Koboi Kades: Panjat Pagar dan Todong Pistol ke Warga Bekasi, Kini Disidik Polisi
-
Menenun Harapan Perempuan Penenun di Timur Indonesia Bersama Giro Kartini
-
Khofifah Bangga Program ADEM Cetak Generasi Papua Berprestasi, 51 Murid Lolos PTN
-
Lagi Ujian Diciduk Polisi! 2 Pelajar Palmerah Ditangkap usai Bacok Siswa SMK secara Acak
-
Satgas PRR Minta Optimalisasi TKD dan Hibah Antardaerah Tak Terhambat Birokrasi
-
Buntut Kasus Hanania, Menteri Haji: Sekarang Semua Travel Wajib Akreditasi!
-
Minta Anggaran Rp3,9 T Cuma Dikasih Rp728 M, Pigai: Kami Berprestasi Tapi Tak Pernah Diapresiasi DPR
-
Polri Rekrut Disabilitas: Bukan Cuma Staf, Berpeluang Duduki Jabatan Struktural!
-
Kapolri Jamin Takkan Serobot Kursi ASN: Polisi Masuk Kementerian Hanya Jika Diminta!