Bisnis / Energi
Senin, 09 Maret 2026 | 13:54 WIB
Ilustrasi. Harga minyak mentah di pasar Asia terpantau "kebakaran" dengan lonjakan drastis hingga 30 persen pada perdagangan Senin (9/3/2026). Pemicunya tak lain adalah eskalasi perang yang kian liar antara aliansi Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran. Foto ist.
Baca 10 detik
  • Perang AS-Israel vs Iran picu harga minyak melonjak 30%, sentuh USD 118 per barel.
  • Pasokan dunia terancam usai fasilitas minyak Teheran dibom dan Selat Hormuz diblokade.
  • Analis peringatkan skenario terburuk; inflasi global hantui ekonomi masyarakat.

Suara.com - Kabar buruk menghantam stabilitas ekonomi global di awal pekan ini. Harga minyak mentah di pasar Asia terpantau "kebakaran" dengan lonjakan drastis hingga 30 persen pada perdagangan Senin (9/3/2026).

Level ini menjadi yang tertinggi sejak 2022, sekaligus menjadi sinyal bahaya bagi biaya hidup masyarakat dunia.

Pemicunya tak lain adalah eskalasi perang yang kian liar antara aliansi Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran. Melansir data Investing.com, harga minyak Brent untuk kontrak Mei terbang lebih dari 25 persen hingga menembus USD 117,16 per barel. Lebih ngeri lagi, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) meroket 30 persen ke angka USD 118,82 per barel.

Analis ANZ bahkan mengaku tak berkutik melihat kegilaan pasar saat ini. Situasi di lapangan disebut telah melampaui prediksi paling pesimistis sekalipun.

"Situasi ini melampaui skenario terburuk yang kami perkirakan. Kemungkinan kenaikan harga minyak lebih lanjut sangat tinggi," tulis mereka dalam sebuah catatan yang bernada suram.

Ketegangan mencapai titik didih setelah serangan udara AS-Israel menghantam fasilitas minyak Iran di Teheran dan Provinsi Alborz akhir pekan lalu. Iran pun membalas dengan mencekik Selat Hormuz, jalur nadi yang mengalirkan 20 persen konsumsi minyak dunia. Gangguan ini otomatis memutus rantai pasok global dan memicu kepanikan massal di pasar.

Di tengah kekacauan ini, Presiden AS Donald Trump justru mengeluarkan pernyataan yang dianggap meremehkan beban ekonomi masyarakat. Ia menyebut lonjakan harga ini hanyalah "konsekuensi kecil" demi keamanan global dari ancaman nuklir Iran.

Namun, fakta di lapangan justru berbicara sebaliknya dimana Uni Emirat Arab (UAE) dan Kuwait mulai memangkas produksi karena keterbatasan kapasitas penyimpanan akibat gangguan distribusi, selain itu janji manis Trump soal asuransi maritim dan perlindungan angkatan laut di Selat Hormuz gagal menenangkan investor.

Kondisi ini diprediksi akan segera memicu efek domino, mulai dari lonjakan harga BBM hingga inflasi barang pokok yang akan mencekik daya beli masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Baca Juga: Minyak Dunia Tembus USD 100, Bahlil Cuma Omon-omon Janji Manis BBM Tak Naik?

Load More