- Kepala Ekonom Permata Bank memprediksi rupiah melemah karena ketidakpastian politik Iran pasca pergantian pemimpin.
- Bank Indonesia telah melakukan stabilisasi pasar untuk meredam gejolak pelemahan rupiah akibat tekanan eksternal.
- Cadangan devisa Indonesia yang kuat dapat menjadi bantalan, namun efektivitasnya bergantung meredanya ketegangan geopolitik global.
Suara.com - Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai nilai tukar rupiah masih berpotensi berada di level lemah seperti saat ini, bahkan bisa mengalami pelemahan lebih lanjut apabila konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel terus berlanjut.
Menurutnya, dinamika politik di Iran justru menambah ketidakpastian di pasar global. Proses pergantian kepemimpinan yang berlangsung di tengah situasi perang dinilai membuat kondisi politik domestik Iran semakin kompleks.
Selain itu, elite politik di negara tersebut disebut sedang mengalami perpecahan, sementara sosok yang menguat dalam suksesi kepemimpinan adalah Mojtaba Khamenei yang dikenal dekat dengan Garda Revolusi Iran dan dipandang memiliki sikap lebih keras.
“Dalam keadaan seperti ini, pasar cenderung mempertahankan permintaan dolar AS dan mengurangi penempatan dana di negara berkembang, sehingga rupiah sulit pulih cepat,” kata Josua.
Rupiah Sempat Mendekati Rp17.000 per Dolar AS
Pada perdagangan Senin, nilai tukar rupiah sempat menyentuh level Rp16.949 per dolar AS. Pergerakan tersebut terjadi bersamaan dengan lonjakan harga minyak dunia yang menembus angka 100 dolar AS per barel.
Kondisi tersebut menunjukkan tekanan eksternal terhadap mata uang negara berkembang masih cukup kuat, terutama akibat meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Josua menilai langkah stabilisasi yang dilakukan oleh Bank Indonesia sejauh ini cukup penting untuk meredam gejolak pasar agar pelemahan rupiah tidak terjadi secara tidak terkendali.
Namun demikian, ia menilai kebijakan tersebut belum tentu mampu membalikkan arah pergerakan rupiah selama faktor utama tekanan masih berasal dari konflik geopolitik, lonjakan harga minyak, serta arus modal global.
Baca Juga: Tiga Kali Dikhianati? Ini Kronologi Retaknya Diplomasi ASIran
Sebelumnya, Bank Indonesia pada Februari lalu memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen dengan fokus utama menjaga stabilitas nilai tukar. Selain itu, bank sentral juga memperkuat intervensi baik di pasar domestik maupun pasar luar negeri.
“Artinya, kebijakan Bank Indonesia saat ini lebih tepat dibaca sebagai upaya meredam kepanikan dan smoothing pergerakannya, bukan menjamin rupiah segera kembali menguat,” katanya.
Cadangan Devisa Masih Jadi Bantalan
Dari sisi fundamental, Josua menilai Indonesia masih memiliki ruang yang cukup untuk menjaga stabilitas pasar melalui cadangan devisa.
Hingga akhir Februari 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar 151,9 miliar dolar AS atau setara dengan pembiayaan impor selama sekitar 6,1 bulan.
“Namun penggunaan cadangan devisa perlu tetap terukur, karena fungsinya adalah meredam gejolak dan menjaga kelancaran kebutuhan valuta asing, bukan mempertahankan satu tingkat kurs tertentu terus-menerus ketika tekanan eksternal masih besar,” ujar Josua.
Berita Terkait
-
Tiga Kali Dikhianati? Ini Kronologi Retaknya Diplomasi ASIran
-
1.300 Warga Sipil dan Anak-anak Tewas, Ribuan Rumah Hancur Akibat Serangan AS-Israel di Iran
-
Takut Pulang ke Tanah Air, 5 Pemain Timnas Putri Iran Dikabarkan Cari Suaka di Australia
-
China akan Lakukan Apa yang Diperlukan untuk Lindungi Keamanan Energi
-
Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Baru Iran, Bagaimana Majelis Khobregan Menentukannya?
Terpopuler
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 10 Simbol Feng Shui di Rumah Old Money yang Dipercaya Membawa Kemakmuran
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
Terkini
-
4 Rekomendasi HP Mid Range Kamera Mirip iPhone, Hasil Foto Tak Kalah Jernih dan Estetik
-
Wisata Candi Plaosan Kian Bergeliat, UMKM Desa Bugisan Raup Kenaikan Pendapatan 31 Persen
-
Panda Bond Perdana dari Purbaya Laris Manis, Dipesan Investor China hingga Rp 45 Triliun
-
BCA Bidik Pertumbuhan Transaksi Digital di Ultah Blok M, Tebar Banyak Promo
-
Hunian Sehat Makin Dilirik, Industri Kini Terapkan Formula Material Ramah Lingkungan
-
Konten Video Pendek dan Live Streaming Bikin Bisnis UMKM Melejit hingga 135%
-
BNI Jelaskan Inisiatif Orang Tua Percepat Aktivasi PIP
-
Anak-Anak Bambu: Ketika Rumah Beralas Bambu Mengajarkan Arti Keluarga
-
Sebelum Jadi Deputi BGN, Ini Warisan Penanganan Kasus Ketut Sumedana di Kejati Sumsel
-
Kawal Kuota Tak Hangus, DPR Wanti-wanti Operator: Jangan Siasati dengan Naikkan Tarif!