- Rupiah loyo ke Rp16.925 per dolar AS akibat tensi panas Iran-Israel dan lonjakan harga minyak.
- Konflik Timur Tengah dan merosotnya cadangan devisa RI tekan stabilitas Garuda.
- Rupiah melemah 0,12%, sementara peso Filipina jadi mata uang paling anjlok di Asia.
Suara.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih belum mampu keluar dari zona merah pada penutupan perdagangan akhir pekan. Mata uang Garuda terus menunjukkan pelemahan dan tampak tak berdaya menghadapi keperkasaan the greenback.
Mengutip data Bloomberg, Jumat (6/3/2026), rupiah ditutup merosot ke level Rp16.925 per dolar AS. Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 0,12 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level Rp16.905. Sejalan dengan itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) turut mematok posisi Rp16.919 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut memanasnya tensi geopolitik global menjadi faktor utama yang menekan nyali rupiah. Ancaman Iran untuk melanjutkan konfrontasi dengan Israel dan Amerika Serikat membuat pelaku pasar cenderung menjauhi aset berisiko.
"Rupiah kembali melemah terhadap dolar AS di tengah sentimen yang kembali memburuk oleh memanasnya situasi di Timur Tengah," ujar Lukman saat dihubungi Suara.com, Jumat (6/3/2026).
Selain faktor perang, Lukman menyoroti lonjakan harga minyak dunia yang kian membebani neraca perdagangan dan menekan stabilitas nilai tukar. Kekhawatiran investor juga diperparah dengan kondisi cadangan devisa (cadev) Indonesia yang dilaporkan terus menyusut.
"Harga minyak yang kembali naik tinggi dan cadev yang menurun ikut membebani rupiah. Saya yakin BI masih aktif mengintervensi, namun situasi saat ini memang sangat membebani, bukan hanya rupiah, tapi mata uang lainnya juga," tambahnya.
Kondisi mata uang di kawasan Asia terpantau bergerak bervariasi. Peso Filipina menjadi yang paling babak belur dengan koreksi tajam 0,66 persen. Nasib serupa dialami rupee India (-0,09%), ringgit Malaysia (-0,08%), dolar Hong Kong (-0,06%), dan baht Thailand yang terkoreksi tipis 0,01 persen.
Meski demikian, beberapa mata uang masih mampu mencatatkan penguatan. Won Korea Selatan memimpin penguatan di Asia dengan kenaikan 0,77 persen, disusul dolar Singapura (0,23%), yuan China (0,19%), dolar Taiwan (0,1%), dan yen Jepang yang menguat tipis 0,04 persen.
Berita Terkait
Terpopuler
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Surabaya
- Terjaring OTT KPK, Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Langsung Dibawa ke Jakarta
- Profil dan Biodata Anis Syarifah Istri Bos HS Meninggal Karena Kecelakaan Moge
- PP THR dan Gaji 13 Tahun 2026 Diumumkan, Ini Jadwal Cair dan Rincian Lengkapnya
- Selat Hormuz Milik Siapa? Jalur Sempit Banyak Negara Tapi Iran Bisa Buka Tutup Aksesnya
Pilihan
-
Iran Tutup Pintu Negosiasi, Dubes: Kami Bereskan Musuh di Medan Perang
-
Fatwa Ayatollah Ali Khamenei soal Senjata Nuklir: Haram!
-
KPK Ungkap ART Fadia Arafiq Jadi Direktur PT RNB, Diduga Alat Korupsi Rp13,7 Miliar
-
Dua Hari Lalu Dinyatakan Gugur, Eks Presiden Iran Ahmadinejad Masih Hidup
-
Skandal Saham BEBS Dibongkar OJK: Rp14,5 Triliun Dibekukan, Kantor Mirae Asset Digeledah!
Terkini
-
Menteri KKP Targetkan 1.000 Kampung Nelayan Merah Putih di 2026
-
Kolaborasi PLN dan Kementerian Perdagangan Hadirkan SPKLU Ultra Fast Charging
-
THR Pensiunan Cair, Komisaris PT TASPEN Pantau Langsung: Dibayar Full Tanpa Potongan
-
BRIVolution Reignite Perkuat Sumber Pertumbuhan, Laba Perusahaan Anak BRI Group Tembus Rp10,38T
-
Bahlil Sebut Stok BBM Cuma 20 Hari, ESDM Buru-buru Redam Panic Buying: Jangan Menimbun!
-
BRI KPR Hadirkan Ragam Kemudahan untuk Wujudkan Rumah Impian
-
BRIVolution Reignite Dorong Sumber Pertumbuhan, Laba Perusahaan Anak BRI Group Capai Rp10,38 Triliun
-
PMI Manufaktur Ekspansi, tapi Fondasi Konsumsi Rakyat Rapuh
-
Nasib Kelas Menengah: Antara Geliat Ramadan 2026 dan Fondasi Ekonomi yang Keropos
-
Sudah Sentuh 4,7 Persen, Inflasi Gerus Margin Pengembang Properti