- Bank Indonesia bersama pemerintah meluncurkan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera di Sidoarjo untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.
- Program ini menerapkan strategi 4K guna memastikan keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, serta komunikasi efektif bagi masyarakat.
- Pemerintah berfokus mengendalikan komoditas beras, cabai, dan bawang merah demi menjaga stabilitas inflasi serta meningkatkan kesejahteraan petani daerah.
Suara.com - Bank Indonesia (BI) bersama Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah secara resmi meluncurkan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) Nasional di Sidoarjo.
Sebagai langkah, strategis dalam program pengendalian inflasi nasional, GPIPS hadir untuk memperkuat Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang sudah berjalan sebelumnya.
Melalui sinergi ini, kebijakan pengendalian inflasi pangan dirumuskan agar selaras dengan program prioritas pemerintah dalam mencapai ketahanan pangan, energi, serta stabilitas finansial di seluruh wilayah Indonesia.
Direktur Eksekutif Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny, menjelaskan bahwa implementasi GPIPS 2026 merupakan bentuk nyata komitmen bank sentral dalam menjaga daya beli masyarakat melalui strategi 4K untuk stabilitas harga.
"Strategi tersebut meliputi keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif," ucapnya dalam siaran pers yang diterima, Jumat (15/5/2026).
Ramdan Denny menegaskan bahwa fokus utama dari strategi pengendalian harga pangan tahun ini adalah penguatan produktivitas petani dan efisiensi rantai distribusi guna memastikan inflasi tetap terkendali sesuai sasaran.
Ramdan Denny memaparkan bahwa peluncuran di wilayah Jawa ini merupakan kelanjutan dari rangkaian GPIPS 2026 yang diawali di Sumatra pada Februari lalu.
Selanjutnya, program ini akan menyasar wilayah Bali-Nusa Tenggara, Kalimantan, hingga Sulampua dengan menyesuaikan karakteristik inflasi masing-masing daerah.
Adapun, tiga komoditas prioritas yang menjadi fokus di seluruh wilayah adalah beras, cabai, dan bawang merah.
Baca Juga: Bank Indonesia dan Bank Negara Malaysia Perkuat Sektor Moneter dan Sistem Pembayaran
Sementara itu, untuk tambahan komoditas lain disesuaikan dengan karakteristik masing-masing daerah, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulampua, hingga Balinusra.
"Efektivitas sinergi antara TPIP dan TPID terbukti ampuh menjaga stabilitas ekonomi," katanya.
Berdasarkan data terbaru, Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada April 2026 tercatat berada di level 2,42 persen (year-on-year).
Sementara itu, inflasi pada kelompok volatile food tetap terkendali pada angka 3,37 persen (year-on-year), yang berarti masih berada dalam kisaran sasaran 3,0 persen hingga 5,0 persen sesuai kesepakatan nasional.
Dalam jangka pendek, kesepakatan strategis difokuskan pada penguatan sarana prasarana pertanian, regenerasi sumber daya manusia, serta perlindungan usaha tani.
Sedangkan untuk jangka menengah-panjang, pemerintah dan BI akan fokus pada perbaikan jaringan irigasi, pompanisasi, serta penguatan inovasi dan korporatisasi untuk menjaga keberlanjutan ekosistem pangan dari hulu ke hilir.
Ke depan, Bank Indonesia dan Pemerintah akan terus memperkuat kolaborasi demi mendukung program ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.
Upaya mitigasi terhadap risiko cuaca ekstrem serta peningkatan efisiensi logistik pangan akan terus digenjot guna menjaga stabilitas harga dan memberdayakan para petani.
"Melalui langkah konsisten ini, BI optimistis dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional," tandasnya.
Berita Terkait
-
Bos BI Jamin Cadangan Devisa Tak Akan Goyah untuk Intervensi Rupiah
-
BI: Program Makan Bergizi Gratis Jadi Pendorong Ekonomi Indonesia Meroket
-
BI Perketat Syarat Beli Dolar AS, Ini Strategi Terbaru Penguatan Rupiah
-
Nilai Tukar Rupiah Terus Anjlok saat BPS Umumkan Pertumbuhan Ekonomi Melejit Tinggi
-
Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah RI Berdiri, BI Tunjuk Biang Keroknya
Terpopuler
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- Keunggulan Pompa Air Shimizu PL-138 BIT, Solusi Air Jernih Anti Karat
Pilihan
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
Terkini
-
Rebalancing MSCI: Mengapa AMMN dan DSSA Lebih Tangguh dari Saham Prajogo Pangestu?
-
Purbaya Mau Efisiensi Anggaran MBG Sampai Nol Rupiah, Tapi Akui Tak Bisa
-
Binus Resmikan Magister Hukum Bisnis, Fokus Perdagangan Internasional hingga Siber
-
Program E20 Jadi Senjata Baru Kurangi Impor BBM, Ini Kebutuhan Etanol Indonesia
-
Harga Pangan Hari Ini Berubah! Cabai Turun, Bawang Merah Naik
-
Pasar Logistik ASEAN Tembus Rp6.958 Triliun, Indonesia Punya Peluang Emas Jadi Pemimpin
-
Rupiah Hari Ini Menguat ke Rp17.865 per Dolar AS, BI Disebut Lakukan Intervensi
-
Sinyal untuk Beli, Harga Emas Antam Terus Turun Jadi Rp2.645.000/Gram
-
IHSG Menguat saat Bursa Global Mayoritas di Zona Merah, Rupiah Naik Tipis
-
Setelah Dibuka Menguat IHSG Langsung Anjlok di Senin Pagi, BBCA Mulai Diborong Asing