- BEI dan OJK mengadakan pertemuan virtual dengan MSCI pada 2 Februari 2026 untuk mengatasi kritik integritas pasar Indonesia.
- BEI berkomitmen menaikkan batas minimum *free float* menjadi 15% dan membuka kepemilikan saham di bawah 5% sebagai data publik.
- Kegagalan meyakinkan MSCI berpotensi menurunkan status pasar Indonesia dari *Emerging Market* menjadi *Frontier Market*.
Suara.com - Pasar modal Indonesia berada di titik krusial pada Senin (2/2/2026). Pelaku pasar global maupun domestik menaruh perhatian penuh pada pertemuan virtual antara Bursa Efek Indonesia (BEI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Pertemuan ini bukan sekadar diskusi rutin, melainkan upaya diplomasi ekonomi untuk menjawab kritik keras MSCI terkait integritas pasar Indonesia. Berikut adalah fakta-fakta utama dari pertemuan tersebut:
1. Transparansi Kepemilikan di Bawah 5%
Salah satu poin krusial yang dituntut MSCI adalah keterbukaan struktur kepemilikan saham publik yang lebih mendalam. Selama ini, data kepemilikan di bawah 5% sulit diakses secara transparan.
Langkah BEI: Pjs Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, memastikan bahwa data pemegang saham di bawah 5% akan dibuka menjadi data publik melalui situs resmi BEI.
Target Implementasi: Transformasi keterbukaan informasi ini ditargetkan mulai efektif pada Februari 2026.
2. Peningkatan Ambang Batas Free Float Menjadi 15%
MSCI menyoroti rendahnya likuiditas riil akibat banyaknya saham yang hanya dimiliki segelintir pihak.
Aturan Baru: BEI akan merombak aturan pencatatan saham (rule making) dengan menaikkan batas minimum saham publik (free float) dari 7,5% menjadi 15%.
Baca Juga: BEI Gembok 38 Emiten yang Belum Penuhi Free Float, Ini Daftarnya
Tantangan Emiten: Berdasarkan data, sekitar 320 dari 944 emiten di BEI saat ini masih memiliki free float di bawah 15%, sehingga mereka wajib melakukan aksi korporasi untuk memenuhi ketentuan ini.
3. Isu Saham Gorengan
MSCI sebelumnya sempat membekukan perubahan indeks untuk sekuritas Indonesia pada akhir Januari 2026.
Alasan utamanya adalah adanya indikasi praktik perdagangan terkoordinasi yang mendistorsi pembentukan harga wajar.
OJK merespons hal ini dengan reformasi integritas pasar untuk memastikan harga saham terbentuk berdasarkan mekanisme pasar yang murni dan likuid.
4. Diskusi yang Positif dan "Guidance" Teknis
Berita Terkait
-
Di Tengah Gejolak IHSG, Saham Fundamental Justru Mulai Dilirik
-
IHSG Ambles di Bawah Level 8.000, 753 Saham Anjlok
-
Danantara Ikut Hadir Pertemuan BEI-MSCI, Pandu Sjahrir: Hanya Nonton aja
-
Saham BUMI ARB Meski Ada yang Borong, Apa Penyebabnya?
-
Rosan P Roeslani Bos Danantara Bocorkan Pembahasan RI dengan MSCI
Terpopuler
- 5 Cushion Anti Longsor 24 Jam, Makeup Tahan Lama Meski Cuaca Panas
- Film Pesta Babi Bercerita tentang Apa? Ini Sinopsis dan Maknanya
- Bantah Kepung Rumah dan Sandera Anak Ahmad Bahar, GRIB Jaya: Kami Datang Persuasif Mau Tabayun!
- Koperasi Merah Putih Viral, Terekam Ambil Stok dari Gudang Indomaret
- Dompet Penarik Rejeki Warna Apa? Ini Pilihan agar Kamu Beruntung sesuai Shio dan Feng Shui
Pilihan
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
Terkini
-
Dukung Aktualisasi dan Kreativitas Mahasiswa, Pertamina Gelar Energy AdSport Challenge di ITB
-
BTN JAKIM 2026 Bakal Digelar 13-14 Juni, Masyarakat Diminta Perhatikan Ruas Jalan Terdampak
-
Purbaya Lanjutkan Efisiensi Anggaran MBG usai Dipotong Jadi Rp 268 T
-
Menteri Purbaya hingga Bahlil Rapat Keluhan Kadin China, Bahas Apa Saja?
-
Rumor Badan Ekspor Bikin IHSG Anjlok, Ini Saham Paling Boncos
-
Pertamina Gelar Sokoguru Policy Forum Bahas Ketahanan dan Transisi Energi Nasional
-
Bos Danantara Saham BUMN Perbankan Lagi Murah, Saatnya Beli?
-
Rosan Hingga Bahlil Ikut Tertutup Soal Badan Ekspor
-
Harga Minyak Mentah Indonesia Melonjak ke 117,31 Dolar AS per Barel
-
Rupiah Loyo, Duit Subsidi Bengkak! Stok Pertalite Tinggal 16 Hari