- Mendag Budi Santoso mengonfirmasi adanya gangguan rantai pasok bahan baku impor akibat perang AS-Iran.
- Kemendag akan segera bertemu eksportir untuk mengidentifikasi kendala teknis dan mencari pasar alternatif.
- Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut konflik berpotensi mengganggu distribusi semikonduktor melalui jalur penerbangan.
Suara.com - Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso, mengakui memang ada dampak yang terjadi imbas dari perang antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran. Salah satunya, adanya gangguan pada rantai pasok bahan baku yang diimpor.
Namun, sayangnya, Mendag tidak merinci bahan baku apa saja yang terdampak perang tersebut.
"Kita belum sampai ke situ (bahan baku), tapi yang jelas yang produk-produk menggunakan bahan baku impor bisa saja nanti akan terganggu," ujarnya seperti ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Untuk mengindentifikasi komoditas apa saja yang terganggu, Mendag mau mengumpulkan para eksportir dan importir. Rencananya, ia akan menanyakan masalah apa saja yang dihadapi imbas geopolitik ini.
"Besok kami juga akan bertemu dengan para eksportir untuk membahas masalah yang mereka hadapi. Saya ingin mengetahui secara teknis kendalanya di mana, karena para eksportir juga banyak yang masih mengimpor bahan baku," imbuhnya.
Selain itu, Mendag menyebut, pertemuan dengan para eskportir juga membicarakan soal pasar alternatif yang bisa dimanfaatkan.
"Nah itu yang tadi kami sampaikan. Jika ekspor memang terganggu, maka kita harus mencari pasar alternatif. Itu juga yang akan kami bahas dengan para eksportir dalam pertemuan besok," katanya.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut Perang antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran bisa ganggu rantai pasok semikonduktor, salah satunya Chip.
Ia menjelaskan, distribusi komponen semikonduktor di tingkat global banyak mengandalkan jalur transportasi udara sehingga konflik yang mengganggu lalu lintas penerbangan berisiko menimbulkan gangguan pada rantai pasok.
Baca Juga: Pemerintah Waspada, Perang AS-Iran Berpotensi Ganggu Industri Chip
"Supply chain tentu menjadi tantangan lagi karena sebagian besar daripada semiconductor ini menggunakan airline, pesawat," ujar Airlangga dalam pidatonya pada acara Pembekalan Nasional Talenta Semikonduktor di Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Ia menuturkan, konflik yang terjadi di Timur Tengah saat ini berpotensi mengganggu jalur penerbangan internasional yang selama ini menjadi tulang punggung distribusi komponen teknologi.
"Dan airline sekarang terdistruksi dengan adanya perang di Middle East (Timur Tengah)," ujarnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Menkeu Purbaya Dikabarkan Bakal Dicopot Kamis Hari Ini
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Diperiksa Kejagung, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya Ikut Diciduk
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, 2 Lainnya Dikejar untuk Ditangkap
- 5 HP dengan Kamera Telefoto Terbaik untuk Konten Media Sosial
- 3 HP Murah Samsung Terlaris Global Q1 2026: Mulai Sejutaan, Kamera Sudah OIS
Pilihan
-
Terbukti Korupsi! Immanuel Ebenezer 'Noel' Dijatuhi Hukuman 4,5 Tahun dan Denda Rp200 Juta
-
Purbaya Bantah Kabar Akan Dicopot dari Kursi Menteri Keuangan
-
Menkeu Purbaya Dikabarkan Bakal Dicopot Kamis Hari Ini
-
Wamen Imipas Silmy Karim Ditahan KPK, Terborgol Pakai Rompi Oranye Usai Drama Menyerahkan Diri
-
Mengejutkan! Ini Pesan Terakhir Wamen Imipas Silmy Karim Sebelum Dicari KPK Terkait OTT Imigrasi
Terkini
-
Emas Melesat, Perak Menggila! Ini Pemicu Lonjakan Harga Logam Mulia Hari Ini
-
Bertemu S&P, Purbaya Jelaskan Fondasi Ekonomi Indonesia Masih Kokoh
-
Viral Restoran di Bali Diduga Milik WN Israel, Bagaimana Hukum dan Aturannya?
-
Goldman Sachs Naikkan Target Indeks Pasar Berkembang, Proyeksi Cuan Besar?
-
Jangan Asal Investasi! Kenali Cara Membedakan Pialang Resmi dan Investasi Bodong
-
Day Trading atau Swing Trading? Ini yang Bisa Menguras atau Menyelamatkan Uang Anda
-
Warga Bantah Isu Eksodus di PSN Wanam, Justru Harap Ekonomi dan Lapangan Kerja Makin Tumbuh
-
UU P2SK Resmi Disahkan DPR dan Pemerintah, Ini Rincian 17 Poin Pentingnya
-
Purbaya Bela Danantara usai Diberi Outlook Negatif dari Lembaga Internasional Moody's
-
DSI Berpotensi Dongkrak Devisa dan Stabilkan Rupiah, Tapi Ada Risiko Tumpang Tindih Lembaga