- Menteri ESDM jamin stok BBM aman dan minta warga tak panic buying meski ada konflik Timur Tengah.
- Harga BBM subsidi dipastikan tidak naik hingga Hari Raya Idulfitri 2026.
- Harga minyak dunia terbang ke level USD 118 per barel akibat penutupan Selat Hormuz.
Suara.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengimbau masyarakat untuk tetap tenang di tengah memanasnya eskalasi konflik di Timur Tengah. Ia memastikan stok Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional dalam kondisi aman dan mencukupi kebutuhan domestik.
Bahlil menegaskan, masyarakat tidak perlu melakukan aksi borong atau panic buying. Pasalnya, pemerintah telah melakukan mitigasi untuk menjaga pasokan, terutama menjelang momentum krusial Ramadan dan Lebaran.
"Sebenarnya enggak perlu ada (panic buying). Pasokan enggak ada masalah. Untuk puasa dan Hari Raya Idulfitri semuanya terjamin, enggak ada masalah," tegas Bahlil saat ditemui awak media di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (9/3/2026).
Meski tensi geopolitik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran pada akhir Februari lalu telah memicu lonjakan harga minyak mentah dunia, Bahlil membawa kabar baik bagi kantong rakyat. Ia memastikan harga BBM subsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga Hari Raya Idulfitri mendatang.
Mantan Kepala BKPM ini menyadari kekhawatiran publik mengingat harga minyak global sempat menyentuh angka USD 100 per barel. Namun, ia menjamin pemerintah tetap menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen.
"Tapi sekali lagi saya pastikan agar masyarakat tidak usah merasa gimana menyangkut dengan harga. Karena sampai dengan Hari Raya ini Insya Allah, enggak ada kenaikan harga BBM untuk subsidi," imbuhnya.
Lonjakan harga ini bukan tanpa alasan. Ketegangan semakin meruncing setelah Iran memutuskan menutup Selat Hormuz, jalur vital yang melayani sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Berdasarkan data perdagangan Senin (9/3), pasar minyak dunia bergerak liar dimana minyak brent naik lebih dari 25% hingga menembus USD 117,16 per barel, sementara minyak WTI melesat drastis 30% ke level tertinggi harian USD 118,82 per barel.
Pemerintah terus memantau pergerakan pasar global ini secara ketat untuk memastikan ketahanan energi nasional tetap kokoh di tengah badai geopolitik.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- 5 Parfum Indomaret dengan Wangi Segar Tahan Lama, Cocok Dipakai saat Cuaca Panas
- 12 Promo Makanan Hari Kartini 2026, Diskon Melimpah untuk Rayakan Momen Spesial
Pilihan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
-
Merantau ke Kota Kecil, Danu Tetap Sulit Cari Kerja: Sampai Melamar Pawang Satwa
-
Purbaya Copot Febrio dan Luky dari Dirjen Kemenkeu
Terkini
-
BP Batam 'Ngebut' di 2026: Investasi Tembus Rp17,4 Triliun, Sektor Elektronik Jadi Jawara
-
7 Hari Menuju Ambang Batas: Trump di Ujung Tanduk, Kongres Beri 'Cek Kosong' Perang?
-
Lewat Kartini BISA Fest, Telkom Perkuat Peran Perempuan di Era Digital
-
Babak Akhir Utang 'Whoosh', RI Siap Sodorkan Skema Restrukturisasi ke China
-
Pemerintah Gunakan Cara Baru Pantau BBM Subsidi Agar Tak Bocor
-
Pengguna Aktif GoPay Tembus 26 Juta
-
Danantara Umbar Biang Kerok Kinerja Garuda Indonesia Masih Seret
-
Pegang 42 Persen Cadangan Dunia, Nikel Masih Jadi 'Raja' Investasi Hilirisasi RI
-
Jumlah BUMN Dipangkas Jadi Hanya 300, Begini Klaster-klasternya
-
Pemerintah Diminta Tak Wajibkan Penggunaan Dolar AS untuk Transaksi Batu Bara DMO