- Wamen ESDM Yuliot Tanjung menanggapi krisis batu bara PLTU yang mengancam ketahanan listrik nasional Indonesia.
- Kementerian ESDM berkoordinasi dengan PLN mendata PLTU mendesak untuk memastikan terpenuhinya kuota DMO 30 persen.
- Masalah utama fokus pada kelancaran distribusi batu bara dari tambang ke PLTU agar cadangan energi terjaga.
Suara.com - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, angkat bicara mengenai krisis batu bara di sejumlah pembangkit listrik tenaga batubara (PLTU) yang mengancam ketahanan listrik nasional.
Hal tersebut terjadi di tengah rencana pemerintah memangkas produksi batubara, dan belum diterbitkannya Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026.
Yuliot mengatakan telah berkoordinasi dengan PLN untuk mendata pembangkit-pembangkit yang mengalami kekurangan batu bara.
"Ini agar PLN itu menyampaikan, itu pembangkit-pembangkit mana yang urgent dan juga untuk kebutuhan tersebut," ujarnya saat ditemui wartawan di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta pada Jumat (27/2/2026).
Yuliot menyampaikan bahwa kuota kewajiban pemenuhan dalam negeri atau Domestic Market Obligation (DMO) telah ditetapkan sekitar 30 persen dari total produksi untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik di dalam negeri.
"Jadi, secara kebutuhan itu seharusnya mencukupi," kata Yuliot.
Dia menyebut bahwa inti permasalahannya terletak pada kelancaran distribusi dari lokasi tambang ke pembangkit agar sesuai dengan kebutuhan. Dia memberi contoh bahwa setiap pembangkit memiliki standar cadangan energi primer minimal untuk 20 hari.
"Jadi, kalau sudah berkurang dari 20 hari, bagaimana sistem order ini disampaikan, dan juga berdasarkan RKAB yang ada itu juga nanti akan dilihat. Dan dalam ini proses pengadaan itu jangan sampai itu terjadi keterlambatan," ujarnya.
Yuliot memastikan bahwa ketersediaan listrik nasional menjadi perhatian utama Kementerian ESDM.
Baca Juga: ESDM Lobi-lobi AS Agar Sel Paner Surya RI Tak Kena Bea Masuk 104%
"Pak Menteri pun itu menjadi konsen beliau, itu jangan sampai ini pembangkit di dalam negeri energi primernya itu ada terganggu," katanya.
"Energi primer kan bukan hanya batubara tetapi juga yang terkait dengan ketersediaan LNG bagi pembangkit dan juga yang disalurkan melalui gas pipa itu juga menjadi prioritas kami," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
Setoran Pajak Kripto Tembus Rp1,93 Triliun, PMK Baru Jadi Angin Segar Exchange Lokal
-
Kemenperin Bantah Industri Tahan Produksi Usai Kesepakatan Tarif RI-AS
-
Pemerintah Akan Atur Status Karyawan PKWT dan Outsourcing di UU Ketenagakerjaan Baru
-
Pemerintah Gandeng AS Kembangkan Ekosistem Semikonduktor, Potensi Investasi Rp 530 Triliun
-
Program Pelatihan Vokasi Nasional 2026 Dibuka, Dapat Uang Saku hingga JKK-JKM
-
Bank Emas Pegadaian Genap Berusia Satu Tahun, Bertekad Menata Masa Depan Investasi Emas Indonesia
-
YBM PLN Salurkan 45 Ribu Paket Bingkisan, Berbagi Berkah Sepanjang Ramadan 1447 H
-
Kisruh Beasiswa LPDP, Waktunya Evaluasi Sistem?
-
Airlangga Pastikan Tarif Dagang Indonesia dan AS Turun ke 15 Persen, Berlaku 90 Hari
-
ESDM Lobi-lobi AS Agar Sel Paner Surya RI Tak Kena Bea Masuk 104%