- OJK telah menutup empat BPR di awal 2026; hal ini disebabkan permodalan terbatas, tata kelola lemah, dan persaingan ketat.
- Penutupan BPR tersebut merupakan masalah mikro institusional dan konsolidasi industri, bukan kegagalan sistemik perbankan nasional.
- Analisis menyarankan BPR perlu konsolidasi, penguatan modal, perbaikan tata kelola, dan digitalisasi untuk tetap relevan.
Suara.com - Penutupan sejumlah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) pada awal 2026 memunculkan kekhawatiran masyarakat terhadap daya tahan bank-bank kecil di tengah ketatnya persaingan industri keuangan.
Sudah empat BPR yang ditutup oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun ini. Keempatnya adalah BPR Bank Cirebon, BPR Suliki Gunung Emas, BPR Prima Master Bank, dan BPR Kamadana.
Lantas apakah ini pertanda sinyal krisis menghantam bank-bank kecil?
Kegagalan sistemik?
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), M Rizal Taufikurahman, menilai bahwa gelombang penutupan BPR tidak bisa dimaknai sebagai kegagalan sistemik.
“Penutupan beberapa BPR pada awal 2026 memang menimbulkan persepsi bahwa bank kecil semakin sulit bertahan," terang Rizal saat dihubungi Suara.com di Jakarta, Rabu (5/3/2026).
Menurut Rizal, banyak BPR memiliki skala usaha yang sangat kecil dengan permodalan terbatas serta tata kelola yang belum kuat. Konsentrasi kredit pada segmen mikro tertentu juga membuat risiko terpusat.
Hal itu juga diungkapkan oleh Pengamat Perbankan sekaligus Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan. Dia menilai persaingan industri perbankan memang semakin ketat.
“Persaingan semakin tinggi karena jumlah bank banyak dan bisa melayani hingga lini ritel. Belum lagi isu likuiditas dan good corporate governance (GCG) yang harus dijaga dengan baik,” katanya.
Baca Juga: Dirut BPR Jepara Artha Dkk Dapat Duit hingga Biaya Umrah dalam Kasus Kredit Fiktif
Ia mengakui, likuiditas di sejumlah bank memang cenderung mengetat, sementara risiko penyaluran kredit masih relatif tinggi. Kondisi ini membuat bank dengan modal kecil dan rasio kredit bermasalah (NPL) tinggi berada dalam posisi yang lebih rentan.
Persaingan dengan pinjol
Di sisi lain, menurut Rizal, penetrasi bank umum, fintech lending atau pinjol, dan digital banking membuat kompetisi kian tajam karena menawarkan layanan yang lebih efisien dan murah.
Akibatnya, BPR yang tidak mampu memperkuat struktur modal, manajemen risiko, serta melakukan digitalisasi menjadi lebih rentan terhadap tekanan operasional.
"Secara struktural, ini lebih mencerminkan proses konsolidasi dan pembersihan industri perbankan, bukan semata-mata ketidakmampuan bank kecil bersaing,” ujarnya
Likuiditas memadai
Berita Terkait
-
OJK Restui Empat BPR di Priangan Timur Digabungkan, Apa Untungnya?
-
OJK Ungkap Kejahatan di BPR Panca Dana: Kredit Fiktif dan Pencairan Deposito Nasabah
-
OJK Tancap Gas Konsolidasi Bank, Ratusan BPR/S Akan Digabung
-
Ada 7 Bank Bangkrut di Indonesia Sepanjang 2025, Terbaru BPR Bumi Pendawa Raharja
-
Satu Lagi Bank Bangkrut, OJK Cabut Izin Usaha BPR Nagajayaraya Sentrasentosa
Terpopuler
- Terjaring OTT KPK, Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Langsung Dibawa ke Jakarta
- Profil dan Biodata Anis Syarifah Istri Bos HS Meninggal Karena Kecelakaan Moge
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Surabaya
- Rekam Jejak Muhammad Suryo: Pebisnis dari Nol hingga Jadi Bos Rokok HS
- Prabowo-Gibran Beri Penghormatan Terakhir di Pemakaman Try Sutrisno: Momen Khidmat di TMP Kalibata
Pilihan
-
Skandal Saham BEBS Dibongkar OJK: Rp14,5 Triliun Dibekukan, Kantor Mirae Asset Digeledah!
-
Detik-detik Remaja di Makassar Tewas Tertembak, Perwira Polisi Jadi Tersangka
-
100 Hari Jelang Piala Dunia 2026, FIFA Belum Kantongi Izin dari Dewan Kota
-
Nelayan Tanpa Perahu di Sambeng, Menjaga Kali Progo dari Ancaman Tambang Tanah Urug
-
Hasil BRI Super League: Lewat Duel Sengit, Persija Jakarta Harus Puas Ditahan Borneo FC
Terkini
-
RI Raih Nilai Jelek dari Fitch, Airlangga: Ekonomi Dunia Tertekan Perang
-
Danantara Punya Standar Baru Penilaian BUMN, Tak Hanya dari Profit
-
APBN Jadi 'Bemper', Menko Airlangga: MBG Itu Investasi 1 Dolar Menghasilkan 7 Dolar
-
BRI Gelar Silaturahmi Ramadan, Bahas Outlook Ekonomi dan Laba Rp57,1 Triliun
-
Obral 10 Blok Migas Baru, ESDM Rayu Investor Pakai Bagi Hasil Jumbo 50 Persen
-
Ambisi RI Jadi Raja Chip, Airlangga Targetkan 15.000 Talenta Semikonduktor
-
Stok BBM RI Tersedia Hanya 20 Hari Kedepan Imbas Konflik Timteng, Bahlil: Aman Sampai Lebaran!
-
Wujud Swasembada Pangan, Menteri Trenggono Cek Kesiapan Kampung Nelayan Merah Putih di Bantul
-
Nominal BHR Ojol Gojek, Grab, Maxim, dan inDrive 2026: Cek Jadwal Cairnya
-
IHSG Masih Rebound di Sesi I, 630 Saham Meroket