- Harga emas USD5.000 pertanda nilai uang merosot dan harga kebutuhan pokok berpotensi naik.
- Lonjakan emas memicu kenaikan suku bunga.
- Harga emas yang ekstrem mencerminkan ketidakpastian ekonomi.
Suara.com - Harga emas global menembus level psikologis baru, USD5.000 per troy ounce pada Senin (26/1/2026) untuk pertama kalinya. Bagi para spekulan, ini adalah pesta pora. Namun, masyarakat kecil angka ini adalah alarm bahaya yang menyengat.
Kita perlu jujur emas tidak akan pernah semahal ini jika dunia sedang baik-baik saja. Rekor USD5.000 adalah manifestasi dari ketakutan kolektif. Di balik kilaunya, ada cerita tentang daya beli yang tergerus, modal yang "bersembunyi", dan pergeseran tektonik peta kekuatan ekonomi dunia yang mengancam isi dompet masyarakat kecil.
Harga Emas yang Bikin Cemas
Emas adalah aset safe haven. Artinya, orang membelinya saat mereka takut. Masalahnya, ketika harga emas melonjak, itu menandakan modal global sedang melakukan mogok kerja.
Alih-alih mengalir ke sektor produktif seperti pembangunan pabrik, penguatan UMKM, atau inovasi teknologi yang menciptakan lapangan kerja, uang justru mandek di brankas dalam bentuk batangan karena investor terus memburu aset safe haven di tengah meningkatnya tensi geopolitik global.
"Kenaikan harga emas ini karena inflasi, masalah perang dagang, masalah perpolitikan Amerika, masalah kebijakan bank sentral, supply and demand. Nah ini yang mempengaruhi harga emas naik," kata Pengamat pasar komoditas, Ibrahim Assuaibi saat dihubungi Suara.com, Senin (26/1/2026).
Ibarhim menangkap fenomena ini dengan jeli. Ia mencatat perubahan perilaku masyarakat yang kini lebih memilih menginvestasikannnya di emas digital meski hanya dengan uang ratusan ribu, ketimbang membelanjakannya di restoran atau kafe.
"Peredaran uang berkurang, daya beli masyarakat berkurang," ujarnya.
Jika modal berhenti berputar di sektor riil, pertumbuhan ekonomi akan melambat, dan ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) menjadi nyata. Tengok saja saat ini fokus utama para pelaku pasar tertuju pada konsistensi pertumbuhan nilai emas yang luar biasa dalam dua tahun terakhir. Sepanjang tahun 2025, harga emas dunia tercatat melonjak hingga 64%.
Baca Juga: Keponakan Prabowo Jadi Deputi Gubernur BI, Rupiah Anjlok Lagi
Kenaikan fantastis ini didorong oleh kebijakan pelonggaran moneter Amerika Serikat, derasnya arus masuk ke dana kelolaan ETF, serta aksi borong bank sentral global terutama China yang melakukan pembelian selama 14 bulan berturut-turut.
Memasuki tahun 2026, momentum tersebut ternyata tidak meredup. Hanya dalam kurun waktu satu bulan, harga emas sudah terkerek naik lebih dari 16%.
Emas Sebagai Lindung Nilai
Banyak yang bersorak saat melihat harga emas naik. Namun, ini adalah keberuntungan semu. Emas adalah instrumen pelindung nilai (hedging). Jika harganya melonjak liar, pasar sebenarnya sedang berteriak bahwa nilai uang sedang merosot tajam.
"Institusi besar, seperti pengusaha-pengusaha punya duit pasti lebih banyak menyimpan emas. Buktinya apa, 70 ton bullion bank emas yang terkumpul dimiliki orang-orang menengah atas, kalau masyarakat kecil cuma Rp300 ribu beli, tapi sebetulnya yang diuntungkan adalah konglomerat," kata dia.
Bertanda Inflasi dan Gerus Daya Beli
Lonjakan menuju USD5.000 mencerminkan pudarnya kepercayaan terhadap mata uang fiat. Dampaknya adalah inflasi biaya (cost-push inflation). Emas bukan sekadar pajangan ia adalah komponen mikron dalam ponsel, alat kesehatan, hingga industri perhiasan.
Saat biaya bahan baku ini meroket, produsen akan membebankan kenaikan harga tersebut kepada konsumen. Akhirnya, harga barang pokok ikut terseret, dan daya beli masyarakat luas akan tergerus.
Fenomena ini diperparah oleh gerakan "dedolarisasi". Pakar keuangan Dr. Hans Kwee memproyeksikan harga emas bisa menyentuh USD10.000 pada 2030. Mengapa? Karena bank-bank sentral dunia termasuk Indonesia, China, hingga Polandia sedang memborong emas secara agresif untuk mengurangi ketergantungan pada Dolar AS.
"Dunia menyadari kita tidak bisa bergantung sepenuhnya pada dolar lagi. Bank sentral di berbagai negara terus memborong emas karena mereka mencari aset yang lebih aman," ujar Hans.
Masalahnya, transisi menuju tatanan ekonomi baru ini tidak akan mulus. Volatilitas nilai tukar akan terjadi, dan masyarakat kecil adalah pihak pertama yang akan merasakan "obat pahit" dari ketidakstabilan ini.
Siapa yang diuntungkan?
Secara teknis, masyarakat kecil memang bisa memiliki emas dalam pecahan kecil. Namun, Ibrahim Assuaibi mengingatkan bahwa pemenang aslinya adalah para konglomerat. Saat masyarakat kecil sibuk menyisihkan uang makan untuk membeli 0,1 gram emas, institusi besar dan kaum menengah atas telah memborong puluhan ton emas hingga pasar mengering.
"Sebetulnya yang diuntungkan adalah konglomerat. Mereka pasti memupuk logam mulia sehingga logam mulia sudah tidak ada (stok kosong), itu pasti sudah diborong," katanya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
Terkini
-
Penjaga Sekolah di Bintan Peras Uang Jajan Siswa SD Selama 3 Tahun Demi Main Judi Online
-
PSIS Kunci Raffinha, Mahesa Jenar Perkuat Misi Kembali ke Super League
-
Cashlez Kantongi Dana Rp237,2 Miliar dari Rights Issue, Siap Perluas Ekosistem Pembayaran Digital
-
Kobaran Api Kepung Hutan Gunung Jati
-
Deepfake AI Teror Mahasiswi PTN di Solo, Polisi Kantongi Profil Terduga Pelaku
-
Penjualan Semen SIG Tembus 18,27 Juta Ton, Naik 5,6% di Tengah Persaingan Ketat
-
Anggaran Militer Melejit Rp187 T, Kabinet Bayangan: Mau Perang dengan Korbankan Demokrasi?
-
Siap-Siap! Jatim Usulkan 2.100 Kursi CPNS 2026, Ini Bocoran Jadwalnya
-
IHSG dan Rupiah Melemah Usai Perry Warjiyo Mundur, Gubernur BI Buka Suara
-
Minat Investor Asing Akuisisi Bank Indonesia Masih Tinggi, Proses Merger BPR/BPRS Terus Bertambah