- Rupiah menguat 0,21% terhadap dolar AS menjadi Rp16.775 pada pembukaan Rabu pagi (11/2/2026).
- Penguatan ini dipicu data ritel AS yang lebih lemah, meskipun ada dukungan dari pernyataan pejabat The Fed.
- Investor menahan diri mengantisipasi data pekerjaan AS NFP, sehingga penguatan rupiah diperkirakan terbatas.
Suara.com - Nilai tukar rupiah berbalik menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan Rabu pagi (11/2/2026).
Data Bloomberg menunjukkan rupiah bergerak di sekitar level Rp16.775 per dolar AS. Mata uang lokal pun menguat 0,21 persen dibandingkan penutupan Senin (9/2) ada di level Rp16.811
Sedangkan kurs JISDOR Bank Indonesia ada di level Rp16.826. Penguatan ini terjadi dikarenakan sentimen global. Dalam hal ini, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah disebabkan oleh data ritel di Amerika Serikat.
"Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS yang masih tertekan setelah data penjualan ritel yang lebih lemah dari perkiraan, walau mendapat dukungan dari pernyataan hawkish pejabat-pejabat the Fed semalam," katanya saat dihubungi Suara.com.
Namun, penguatan rupiah diperkirakan terbatas. Sebab, investor masih wait and see dengan data pekerjaan AS.
"Investor cenderung wait and see mengantisipasi data pekerjaan AS NFP malam ini. Range 16.750-16.850," jelasnya.
Sementara itu, beberapa mara uang Asia juga menguat. Salah satunya, yen Jepang menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,27 persen.
Disusul, baht Thailand yang terkerek 0,21 persen. Selanjutnya ada dolar Taiwan yang menanjak 0,16 persen, dan peso Filipina yang terangkat 0,15 persen.
Lalu ada won Korea Selatan yang terapresiasi 0,09 persen. Berikutnya, dolar Hongkong yang naik 0,03 persen dan dolar Singapura terlihat menguat tipis 0,02 persen.
Baca Juga: Rupiah Terperosok Jatuh ke Level Rp 16.811/USD
Sedangkan, ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah turun 0,07 persen. Kemudian yuan China terlihat melemah tipis 0,04 persen terhadap the greenback di pagi ini
Berita Terkait
-
Rupiah Melemah Tersengat IHSG yang Anjlok, Dolar AS Jadi Kuat ke Level Rp16.788
-
Beda dengan IHSG, Rupiah Justru Berjaya
-
Rupiah Perkasa, Dolar AS Ambruk ke Level Rp16.730
-
Keponakan Prabowo Jadi Deputi BI, INDEF: Pasar Keuangan Pasang Mode Waspada Tinggi
-
Purbaya Ungkap Alasan Rupiah Menguat: Bukan Karena Thomas Djiwandono
Terpopuler
- Bedak Apa yang Tahan Lama? Ini 5 Produk yang Bisa Awet hingga 12 Jam
- 5 Pemain Top Dunia yang Berpotensi Ikuti Jejak Layvin Kurzawa Main di Super League
- Pasca Penonaktifan, 3.000 Warga Kota Yogyakarta Geruduk MPP untuk Reaktivasi PBI JK
- 10 HP OPPO RAM 8 GB dari yang Termurah hingga Flagship 2026
- 4 Pilihan Smart TV 32 Inci Rp1 Jutaan, Kualitas HD dan Hemat Daya
Pilihan
-
Bocah-bocah di Sarang Polisi: Asal Tangkap Perkara Aksi Agustus
-
Selamat Jalan 'Babeh' Romi Jahat: Ikon Rock N Roll Kotor Indonesia Tutup Usia
-
Sidang Adat Pandji Pragiwaksono di Toraja Dijaga Ketat
-
Ziarah Telepon Selular: HP Sultan Motorola Aura Sampai Nokia Bunglon
-
Ucap Sumpah di atas Alkitab, Keponakan Prabowo Sah Jabat Deputi Gubernur BI
Terkini
-
IHSG Betah di Level 8.100 pada Rabu Pagi, Cek Saham-saham Pilihan
-
Harga Pangan Nasional Hari Ini: Cabai Merah Besar Meroket
-
Harga Emas Antam Terkoreksi Tipis, Akumulasi Penguatan Tetap Tinggi
-
Daftar Saham Lepas Gembok BEI Hari Ini, Bisa Diperdagangkan IHSG
-
Antisipasi Cuaca Ekstrem Selat Bali, KSOP Siapkan Rencana Buka - Tutup Pelabuhan
-
Permudah Mobilitas Kendaraan Listrik, PLN Operasikan 4.655 SPKLU Sepanjang 2025
-
Kebutuhan Konsumsi Naik, Penyaluran Pinjaman di Hari Lebaran dan Puasa Meningkat
-
MSCI Rilis Update: INDF Turun Kelas, Ini Saham-saham yang Didepak Keluar List
-
Kinerja Penjualan Eceran Diramal Terkontraksi, Ini Penyebabnya
-
Harga Emas Hari Ini Naik, 11 Februari 2026 UBS dan Galeri 24 Kompak Meroket