Bisnis / Makro
Senin, 09 Maret 2026 | 19:50 WIB
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa saat sidak di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (9/3/2026). [Instagram @menkeuri]
Baca 10 detik
  • Rupiah melemah hingga Rp17.000 dan IHSG anjlok ke 7.337 pada Senin (9/3/2026) akibat isu distribusi minyak global.
  • Menkeu Purbaya membantah prediksi ekonom tentang resesi dan daya beli hancur saat sidak di Tanah Abang.
  • Purbaya mengklaim ekonomi Indonesia membaik dan pemerintah akan menyerap kenaikan harga minyak melalui APBN.

Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi soal fenomena mata uang Rupiah lemah hingga Rp 17 ribu sampai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok 3,27 persen ke 7.337 pada Senin (9/3/2026).

Menkeu Purbaya menuduh para ekonom soal kondisi ekonomi lemah, di mana ia menyinggung pakar yang mengatakan Indonesia masuk masa resesi ala 1998 hingga daya beli hancur. 

"Rupiah Rp 17.000, IHSG anjlok, karena sebagian teman-teman ekonom bilang katanya kita sudah resesi, 1998 lagi, ya gitulah. Daya beli sudah hancur. Tidak seperti itu," kata Purbaya di Kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (9/3/2026).

Diketahui pergerakan nilai tukar rupiah terus melanjutkan pelemahan pada penutupan Senin, 9 Maret 2026. Bahkan mata uang Garuda sempat tembus ke level Rp 17.017 pada pembukaan pagi tadi. 

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar Spot ditutup Rp 16.949 per dolar Amerika Serikat (AS).

Sementara itu IHSG ditutup turun 3,27 persen ke level 7.337, setelah sempat menyentuh level terendah 7.156 pada perdagangan hari ini. Phintraco Sekuritas menjelaskan pelemahan pasar dipicu oleh penutupan Selat Hormuz yang berdampak pada distribusi minyak global. 

Kondisi tersebut membuat produsen minyak di Timur Tengah mengurangi produksi karena keterbatasan penyimpanan akibat terganggunya pengiriman ke pelanggan.

Dalam inspeksi mendadak (sidak) ke Pasar Tanah Abang, Purbaya ingin membuktikan soal prediksi ekonom yang menyebut Indonesia masuk masa resesi karena kenaikan harga minyak akibat konflik geopolitik Amerika Serikat, Israel, dan Iran di Timur Tengah.

"Jadi kan banyak ekonom-ekonom yang bilang kita sudah resesi, daya beli sudah hancur, pasar sepi hancur, enggak ada yang datang," kata Purbaya di Kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (9/3/2025).

Baca Juga: IHSG Keok 3,27 Persen Terimbas Konflik Iran-AS, Bos BEI: Kita Sudah Kuat!

Purbaya mengklaim kalau berdasarkan data yang dimiliki Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan (Kemenkeu), kondisi ekonomi Indonesia justru sedang membaik. Saat mendatangi Tanah Abang, ia mengklaim kalau prediksi ekonom salah. 

"Saya pengin cek, karena kalau dari data-data kita, ekonomi lagi bagus. Harusnya kan di Tanah Abang segala macam ada pembelinya. Saya mau cek itu saja, betul atau enggak, ternyata betul. Daya beli masih ada, orang masih belanja, pasar juga masih ramai," beber Purbaya.

Bendahara Negara lalu menegaskan kalau Indonesia tidak memasuki masa resesi maupun krisis ekonomi karena kenaikan harga minyak akibat konflik geopolitik. Ia juga memastikan publik tidak pantik karena Pemerintah bakal melakukan upaya semakimal mungkin.

"Kalau saya datang, tiba-tiba banyak orang ngumpul, artinya sekiranya kita kan banyak orang yang lagi belanja. Artinya daya beli masyarakat sepertinya sedang baik, dan kita tidak resesi. Apalagi dari krisis, kita jauh dari krisis. Jadi, ekonomi kan sedang bagus, teman-teman enggak usah takut. Nanti kalau harga minyak dunia naik pun, kita akan coba absorb lewat APBN, dan kita akan mengendalikan semaksimal mungkin," jelasnya.

Load More