- Perang AS-Israel vs Iran picu harga minyak melonjak 30%, sentuh USD 118 per barel.
- Pasokan dunia terancam usai fasilitas minyak Teheran dibom dan Selat Hormuz diblokade.
- Analis peringatkan skenario terburuk; inflasi global hantui ekonomi masyarakat.
Suara.com - Kabar buruk menghantam stabilitas ekonomi global di awal pekan ini. Harga minyak mentah di pasar Asia terpantau "kebakaran" dengan lonjakan drastis hingga 30 persen pada perdagangan Senin (9/3/2026).
Level ini menjadi yang tertinggi sejak 2022, sekaligus menjadi sinyal bahaya bagi biaya hidup masyarakat dunia.
Pemicunya tak lain adalah eskalasi perang yang kian liar antara aliansi Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran. Melansir data Investing.com, harga minyak Brent untuk kontrak Mei terbang lebih dari 25 persen hingga menembus USD 117,16 per barel. Lebih ngeri lagi, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) meroket 30 persen ke angka USD 118,82 per barel.
Analis ANZ bahkan mengaku tak berkutik melihat kegilaan pasar saat ini. Situasi di lapangan disebut telah melampaui prediksi paling pesimistis sekalipun.
"Situasi ini melampaui skenario terburuk yang kami perkirakan. Kemungkinan kenaikan harga minyak lebih lanjut sangat tinggi," tulis mereka dalam sebuah catatan yang bernada suram.
Ketegangan mencapai titik didih setelah serangan udara AS-Israel menghantam fasilitas minyak Iran di Teheran dan Provinsi Alborz akhir pekan lalu. Iran pun membalas dengan mencekik Selat Hormuz, jalur nadi yang mengalirkan 20 persen konsumsi minyak dunia. Gangguan ini otomatis memutus rantai pasok global dan memicu kepanikan massal di pasar.
Di tengah kekacauan ini, Presiden AS Donald Trump justru mengeluarkan pernyataan yang dianggap meremehkan beban ekonomi masyarakat. Ia menyebut lonjakan harga ini hanyalah "konsekuensi kecil" demi keamanan global dari ancaman nuklir Iran.
Namun, fakta di lapangan justru berbicara sebaliknya dimana Uni Emirat Arab (UAE) dan Kuwait mulai memangkas produksi karena keterbatasan kapasitas penyimpanan akibat gangguan distribusi, selain itu janji manis Trump soal asuransi maritim dan perlindungan angkatan laut di Selat Hormuz gagal menenangkan investor.
Kondisi ini diprediksi akan segera memicu efek domino, mulai dari lonjakan harga BBM hingga inflasi barang pokok yang akan mencekik daya beli masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Baca Juga: Minyak Dunia Tembus USD 100, Bahlil Cuma Omon-omon Janji Manis BBM Tak Naik?
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Media Italia Bongkar Ada Kontrak Lebih dari Rp25 T di Balik Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- 10 Simbol Feng Shui di Rumah Old Money yang Dipercaya Membawa Kemakmuran
Pilihan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
Terkini
-
PKB Soroti Ketimpangan Anggaran Pendidikan, Ijtima Ulama Desak Keadilan untuk Pesantren
-
Dari Tanggal Gajian hingga Destinasi Dekat, Ini 5 Tren Liburan Wisatawan Asia Tenggara 2026
-
Stefan Keeltjes Apresiasi Kondisi Fisik Pemain Kendal Tornado FC dalam Dua Pekan Latihan
-
Krisis Kompetensi BGN: Pertaruhan Gizi Anak di Bawah Bayang-bayang Politik
-
Sambut Hari Anak Nasional 2026, BRI Peduli Dukung Pendidikan Lewat Program Ini Sekolahku
-
Pengamat Soroti Penggeledahan Rumah Febrie Adriansyah: Ini Praktik Fishing Expedition
-
Karim Adeyemi Tinggalkan Dortmund, Resmi Bergabung dengan Barcelona
-
Purbaya Bingung Jakarta Bikin Obligasi Daerah: Buat Apa? Kan Uangnya Banyak?
-
Baru Diangkat Jadi PPPK, Empat ASN Palembang Dipecat usai Absen Kerja Lebih dari 100 Hari
-
Tak Mau Ada Korupsi dari Investasi, 12 Entitas BUMN Asuransi Dibuang