Bisnis / Keuangan
Rabu, 28 Januari 2026 | 12:13 WIB
Pengamat perbankan dari LPPI Trioksa Siahaan mengungkapkan permintaan kredit perbankan lesu karena daya beli masyarakat yang juga masih lemah. [Pixabay]
Baca 10 detik
  • Permintaan kredit perbankan lesu disebabkan oleh daya beli masyarakat dan ekspansi perusahaan yang masih melemah.
  • Dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah dinilai belum efektif karena kredit menganggur bank masih sangat besar.
  • OJK memproyeksikan kredit perbankan tumbuh positif Q1 2026 didorong momentum hari besar dan perbaikan sektor riil.

OJK juga mendorong perbankan agar menyalurkan kredit secara optimal pada segmen yang sesuai dengan keahlian dan risk appetite masing-masing bank, sehingga peluang bisnis dapat dimanfaatkan dengan baik sekaligus menjaga pertumbuhan kredit yang sehat dan berkelanjutan.

Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi per November 2025 mencatatkan pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar 17,98 persen yoy, diikuti oleh kredit konsumsi tumbuh sebesar 6,67 persen yoy. Sedangkan kredit modal kerja tumbuh sebesar 2,04 persen yoy.

Dari kategori debitur, kredit korporasi tumbuh sebesar 12 persen yoy. Sementara kredit UMKM masih menghadapi tantangan yang cukup berat atau masih terkontraksi.

Di sisi lain, dana pihak ketiga (DPK) pada November 2025 tumbuh sebesar 12,03 persen yoy atau meningkat dari sebelumnya sebesar 11,48 persen yoy sehingga menjadi sebesar Rp9.899,07 triliun.

Load More