Suara.com - Nama Joseph Oetomo mendadak menjadi sorotan publik dan pembicaraan hangat di industri kehutanan Indonesia.
Namanya mencuat seiring dengan transisi kepemilikan saham besar-besaran di PT Toba Pulp Lestari Tbk (TPL), sebuah perusahaan produsen pulp (bubur kertas) raksasa yang beroperasi di wilayah Sumatera Utara.
Keterlibatan Joseph Oetomo menjadi menarik perhatian karena terjadi di tengah gelombang kritik dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) dan masyarakat adat terkait dampak ekologis operasional perusahaan di kawasan Danau Toba.
Transisi Kepemilikan dari Sukanto Tanoto ke Joseph Oetomo
Selama bertahun-tahun, PT Toba Pulp Lestari identik dengan konglomerat Sukanto Tanoto melalui grup Royal Golden Eagle (RGE). Namun, data terbaru menunjukkan adanya pergeseran dominasi kepemilikan.
Berdasarkan dokumen resmi dari Bursa Efek Indonesia (BEI), Joseph Oetomo kini memegang kendali atas 92,46% saham TPL.
Langkah strategis ini dilakukan melalui transaksi tidak langsung pada Januari 2024. Joseph, melalui perusahaan Pinnacle Company Pte. Ltd., mengakuisisi sekitar 1,28 miliar lembar saham yang kemudian dialihkan ke Allied Hill Limited, sebuah perusahaan yang berbasis di Hong Kong.
Secara struktur korporasi, Joseph merupakan pemilik tunggal dari Everpro Investments Limited yang berkedudukan di Samoa, yang membawahi Allied Hill Limited tersebut.
Profil Singkat Joseph Oetomo
Baca Juga: Maarten Paes Gagal Debut di Ajax Akhir Pekan Ini, Ada Apa?
Meski mengendalikan salah satu perusahaan industri terbesar di Sumatera Utara, sosok Joseph Oetomo tergolong "low profile" dan minim informasi pribadi di ruang publik. Berikut adalah beberapa poin penting mengenai latar belakangnya:
- Kewarganegaraan: Joseph Oetomo tercatat sebagai warga negara Singapura.
- Koneksi dengan Raja Garuda Mas: Joseph diketahui menjabat sebagai Direktur di Raja Garuda Mas (nama lama dari grup Royal Golden Eagle milik Sukanto Tanoto).
- Keahlian Industri: Berdasarkan informasi dari unggahan media sosial Duta Besar RI untuk Singapura, Joseph memiliki pemahaman mendalam mengenai hilirisasi industri. Ia menguasai detail produk turunan minyak kelapa sawit serta pengolahan pulp menjadi rayon sebagai bahan baku tekstil.
Di Tengah Pusaran Konflik Lingkungan
Kepemimpinan Joseph Oetomo di TPL tidak lepas dari tantangan besar. Saat ini, perusahaan tengah menghadapi tudingan serius dari WALHI dan komunitas adat.
TPL dianggap sebagai salah satu penyebab bencana ekologis seperti banjir dan tanah longsor di Sumatera Utara akibat aktivitas pembukaan hutan dan penanaman pohon eucalyptus.
WALHI berargumen bahwa perubahan tutupan hutan dalam skala besar telah melemahkan daya dukung lingkungan di kawasan Danau Toba.
Di sisi lain, pihak TPL melalui sekretaris perusahaan, Anwar Lawden, membantah keras tudingan tersebut. Mereka menyatakan bahwa operasional perusahaan telah sesuai dengan izin pemerintah dan lulus audit lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Berita Terkait
-
Karier Alex Noerdin: Dari Anak Tentara Hingga Gubernur Sumsel
-
Profil PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK), Saham yang 'Banting Stir'
-
Profil Tiyo Ardianto, Ketua BEM UGM yang Kritik Pemerintahan Prabowo-Gibran 'Rezim Bodoh'
-
Perjalanan Karier Eric Dane, Bintang Greys Anatomy yang Meninggal Akibat ALS
-
Siapa Bude Wellness? Influencer Anti-Vaksin Viral Hina Dokter Suka Main Tuhan-tuhanan
Terpopuler
- 5 Cushion Terbaik dan Tahan Lama untuk Kondangan, Makeup Flawless Seharian
- 5 Sepeda Lipat Murah Kuat Angkut Beban hingga 100 Kg: Anti Ringkih dan Praktis
- 5 Body Lotion untuk Memutihkan Kulit, Harga di Bawah Rp30 Ribu
- 5 HP Infinix Kamera Bagus dan RAM Besar, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- 5 HP Samsung Kamera Bagus dan RAM Besar, Pas buat Multitasking
Pilihan
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
Terkini
-
Riset Danareksa: Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh di Kuartal I, Ditopang Konsumsi Rumah Tangga
-
Telkom dan PGN Perkuat Ekosistem Green Digital Infrastructure Terintegrasi Bersama Mitra Global
-
ADB Proyeksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,2 Persen di 2026
-
Penerimaan Pajak dari MBG Cuma 3-5 Persen, Setara Rp 10,05 T hingga Rp 16,75 T
-
Toko Online Dibanjiri Produk China, Purbaya Mau Tarik Pajak E-commerce Pertengahan 2026
-
Negosiasi Buntu, Iran ke AS: Rasakan Harga Bensin Kalian!
-
Komitmen Nyata BRI Group, Sinergi Holding UMi Perkuat Fondasi Ekonomi Masyarakat
-
Purbaya Kesal Restitusi Pajak 2025 Tembus Rp 360 Triliun, Duga Ada Kebocoran
-
OJK Sebut Banyak Orang Mulai Malas Bayar Cicilan Pindar
-
Karpet Merah Family Office di Bali: Ambisi Prabowo, Warisan Luhut, dan Kiblat Abu Dhabi