Bisnis / Makro
Selasa, 03 Maret 2026 | 16:22 WIB
Ilustrasi BBM (unsplash)
Baca 10 detik
  • Pemerintah masih memantau dampak konflik Iran-AS-Israel terhadap kebijakan dan harga BBM dalam negeri.
  • Keputusan terkait harga BBM dan LPG bersubsidi bergantung pada eskalasi serta durasi perang yang terjadi.
  • Menko Perekonomian memastikan stok BBM saat ini tetap aman meskipun ketegangan geopolitik global meningkat.

Suara.com - Pemerintah belum bisa memastikan dampak konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) maupun kebijakan energi dalam negeri. 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan pemerintah masih memantau perkembangan situasi perang yang baru berlangsung beberapa hari terakhir.

Saat ditanya mengenai potensi kenaikan harga BBM dan LPG subsidi, Airlangga menegaskan keputusan akan sangat bergantung pada eskalasi konflik.

“Ya kita lihat berapa jauh perangnya dan berapa harga BBM,” ujar Airlangga di Kantor Kemenko Perekonomian, Selasa (3/3/2026).

Ia menjelaskan langkah antisipasi pemerintah tidak bisa diputuskan secara tergesa-gesa karena durasi dan skala perang belum dapat dipastikan.

“Antisipasi kan tergantung dari situasi perang. Ini perang seperti Ukraina yang lama atau perang yang singkat,” katanya.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menaker Yassierli. [Dok. Kemenko Perekonomian]

Meski ketegangan global meningkat, Airlangga memastikan stok BBM sejauh ini tetap dalam keadaan aman.

“(stok) kita tetap aman. Ya,” ucapnya.

Namun demikian, pemerintah belum mengambil keputusan terkait penyesuaian harga energi bersubsidi.

Baca Juga: Tak Boleh Dicicil, Pemerintah Perkirakan THR Perusahaan Swasta Tembus Rp124 Triliun

“Ya kita monitor dulu. Ya, kita monitor,” ujarnya lagi.

Selain itu, Airlangga juga menyinggung adanya kerja sama yang telah dijalin oleh Pertamina dengan sejumlah perusahaan di tengah kekhawatiran situasi geopolitik.

“Kan sudah ada MoU Pertamina dengan beberapa perusahaan,” pungkasnya.

Load More