- Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Kuartal I 2026 mencapai 5,6 persen year on year melalui dorongan belanja pemerintah seperti bansos.
- Pemerintah berkomitmen menjaga defisit APBN 2026 di bawah 3 persen seraya menargetkan rasio utang di bawah 40 persen terhadap PDB.
- Lembaga pemeringkat Moody's menurunkan outlook kredit Indonesia menjadi negatif karena kekhawatiran tata kelola dan efektivitas kebijakan.
Pada akhir 2025 lalu, seperti diketahui, rasio utang pemerintah mencapai 40,08 persen terhadap PDB atau setara dengan Rp9.549,46 triliun. Hal ini pula yang membuat lembaga-lembaga pemeringkat mewanti-wanti pemerintah untuk lebih berhati-hati.
Juda juga menyampaikan bahwa pemerintah saat ini sedang mengantisipasi penilaian dari lembaga pemeringkat Fitch pada yang akan merilis laporannya pada 23 Februari 2026, yang selanjutnya disusul laporan dari S&P.
"Ya ini yang perlu kita koordinasikan. Nanti tentu saja nanti rating yang lain kan akan datang di tanggal 23 Februari. Kita siapkan semua itulah yang saya katakan, lesson learned dari Moody's kemarin," ujarnya.
Dia menegaskan perlunya perbaikan menyeluruh yang mencakup tata kelola, kebijakan, serta manajemen risiko.
"Nah, ini harus kita perbaiki semua. Baik itu terkait dengan tata kelola, tata kelola kebijakan, dan juga risiko-risiko yang lain," ujarnya.
Diwartakan sebelumnya Moody’s menurunkan outlook utang Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil.
Rating negatif itu diberikan, karena Moody's menilai adanya tanda-tanda pelemahan tata kelola serta semakin berkurangnya efektivitas kebijakan di Indonesia. Lembaga itu juga menguraikan bahwa kebijakan pemerintah Presiden Prabowo Subianto makin sulit diprediksi.
Salah satu yang disorot adalah, antara lain kebijakan populis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) - yang menguras keuangan negara - di tengah penerimaan negara yang seret.
Selain itu penunjukkan keponakan Prabowo, yakni Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI juga menjadi sorotan di tengah isu rencana mengubah mandat Bank Sentral lewat perubahan undang-undang.
Baca Juga: BCA Optimis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Bakal Meroket di 2026
"Jika terus berlanjut, tren ini dapat mengikis kredibilitas kebijakan Indonesia yang sudah lama dibangun, yang selama ini mendukung pertumbuhan ekonomi yang kuat serta stabilitas makroekonomi, fiskal, dan keuangan," Moody's memperingatkan.
Berita Terkait
-
Wamenkeu Juda Agung: Batas Defisit APBN 3 Persen Harga Mati
-
Ekonomi RI Tembus 5,39 Persen, Wamenkeu Juda Agung: Saya Belum Puas!
-
Kapan Pencairan Bansos PKH dan BPNT Tahap I 2026, Ini Ketentuannya
-
Thomas Djiwandono: Agen Prabowo yang Bakal Robohkan 'Tembok Berlin' Fiskal-Moneter?
-
BCA Optimis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Bakal Meroket di 2026
Terpopuler
- Bedak Apa yang Tahan Lama? Ini 5 Produk yang Bisa Awet hingga 12 Jam
- 5 Pemain Top Dunia yang Berpotensi Ikuti Jejak Layvin Kurzawa Main di Super League
- 10 HP OPPO RAM 8 GB dari yang Termurah hingga Flagship 2026
- 4 Pilihan Smart TV 32 Inci Rp1 Jutaan, Kualitas HD dan Hemat Daya
- BPJS PBI Tiba-Tiba Nonaktif di 2026? Cek Cara Memperbarui Data Desil DTSEN untuk Reaktivasi
Pilihan
-
Bocah-bocah di Sarang Polisi: Asal Tangkap Perkara Aksi Agustus
-
Selamat Jalan 'Babeh' Romi Jahat: Ikon Rock N Roll Kotor Indonesia Tutup Usia
-
Sidang Adat Pandji Pragiwaksono di Toraja Dijaga Ketat
-
Ziarah Telepon Selular: HP Sultan Motorola Aura Sampai Nokia Bunglon
-
Ucap Sumpah di atas Alkitab, Keponakan Prabowo Sah Jabat Deputi Gubernur BI
Terkini
-
Pemerintah Umumkan Jadwal WFA Periode Ramadan-Lebaran, Berlaku buat ASN dan Swasta
-
Pemerintah Siapkan Rp 11,92 Triliun untuk Bantuan Pangan Beras dan Minyak Goreng
-
8 Tips Kelola Reksadana saat Pasar Turun agar Investasi Tetap Cuan
-
IHSG Hari Ini Lagi Semringah, Naik 1,24% dan 578 Saham Melesat
-
Danantara Setiap Hari Guyur Pasar Modal, Ke Saham Apa?
-
Rupiah Terperosok Jatuh ke Level Rp 16.811/USD
-
Pemerintah Gelontorkan Rp 911,16 Miliar buat Diskon Tarif Transportasi Lebaran 2026
-
Wamenkeu Juda Agung: Batas Defisit APBN 3 Persen Harga Mati
-
Ekonomi RI Tembus 5,39 Persen, Wamenkeu Juda Agung: Saya Belum Puas!
-
Moodys Geser Outlook ke Negatif, OJK: Perbankan Nasional Tetap Kokoh!