- Sebanyak delapan calon emiten dalam antrean IPO didominasi oleh lima perusahaan berkategori aset jumbo di atas Rp250 miliar.
- Aktivitas pasar surat utang menunjukkan 20 emisi EBUS telah terbit menghimpun dana Rp15,71 triliun, dengan 30 emisi lainnya masih dalam antrean.
- Sektor Basic Materials dan Financials memimpin sebaran calon emiten baru, sementara sektor teknologi dan properti masih absen dalam daftar tunggu.
Suara.com - Aktivitas pencatatan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan tren positif di awal tahun ini.
Berdasarkan data terbaru hingga 20 Februari 2026, sejumlah perusahaan dengan profil aset kuat tengah bersiap untuk melantai di bursa.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Nyoman Gede Yetna, memaparkan rincian antrean calon emiten yang akan meramaikan pasar modal domestik.
Berikut adalah fakta-fakta penting mengenai kondisi pipeline IPO dan aksi korporasi di BEI saat ini:
1. Didominasi Perusahaan Aset Jumbo
Fakta menarik dalam antrean IPO kali ini adalah dominasi perusahaan skala besar. Dari total 8 calon emiten yang masuk dalam pipeline, sebanyak 5 perusahaan memiliki aset jumbo dengan nilai di atas Rp250 miliar.
Hal ini mengacu pada klasifikasi POJK Nomor 53/POJK.04/2017.
2. Ketiadaan Emiten Skala Kecil
Dalam periode ini, tidak ada satu pun perusahaan dengan aset skala kecil (di bawah Rp50 miliar) yang terdaftar dalam antrean.
Baca Juga: Skema Patungan Saham Berujung Denda: OJK Sikat Tukang Goreng Saham IIMPC Rp5,7 Miliar
Sisa 3 perusahaan lainnya masuk dalam kategori aset skala menengah dengan rentang nilai antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar.
3. Sebaran Sektor yang Variatif
Komposisi calon emiten baru tersebar di beberapa sektor strategis. Sektor Basic Materials dan Financials memimpin dengan masing-masing 2 perusahaan.
Sementara itu, sektor Energy, Industrials, Consumer Non-Cyclicals, serta Transportation & Logistics masing-masing menyumbang 1 kandidat perusahaan.
4. Absensi Sektor Teknologi dan Properti
Hingga akhir Februari 2026, beberapa sektor terpantau masih absen dalam daftar antrean IPO. Sektor-sektor tersebut meliputi Technology, Properties & Real Estate, Healthcare, Infrastructures, serta Consumer Cyclicals.
Berita Terkait
-
Profil PT Indospring Tbk, Ini Sosok Pemiliknya
-
OJK Tabuh Genderang Perang! Influencer Saham 'Nakal' Terancam Sanksi Berat
-
IHSG Meroket di Awal Pekan ke Level 8.300, 484 Saham Cuan
-
Peta Baru Industri EV: BEI Jadi Gelanggang Adu Kuat Raksasa Nikel Global
-
7 Fakta Penting di Balik Proses Demutualisasi Bursa Efek Indonesia
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Dicopot Dedi Mulyadi Gegara KTP, Segini Fantastisnya Gaji Kepala Samsat Soekarno-Hatta!
- Intip Kekayaan Ida Hamidah, Pimpinan Samsat Soetta yang Dicopot Dedi Mulyadi gara-gara Pajak
- 7 Tablet Rp2 Jutaan SIM Card Pengganti Laptop, Spek Tinggi Cocok Buat Editing Video
Pilihan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
Terkini
-
Importir Sepakat Jaga Harga Kedelai Rp11.500/Kg untuk Pengrajin Tahu Tempe
-
Bank Dunia: Danantara Kunci Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di 2027
-
RI Ekspor Ribuan Ton Klinker ke Afrika
-
Purbaya Klaim Pertumbuhan Ekonomi RI Triwulan Pertama Tinggi Bukan Karena Lebaran
-
Transaksi E-Commerce Tembus Rp96,7 Triliun, Live Streaming Jadi Sumber Pendapatan Baru Warga RI
-
Hadapi Musim Kemarau Panjang, Menteri PU Mau Penuhi Isi Bendungan
-
BRI Buka Layanan Money Changer, Tukar Riyal Jadi Lebih Praktis untuk Jamaah Haji
-
Purbaya Turun Tangan Atasi Proyek KEK Galang Batang, Investasi Rp 120 T Terancam Batal
-
Pengusaha Konstruksi Ngeluh Beban Operasional Naik 8% Gegara Harga BBM dan Material
-
Gelar RUPST, BRI Setujui Dividen Tunai Rp52,1 Triliun dan Perkuat Fundamental Kinerja