- 81% keluarga rentan dukung Program Makan Bergizi demi kepastian nutrisi anak.
- Program MBG jadi bantalan ekonomi, kurangi beban uang saku hingga Rp600 ribu.
- 72% anak mulai rutin makan bergizi, pola konsumsi rumah tangga jadi lebih sehat.
Suara.com - Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi primadona kebijakan nasional mulai menunjukkan taringnya di level mikro. Meski belum merombak struktur pengeluaran rumah tangga secara radikal, program ini nyatanya menjadi "penyelamat" bagi stabilitas ekonomi keluarga rentan.
Berdasarkan studi terbaru Research Institute of Socio-Economic Development (RISED), sebanyak 81 persen orang tua dari rumah tangga rentan memberikan lampu hijau dan mendukung penuh keberlanjutan program ini. Bukan sekadar soal efisiensi kantong, dukungan ini lahir dari rasa aman para orang tua akan asupan nutrisi buah hati mereka di sekolah.
"Menariknya, dukungan ini bukan semata soal penghematan uang, tetapi lebih pada rasa aman dan kepastian bahwa anak mereka mendapat akses makanan bergizi," ujar Peneliti RISED, M. Fajar Rakhmadi dalam keterangannya, Jumat (13/2/2026).
Studi yang melibatkan 1.800 responden ini mengungkap bahwa MBG berfungsi efektif sebagai shock absorber atau bantalan konsumsi. Sebanyak 36 persen rumah tangga melaporkan penurunan pengeluaran harian, terutama dari pos anggaran bekal dan uang saku anak.
Namun, penghematan ini memang belum masif. Sekitar 63 persen responden mengaku angka penghematan masih di bawah 10 persen dari total pengeluaran bulanan. Artinya, MBG lebih berperan menjaga napas dapur agar tetap stabil ketimbang mendongkrak daya beli secara drastis dalam jangka pendek.
Ekonom Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, menilai potensi surplus konsumen dari program ini sangat nyata bagi kelas menengah yang rentan.
"Jika satu keluarga punya dua anak dengan asumsi bekal Rp15 ribu per hari selama 20 hari sekolah, ada beban Rp600.000 yang berkurang. Jika konsisten, ini menciptakan fleksibilitas anggaran yang bisa dialihkan ke hal produktif seperti pendidikan dan kesehatan," urai Fithra.
Selain sisi ekonomi, perubahan signifikan justru terjadi pada perilaku anak. Data RISED mencatat 72 persen anak menjadi lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi, dan 55 persen mulai berani mencoba variasi menu baru.
Kendati demikian, RISED memberikan catatan kritis. Mengingat 69 persen anak baru menerima program ini kurang dari enam bulan, dampak jangka panjang terhadap status gizi dan prestasi akademik masih memerlukan evaluasi longitudinal.
Baca Juga: Utang Pemerintahan Prabowo Meroket ke Rp9.637 Triliun
RISED menekankan pentingnya pemerintah mempertegas posisi MBG: apakah murni intervensi gizi, program sosial, atau instrumen pembangunan SDM? Kejelasan ini krusial agar indikator keberhasilan tidak bias.
"Temuan awal ini kami posisikan sebagai baseline. Evaluasi lanjutan sangat penting agar dampak terhadap pembangunan SDM bisa diukur secara lebih komprehensif ke depannya," pungkas Fajar.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
Pilihan
-
Hakim Andi Sebut Nadiem Makarim Seharusnya Dibebaskan
-
Selain 10 Tahun Penjara, Nadiem Makarim Wajib Bayar Uang Pengganti Rp809,59 Miliar
-
Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun Penjara!
-
Jangan Puji Pemerintah karena Kerja: Mengapa Publik Begitu Mudah Terpesona?
-
Kabar Duka! Legenda Persija Si Macan Betawi Tan Liong Houw Tutup Usia
Terkini
-
Berlaku Besok, IESR Ungkap Bahayanya Penerapan B50
-
J Trust Bank (BCIC) Rombak Jajaran Direksi
-
Insentif Mobil Listrik Tak Kunjung Jelas, Kemenperin Khawatir Penjualan Tertahan
-
Target Swasembada Garam 2027 Dinilai Sulit Tercapai Tanpa Reformasi Impor
-
BUMN Logistik Baru Mulai Terbentuk, Merger dari 7 Perusahan
-
Vonis Nadiem Makarim Jadi Sorotan Media Internasional: Investor Asing Semakin Tak Percaya
-
Tujuh BUMN Logistik Resmi Melebur di bawah PT Multi Terminal Indonesia
-
Dilema B50 vs Ekspor CPO, Kebijakan Ini Bisa Jadi Pedang Bermata Dua?
-
Pemadaman Listrik Hambat Industri Manufaktur di Juni 2026
-
Brantas Abipraya Percepat Penyelesaian Sekolah Rakyat Kabupaten Bogor, Dukung Pemerataan Pendidikan