- BCA menargetkan pertumbuhan kredit tahun 2026 sebesar 8-10 persen, naik dari realisasi 7,7 persen pada 2025.
- Pada 2025, BCA mencatatkan laba bersih Rp57,5 triliun, tumbuh 4,9 persen didukung perbaikan rasio cost to income.
- Rasio NPL BCA diprediksi 1,8-2 persen tahun 2026, sementara NIM diperkirakan turun menjadi 5,4-5,6 persen.
Suara.com - PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menargetkan penyaluran kredit pada tahun 2026 dapat tumbuh pada kisaran 8 hingga 10 persen, meningkat dibandingkan realisasi pada 2025 dengan pertumbuhan sebesar 7,7 persen (year on year/yoy).
Target ini dicanangkan setelah BCA berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp57,5 triliun pada tahun 2025, tumbuh 4,9 persen secara tahunan (year on year/yoy) apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
“Kita lebih positif melihat perkembangan tahun ini. Mudah-mudahan pertumbuhan kredit ini bisa lebih cepat dibanding tahun lalu, dari kuartal I dan seterusnya,” kata Direktur BCA Vera Eve Lim menjawab pertanyaan media dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (27/1/2026).
Seiring dengan penurunan suku bunga acuan (BI-Rate) sebanyak lima kali sepanjang 2025, Vera menambahkan bahwa margin bunga bersih (net interest margin/NIM) BCA pada tahun ini diperkirakan berada pada kisaran 5,4 sampai 5,6 persen.
Adapun NIM BCA pada 2025 ditutup sebesar 5,73 persen, turun dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 5,83 persen.
“Jadi menurun NIM-nya (perkiraan pada 2026). Memang kita ekspektasi dampaknya (dampak penurunan BI-Rate pada 2025) akan lebih terasa tahun ini,” kata Vera.
Sementara rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) BCA pada tahun ini akan tetap dijaga pada kisaran yang tidak jauh berbeda dari 2025, yakni 1,8 sampai 2 persen.
Untuk sepanjang 2025, NPL (gross) BCA tercatat berada di level 1,71 persen, turun dibandingkan posisi akhir 2024 yang sebesar 1,78 persen.
Pada kesempatan yang sama, Presiden Direktur BCA Hendra Lembong menambahkan bahwa perseroan terus berupaya menangkap berbagai peluang bisnis untuk mendorong kinerja, sambil memperhatikan perubahan dinamika global maupun domestik.
Baca Juga: Saham BBCA Anjlok Aksi Jual Rp150 Miliar
Pada tahun ini, perseroan juga tetap berupaya meningkatkan penyaluran kredit serta penghimpunan dana murah (CASA).
“Dengan suku bunga yang trennya menurun, strategi kita tentunya menaikkan volume, sehingga 2026 kita akan coba lebih agresif lagi untuk mengejar bisnis para nasabah supaya lebih banyak lagi transaksinya melalui BCA,” kata Hendra.
Adapun saat ini, BCA memproyeksikan pemangkasan BI-Rate akan terjadi sebanyak satu hingga dua kali sepanjang 2026. Proyeksi ini bisa berubah dengan mempertimbangkan dinamika makroekonomi, terutama arah suku bunga Amerika Serikat (AS) atau Fed Funds Rate (FFR).
“Tantangan selalu ada setiap tahun (terutama dalam merealisasikan target bisnis pada 2026). Semoga kita bisa ada solusinya untuk semua tantangan di tahun 2026,” kata Hendra.
Per akhir Desember 2025, total kredit BCA tercatat tumbuh sebesar 7,7 persen yoy menjadi Rp993 triliun.
Dari jumlah tersebut, kredit korporasi mendominasi dengan porsi 48,2 persen atau mencapai Rp478,9 triliun (tumbuh 11,5 persen yoy). Kemudian, diikuti kredit komersial Rp146,8 triliun (tumbuh 8,5 persen yoy) dan kredit UKM Rp130,9 triliun (tumbuh 5,7 persen yoy).
Sementara kredit konsumer tercatat sebesar Rp224,1 triliun, tumbuh 0,2 persen yoy atau tidak jauh berbeda dari tahun sebelumnya.
Total dana pihak ketiga (DPK) BCA tumbuh 10,2 persen yoy mencapai Rp1.249 triliun per akhir Desember 2025. Dana giro dan tabungan (CASA) naik 13,1 persen yoy hingga Rp1.045 triliun.
Laba BCA Tumbuh 4,9 Persen
Menutup tahun 2025, BCA membukukan laba bersih secara konsolidasi sebesar Rp57,5 triliun pada tahun 2025, tumbuh 4,9 persen yoy dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Kinerja laba ditopang oleh perbaikan rasio cost to income (CIR) yang menurun dari 31,47 persen pada 2024 menjadi 30,74 persen pada 2025.
Perseroan mencatat, pendapatan bunga bersih (net interest income) tumbuh 4,1 persen yoy, dan pendapatan selain bunga naik 16 persen yoy. Secara total, pendapatan operasional BCA meningkat sebesar 5,4 persen yoy.
Penyaluran kredit BCA terdistribusi ke berbagai sektor, di antaranya manufaktur, perdagangan, restoran, hotel dan rumah tangga.
Kredit usaha yang disalurkan BCA tumbuh 9,9 persen yoy mencapai Rp756,5 triliun per Desember 2025. Sementara pembiayaan konsumer terjaga sebesar Rp224,1 triliun, didukung kredit pemilikan rumah (KPR) hingga Rp142,3 triliun serta kredit kendaraan bermotor (KKB) sebesar Rp56,6 triliun. BCA mendukung penyaluran KPR subsidi atau FLPP swasta sejak Oktober 2025.
Adapun outstanding pinjaman konsumer lain, dalam hal ini mayoritas kartu kredit, tercatat tumbuh 9,8 persen yoy menjadi Rp25,2 triliun.
Secara khusus, BCA mencatat kredit ke sektor-sektor berkelanjutan tumbuh 11,7 persen yoy menjadi Rp255 triliun per Desember 2025, setara 25,8 persen terhadap total portofolio pembiayaan.
Hal ini didukung meningkatnya pembiayaan ke sektor energi baru terbarukan hingga dua kali lipat yoy menjadi Rp6,2 triliun. Selain itu, kredit kendaraan bermotor listrik tumbuh 53 persen yoy mencapai Rp3,6 triliun.
Perseroan mencatat bahwa kualitas kredit tetap terjaga sepanjang 2025, tercermin dari rasio loan at risk (LAR) yang membaik ke 4,8 persen dibandingkan 5,3 persen pada tahun sebelumnya.
Sementara itu, dari sisi penghimpunan dana, total dana pihak ketiga (DPK) BCA tumbuh 10,2 persen yoy mencapai Rp1.249 triliun per akhir Desember 2025. Dana giro dan tabungan (CASA) naik 13,1 persen yoy hingga Rp1.045 triliun.
Dari sisi transaksi digital, total frekuensi transaksi BCA pada 2025 naik 17 persen yoy mencapai 42 miliar. Pada puncaknya, BCA pernah memproses transaksi hingga hampir 300 juta dalam satu hari. Adapun frekuensi transaksi mobile banking dan internet banking tumbuh 19 persen yoy.
Hendra menyampaikan, perseroan terus mengembangkan aplikasi myBCA yang pada 2025 dilengkapi berbagai fitur baru.
Selain itu, perseroan juga mengimplementasikan penggunaan artificial intelligence (AI). Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pelayanan nasabah, mengidentifikasi kebutuhan nasabah secara lebih efektif, memperkuat keamanan dan fraud detection, serta mendorong efisiensi operasional.
“Kami senantiasa berupaya menyediakan produk dan layanan secara optimal untuk memenuhi beragam kebutuhan nasabah dan masyarakat,” tutup Hendra.
Berita Terkait
-
Lowongan Kerja BCA Terbaru 2026 untuk Berbagai Jurusan S1 dan S2
-
BCA Digital Bagikan Strategi Resolusi Finansial 2026
-
Kode SWIFT BCA Terbaru 2026 untuk Transaksi Internasional
-
Cek Harga Kurs Dolar AS di Mandiri, BNI, BRI dan BCA Hari Ini
-
Rupiah Melemah, Berikut Harga Kurs Dolar AS di Mandiri, BNI, BRI dan BCA
Terpopuler
- 6 HP Murah RAM Besar Rp1 Jutaan, Spek Tinggi untuk Foto dan Edit Video Tanpa Lag
- 57 Kode Redeem FF Terbaru 25 Januari 2026: Ada Skin Tinju Jujutsu & Scar Shadow
- Polisi Ungkap Fakta Baru Kematian Lula Lahfah, Reza Arap Diduga Ada di TKP
- 5 Rekomendasi Mobil Kecil untuk Wanita, Harga Mulai Rp80 Jutaan
- Detik-detik Menteri Trenggono Pingsan di Podium Upacara Duka, Langsung Dilarikan ke Ambulans
Pilihan
-
Pertamina Mau Batasi Pembelian LPG 3 Kg, Satu Keluarga 10 Tabung/Bulan
-
Keponakan Prabowo Jadi Deputi BI, INDEF: Pasar Keuangan Pasang Mode Waspada Tinggi
-
Purbaya Hadapi Tantangan Kegagalan Mencari Utang Baru
-
5 Rekomendasi HP Memori 256 GB Paling Murah, Kapasitas Lega, Anti Lag Harga Mulai Rp1 Jutaan
-
Danantara Mau Caplok Tambang Emas Martabe Milik Astra?
Terkini
-
2 Jenis Pangan Ini Harganya Bakal Meroket Jelang Ramadan
-
Harga Bawang Putih Naik, Mendagri Bunyikan Alarm Inflasi
-
Kuota BBM Pertalite Turun di 2026 Hanya 29,27 Juta KL
-
Mendagri Wanti-wanti Tingkat Inflasi, Harga yang Diatur Pemerintah Dilarang Naik
-
BPH Migas Klaim Hemat Rp4,98 Triliun Karena Subsidi Lebih Tepat Sasaran
-
Pertamina Mau Batasi Pembelian LPG 3 Kg, Satu Keluarga 10 Tabung/Bulan
-
BRI Tanggap Bencana Sumatera Pulihkan Sekolah di Aceh Tamiang Lewat Program Ini Sekolahku
-
Danantara Akan Atur Pemanfaatan Lahan yang Dirampas Satgas PKH dari 28 Perusahaan
-
Proyek Internet Rakyat Besutan Emiten Milik Hashim Mulai Uji Coba
-
Wamen ESDM: Pembayaran Kompensasi BBM dan Listrik 2026 Berubah Jadi Sebulan Sekali