- CEO BPI Danantara, Rosan P Roeslani, akan membahas peningkatan transparansi pasar modal Indonesia dengan MSCI.
- MSCI mengapresiasi kenaikan free float saham menjadi 15 persen sebagai sinyal perbaikan likuiditas pasar Indonesia.
- MSCI meminta penurunan ambang batas keterbukaan kepemilikan saham besar dari 5 persen menjadi sekitar 1-2 persen.
Suara.com - CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), Rosan P Roeslani membocorkan pembahasan yang akan dibicarakan dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Untuk diketahui, Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan bertemu dengan pihak MSCI mengenai pasar modal Indonesia memiliki komitmen untuk meningkatkan transparansi dan tata kelola.
Hal ini, merespons positif langkah-langkah pembenahan pasar dalam meningkatkan kepercayaan investor.
"Investor menilai kebijakan peningkatan free float saham menjadi 15 persen sebagai sinyal kuat perbaikan likuiditas dan keterbukaan pasar, yang selama ini menjadi perhatian utama MSCI," ujarnya di Gedung Bursa Efek Indonesia, Minggu (1/2/2026).
Selain itu, MSCI juga meminta Indonesia mengenai penurunan ambang batas keterbukaan kepemilikan saham besar yang saat ini berada di atas 5 persen.
Menurut Rosan, di sejumlah negara seperti India dan pasar berkembang lain, batas tersebut berada di kisaran 1–2 persen. Penyesuaian ini dinilai penting untuk memperkuat transparansi dan meminimalkan potensi distorsi harga saham.
"Dengan keterbukaan yang lebih rendah, aksi pembentukan harga yang tidak wajar akan semakin sulit karena seluruh pergerakan investor dapat terdeteksi," jelasnya.
Masukan tersebut telah disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia sebagai bagian dari evaluasi kebijakan pasar.
Jika direalisasikan, langkah ini diyakini dapat meningkatkan kepercayaan investor institusional global sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam penilaian MSCI.
Baca Juga: IHSG Berpotensi Rebound, Ini Saham yang Bisa Dicermati Investor Pekan Depan
"Rosan optimistis respons positif investor terhadap reformasi yang tengah berjalan akan tercermin pada pergerakan IHSG dalam waktu dekat. Insyaallah, pasar akan kembali ramai dan bergerak lebih sehat," imbuhnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Wajah Bercahaya
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Pengamat Ingatkan Efek Pelemahan Rupiah Bikin APBN Berdarah-darah
-
Bahlil Fokus Ganti LPG 3 Kg ke CNG, Berapa Harga Jualnya?
-
Dirikan Learning Center di Fakultas Pertanian UGM, Wujud Kepedulian BRI terhadap Pendidikan
-
Rupiah Turun Terus, Purbaya Siapkan Dana Stabilisasi Obligasi
-
Pengamat: Aturan Soal Migas Jadi Biang Kerok Rupiah Terus Jeblok
-
Tak Perlu Pusing, Belanja di China Bisa Bayar Pakai GoPay
-
Purbaya Janjikan Kredit Bunga Rendah ke Industri Tekstil, Maksimal 6 Persen
-
IHSG Masih Gagah Menguat, Betah di Level 7.000
-
RUPS 2025 Patra Jasa Catat Kinerja Positif Dorong Pertumbuhan Pendapatan Perusahaan
-
Rupiah Konsisten Menguat pada Rabu