- Pasar kripto terguncang sejak Februari 2026; Bitcoin sempat menyentuh level US$60.000 akibat likuidasi besar.
- Penurunan tajam ini dipicu likuidasi leverage dan aksi institusi, diperkuat sentimen pasar global risk-off.
- Jebolnya support krusial teknikal memicu stop-loss beruntun, menyebabkan pelemahan meluas pada aset lain.
Suara.com - Pasar kripto terguncang sejak awal Februari 2026. Pada perdagangan Jumat (6/2/2026), harga Bitcoin (BTC) mencatatkan penurunan tajam hingga menyentuh level psikologis US$60.000.
Saat ini, harga Bitcoin hari ini berada di angka USD 69.209, melemah tajam secara akumulatif dalam sepekan.
Dalam kurun waktu sepekan terakhir, aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar ini telah kehilangan nilainya hampir 30 persen, dipicu oleh gelombang likuidasi posisi leverage dan aksi lepas aset oleh investor institusi.
Data pasar menunjukkan bahwa total likuidasi dalam 24 jam terakhir menembus angka US$1,8 miliar. Mayoritas berasal dari penutupan paksa posisi long yang melibatkan lebih dari 500 ribu trader.
Salah satu transaksi tunggal yang paling menyita perhatian adalah likuidasi posisi Bitcoin senilai lebih dari US$12 juta di bursa global.
Wakil Presiden INDODAX, Antony Kusuma, menjelaskan bahwa kejatuhan ini merupakan reaksi berantai yang sangat cepat.
"Terjadinya tekanan jual secara simultan menyebabkan pasar bergerak liar karena banyak posisi terbuka yang terpaksa ditutup dalam waktu bersamaan," ungkap Antony.
Sentimen negatif ini semakin diperkuat oleh aktivitas di pasar exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot. IBIT, produk ETF milik BlackRock, mencatatkan volume transaksi harian tertinggi melampaui US$10 miliar.
Namun, lonjakan volume ini diiringi dengan penarikan dana besar-besaran, yang mengindikasikan bahwa investor institusional mulai mengurangi kepemilikan mereka secara masif.
Baca Juga: Transparansi Jadi Tameng Investor Kripto di Tengah Gejolak Pasar
Analisis Teknikal: Support Kunci Terlewati
Dari sudut pandang teknikal, Antony menilai struktur harga Bitcoin saat ini dalam kondisi rapuh.
"Bitcoin telah gagal mempertahankan area support krusial di rentang US$65.000 hingga US$62.000. Jebolnya level tersebut memicu efek domino berupa aktivasi stop-loss beruntun yang membawa harga langsung menuju area US$60.000," jelasnya.
Pelemahan ini tidak hanya menimpa Bitcoin, melainkan meluas ke aset lainnya:
Ethereum (ETH): Merosot hingga di bawah level US$1.800.
Solana (SOL): Terperosok ke bawah US$70, level terendah sejak akhir 2023.
Berita Terkait
-
Harga Bitcoin Anjlok Parah di USD 70.000, Analis Peringatkan Ancaman Tembus USD 50.000
-
Epstein Files Ungkap Investasi Bitcoin Jefrey Sejak Belasan Tahun Lalu, Elite Global Visioner?
-
Withdrawal Binance Mendadak Error, Apa Penyebabnya?
-
Harga Bitcoin Sulit Bangkit dan Terkapar di Level USD 70.000, Efek Epstein Files?
-
FOMC 2026: The Fed Tahan Suku Bunga, Bitcoin Amblas ke Level 70.000 Dolar
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Dituding Ikut Demo Bayaran dan Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
Terkini
-
Biang Kerok IHSG Melorot 1,72% ke Level 5.896
-
Purbaya Kembali Guyur Dana SAL Rp 100 T ke Himbara, Total Kas Negara Jadi Rp 400 T
-
Pengguna Pertamax Mulai Bergeser ke Pertalite, Stok Aman?
-
Mahasiswa Jangan Khawatir, Industri Petrokimia Butuh Banyak SDM
-
BGN Kembali Efisiensi Anggaran MBG, Purbaya Sebut Kemenkeu Kini Ikut Awasi SPPG
-
Kewajiban NIB bagi Pedagang Online: Solusi atau Beban Baru?
-
Danantara Bentuk BUMN Ekspor DSI, Bidik Kebocoran Devisa Rp 5.500 Triliun Lebih
-
Rupiah Berotot Sore Ini ke Level Rp17.922/USD
-
Pedagang Asing Jualan di E-Commerce RI Sekarang Semakin Sulit
-
Industri Alas Kaki Masih Butuh SDM, Difabel Punya Peluang Besar