Bisnis / Makro
Senin, 26 Januari 2026 | 13:33 WIB
Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, meninjau lokasi penanganan banjir di Sungai Aek Garoga, Sumut. [Humas Kementerian PU]
Baca 10 detik
  • Menteri PU meninjau penanganan darurat banjir Sungai Aek Garoga, Tapanuli Selatan, pada 26 Januari 2026 untuk mitigasi risiko berulang.
  • BBWS Sumatera II mengerahkan alat berat untuk normalisasi alur sungai dari sedimentasi dan debris pascabanjir November 2025.
  • Strategi jangka panjang mencakup pembangunan sabo dam guna mengendalikan sedimen dan mengamankan infrastruktur sekitar sungai.

Suara.com - Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, meninjau lokasi penanganan banjir di Sungai Aek Garoga, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

Kunjungan itu menjadi bagian dari rangkaian penanganan darurat bencana di wilayah Sibolga, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, dan Tapanuli Selatan.

Peninjauan dilakukan untuk memastikan penanganan darurat berjalan optimal sekaligus menyiapkan langkah mitigasi jangka panjang guna mengurangi risiko banjir berulang.

Sungai Aek Garoga menjadi salah satu titik prioritas penanganan pascabanjir yang terjadi pada November 2025. Fokus utamanya ialah normalisasi alur sungai serta pengamanan infrastruktur di sekitar lokasi terdampak.

Dalam penanganan darurat, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Sumatera II Medan telah mengerahkan alat berat. Tercatat ada 8 unit excavator PC 200, 2 unit excavator long arm, dan 1 unit excavator capit untuk melakukan normalisasi sedimentasi sungai.

Selain itu, alat berat juga digunakan untuk pembersihan material kayu serta debris yang menyumbat alur sungai dan memicu aliran air tidak terkendali.

Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan penanganan di Aek Garoga tidak hanya ditujukan untuk pemulihan pascabanjir. Menurutnya, upaya ini juga penting untuk memastikan keselamatan masyarakat dan keberlanjutan fungsi sungai dalam jangka panjang.

“Penanganan banjir ini tidak hanya bersifat sementara. Kita harus memastikan alur sungai kembali berfungsi dengan baik, sedimen dan debris dibersihkan, serta infrastruktur di sekitarnya, termasuk jembatan dan permukiman warga, benar-benar aman,” ujar Dody kepada wartawan, Senin (26/1/2026).

Menurutnya, emua langkah yang kita ambil harus berbasis kajian teknis agar mampu mengurangi risiko banjir berulang

Baca Juga: Gaspol Tangani Pascabencana Aceh, Menteri PU: Tak Boleh Ada Daerah Terisolir

Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga aparat setempat dalam percepatan penanganan darurat di lapangan.

"Penanganan darurat ini terus dipercepat dan dikawal bersama. Keselamatan masyarakat adalah prioritas utama, dan kehadiran negara harus benar-benar dirasakan oleh warga yang terdampak,” tambah Dody.

Sementara itu, Kepala BBWS Sumatera II Medan Feriyanto Pawenrusi menjelaskan strategi utama penanganan di Aek Garoga adalah membuka alur sungai yang tertutup sedimentasi dan tumpukan kayu-kayu.

Menurutnya, alur sungai baru yang terbentuk akibat bencana banjir juga disiapkan menjadi tempat menampung air apabila terjadi banjir di masa mendatang.

BBWS Sumatera II juga tengah menyiapkan rencana pembangunan sabo dam sebagai bagian dari pengendalian sedimen di hulu sungai.

"Kalau sabo dam terbangun, jembatan akan lebih aman. Secara perhitungan, kapasitas sungai ini sebenarnya memadai untuk debit banjir, namun masalah utamanya jembatan tertutup debris sehingga aliran air mencari alur baru,” lanjut Ferry.

Load More